<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383</id><updated>2011-12-24T19:43:14.668-08:00</updated><title type='text'>Nyatoreh Maos Artikel Eka'dintoh!</title><subtitle type='html'>Selamat datang di www.thenextmadura.blogspot.com. Laman ini adalah tempatku menuangkan pikiran dan ide atas berbagai fenomena sekitar. Kritik dan saran sangat ditunggu dari khalayak ramai.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>56</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-7584807472218997468</id><published>2011-11-30T21:01:00.000-08:00</published><updated>2011-11-30T21:04:06.717-08:00</updated><title type='text'>Sebuah 'Coretan Sederhana' Tentang Jiwa Toleransi Ulama Kita</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/--AQmVpQ_YeU/TtcKxEW_EQI/AAAAAAAAAF0/nU8ZKvM21jk/s1600/ulama%2Bsalaf.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 144px; height: 142px;" src="http://1.bp.blogspot.com/--AQmVpQ_YeU/TtcKxEW_EQI/AAAAAAAAAF0/nU8ZKvM21jk/s400/ulama%2Bsalaf.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5681021293051187458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Bismillah. Saya mencoba menulis (lagi) ketika ada junior saya bilang ada seseorang yang mencari saya untuk diundang sebagai pembicara tentang tema kebangsaan. Ini pertama kali saya dicari dengan guru 'pasangan' saya, MJ, dalam rangka berbicara sebuah tema yang menjadi 'concern' kami di Kuliah Tjokroaminoto untuk Kebangsaan dan Demokrasi.Menariknya adalah sejak saya bergelut di kuliah ini banyak pihak yang 'menyayangkan' mengapa saya aktif di jenis perkuliahan umum yang bertemakan 'tak jelas'. Entahlah kadang ketika saya tanya jawaban mereka sendiri yang menurut saya 'tak jelas' sendiri. Apakah karena latar belakang saya kemudian saya tabu aktif di kegiatan semacam. Belum lagi, SMS atau pesan masuk via FB yang mengatakan tema yang jadi konsentrasi saya adalah sesuatu yang 'salah' kalau tak mau dikatakan 'haram'. Diskusi panjang lebar terjadi via inbox tersebut (meski saya heran mengapa tak nge-wall saja sehingga penetrasi argumentasi beliau bisa lebih besa. Entahlah!). Menyalahkan demokrasi, nasionalisme dan segala jenis diksi yang bertalian dengannya. (semoga kalimat ini tak 'sensitif' bagi beberapa pembaca. Aamiin!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Baiklah. Katakanlah saya keliru dan salah dalam konteks pengamalan saya terkait 'agama' dan ke'agama'an. Beribu argumentasi diberikan meski terkadang masih berupa katanya dan katanya. Bukankah dalam Islam sendiri, misalnya, ada beragam kitab dengan berbagai dialek meski dengan bahasa yang sama? Bukankah dahulu ada ribuan sahabat yang memiliki ragam perspektif akan 'agama' bahkan saat zaman Nabi sekalipun. Tak pernah kita temukan mereka se'heboh' kita saat ini. Lalu jika kita mengklaim diri kita pengikut beliau mengapa kemudian menjadi lebih 'brutal' daripada para pendahulu kita? Ada beragam kegiatan puritanisme 'agama' tetapi mengapa klaim mengikuti Sang Pencerah tersebut justru 'dinodai' oleh aktivitas yang justru jika kita telaah jauh dari Sang Pencerah? Saya kira jika memakai Sang Pencerah sebagai tauladan terlalu tinggi parameternya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Mari kita selidiki misalnya apa kata dari beberapa Imam besar yang menjadi rujukan mayoritas dari kita tentang interpretasi beliau akan 'agama'. Apakah ada indikasi beliau untuk jumawa dan merasa sudah 'benar' dalam mengartikan 'agama' ini? Imam Syafi'i berkata " Pendapatku benar, tetapi ada kemungkinan pendapat orang lain tidak salah". Bahkan lebih jauh beliau mengatakan, " Apa yang saya tuangkan dalam kitabku tidak semuanya harus kalian ikuti. Yang benar ambil, yang salah tinggalkan. Sementara di tempat lain, Imam besar lainnya, Hanafi, berkata, " Jika yang saya sampaikan itu benar, berarti datangnya dari Allah SWT, tapi bila salah itu datangnya dari setan. Pada riwayat lainnya kita pun bisa menemukan fakta dari Imam Ahmad yang mengatakan, "Ambillah yang benar-benar saja dari pendapatku. Yang kalian ragukan, tinggalkan!". Coba kita perhatikan adakah kesannya dari beliau akan bahwa hanya beliau sahaja yang 'benar'? Silakan telaah sendiri tetapi dalam pandangan saya pribadi tidak ada, malah beliau memberikan kesempatan pihak lain untuk mencari 'kebenaran' yang sama. Beliau adalah 'the open-minded people'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Sekarang kita telaah lebih dalam lagi tentang bagaimana para imam yang dalam melakukan interpretasi 'agama' justru bisa kontradiktif justru hidup dalam suasana toleransi yang agung. Imam Syafi'i justru berkata, "Seluruh manusia di dalam bidang fiqih adalah keluarga Abu Hanifah". Bahkan Imam Syafi'i yang men-sunnahkan do'a qunut dalam sholat subuh TAPI saat shalat di dekat kubur Abu Hanifah, beliau meninggalkan bacaan qunut (Al-Syarani: 213). Bayangkan sholat dekat kubur Imam Hanafi sahaja demi menghormati beliau, Imam Syafi'i tidak memakai qunut, kita malah 'bertengkar' sendiri soal demikian. Dalam riwayat lain misalnya, Imam Malik bin Anas pernah diminta untuk mengajar oleh Al-Walid ibn Muslim di kotanya, Imam malik balik bertanya, " Apakah Abu Hanifah mengajar di negeri kamu?" Kemudian Al-Walid ibn Muslim menjawab, " Ya".Maka Imam Malik berkata, " Jadi di negerimu tidak perlu lagi didiami ulama lain lagi." Bayangkan, betapa antar imam (mahaguru) memiliki penghargaan satu sama lain yang sungguh luar biasa. Tidakkah kita yang mengaku sebagai pengikut ulama tak mampu bersikap sedemikian adanya? Bahkan ada kisah yang lebih menarik dimana Imam Ahmad ibn Hanbal pernah ditanya apakah mau menjadi makmum sholat Imam Malik padahal keduanya berbeda pendapat soal bekam. Imam Ahmad berpendapat bekam membatalkan wudhu sedangkan Imam Malik mengatakan bekam tak membatalkan wudhu. Imam Ahmad yang ditanya justru menjawab dengan jawaban yang sungguh luar biasa. menunjukkan keluhuran budi beliau. Jiwa toleransi yang tinggi. Inilah jawaban Imam Ahmad ibn Hanbal, " Mengapa aku tidak boleh shalat di belakang (menjadi makmum) Malik dan Said ibn al-Musayyih?". (Al-Syawdie: 29)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Mengapa kemudian saya memberikan beberapa fakta sejarah tersebut? Untuk dijadikan sebagai pelajaran penting bahwa klaim benar dan menyalahkan yang lain dimana akhir-akhir ini mulai muncul kembali, adalah perbuatan jelas tak ada landasan sejarahnya dalam khazanah Islam. Perbedaan itu adalah takdir, keniscayaan. mengapa harus diseragamkan? Jangan sampai kita mengklaim diri kita mengikuti 'alim A, 'alim B atau 'alim C atau bahkan ulama lainnya justru setelah diteliti sejarahnya sang 'alim malah memberikan contoh tauladan yang agung tentang menghargai perbedaan pendapat. tentang toleransi. Maka mari kita senantiasa berusaha sedikit demi sedikit kalau memang tak bisa secara revolusioner untuk menghidupkan (kembali) sikap betoleransi. Saya berterima kasih kepada panitia yang mengundang saya untuk menjadi pembicara karena undangan anda membuat saya mampu menulis 'coretan sederhana' ini di tengah kesibukan menulis artikel lain untuk kepentingan pengembangan pembangunan umat yang tengah saya geluti. Untuk mengakhiri 'coretan sederhana' ini, ijinkan saya mengutip sebuah pelajaran penting dari Sang Pencerah yang bertalian dengan tema 'coretan' ini dan semoga bermanfaat. Sebelumnya saya mohon maaf jika ada kesalahan kata atau kalimat yang menyinggung pembaca sekalian. Kebenaran hanya milikNya, kita hanya manusia yang lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       " Dari Abu Hurairah Ra, bahwasanya Rasulullah bersabda, " tahukah kalian apakah "orang yang bangkrut" itu? Para sahabat menjawab, " Orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak punya dirham dan harta kekayaan sama sekali." Maka Rasulullah bersabda, " Sesungguhnya 'orang yang bangkrut' di antara kita adalah sebagian umatku yang membawa pahala shalat, pahala puasa dan pahala zakat pada hari kiamat dan datang membawa dosa, karena mencaci si A, memfitnah si B, memakan harta si C, menumpahkan darah si D dan memukul si E. Lalu dia harus memberikan sebagian pahala kebaikannya kepada si A, si B, si C dan seterusnya, sampai ketika lenyap semua pahalanya belum juga dapat membayar dosa-dosanya. Maka kesalahan (orang-orang yang dizhaliminya itu) dipindahkan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke neraka ". (Shahih Muslim, Kitab al-Birr, wa I-Sillah wa I-Adab).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 Desember 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 10.00 WIB&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-7584807472218997468?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/7584807472218997468/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2011/11/sebuah-coretan-sederhana-tentang-jiwa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/7584807472218997468'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/7584807472218997468'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2011/11/sebuah-coretan-sederhana-tentang-jiwa.html' title='Sebuah &apos;Coretan Sederhana&apos; Tentang Jiwa Toleransi Ulama Kita'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/--AQmVpQ_YeU/TtcKxEW_EQI/AAAAAAAAAF0/nU8ZKvM21jk/s72-c/ulama%2Bsalaf.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-4443550616047795452</id><published>2011-07-27T06:25:00.000-07:00</published><updated>2011-07-27T06:28:13.498-07:00</updated><title type='text'>Digital Divide: Keniscayaan ataukah Konspirasi Terselubung</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Digital Divide: Keniscayaan ataukah Konspirasi Terselubung&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Skolar studi hubungan internasional menyepakati bahwa kehidupan manusia di muka bumi saat ini tengah berada dalam peralihan dari era industri ke era post-industrial. Jika pada era industri, energi merupakan issue sentral, maka pada era pasca-industri, informasi merupakan issue sentral. Sebagaimana energi dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain menggunakan sistem transportasi, maka pertukaran informasi dilakukan melalui sistem komunikasi. Jika peristiwa jatuhnya bom atom (yang merupakan rekayasa energi yang canggih pada masanya) di Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945 merupakan peristiwa bersejarah yang menandai era industri, maka boleh dikatakan bahwa peristiwa World Trade Center 11 September tahun 2001 - yang sarat dengan rekayasa teknologi informasi - merupakan “indikator jaman”  dari era pasca-industri yang sering disebut juga sebagai era informasi. Dalam peristiwa peledakan gedung WTC atau yang lebih dikenal dengan Peristiwa 911 delapan tahun lalu itu, kita menyaksikan bagaimana pesawat-pesawat dari penerbangan sipil komersial telah di-rekayasa dengan teknologi informasi yang sangat canggih menjadi peluru-peluru kendali yang secara akurat telah menghancurkan beberapa sasaran penting di Amerika Serikat, yang belum pernah sebelumnya tersentuh oleh serangan musuh dalam berbagai peperangan yang melibatkan Amerika Serikat. &lt;br /&gt;        Menurut Everett M. Rogers  men-definisikan masyarakat informasi sebagai masyarakat yang sebagian besar warganya bekerja sebagai pekerja informasi, yang memperoleh nafkahnya dari memproduksi, mengolah, menyebarkan informasi dan memproduksi teknologi informasi. Dalam masyarakat informasi dengan definisi demikian mengindikasikan bahwa ada dua aktor besar yang bermain yakni sebagai doers ataukah users, yang berarti ada negara- dalam perspektif hubungan internasional- yang menjadi pemain kunci dan bertindak sebagai produsen yang deterministik dan negara yang berperan sebagai konsumen saja tanpa kemudian memiliki akses bebas terhadap sumber informasi yang menjadi “makanan” pokok masyarakat informasi kekinian. Hal ini tak terlepas dari kronologis historis dimana dunia “seolah” terbagi dalam dua kubu pula yang saling kontradiktif yakni negara dunia ketiga  dan negara maju yang notabene merupakan mantan kolonialis. Sebagai pihak yang lebih dulu mengalami revolusi industri yang kemudian diikuti dengan perkembangan dan kemajuan yang signifikan di sektor teknologi dan informasi, negara eks-kolonialis ini seakan menjelma menjadi pemegang otoritas penuh dalam rangka pengelolaan teknologi dan informasi dunia. Sedangkan “kolega”nya- negara berkembang- hanya sekedar “babu” yang harus tunduk pada segala peraturan dan perintah sang “majikan”. &lt;br /&gt;          Jika konstelasi global sedemikian rupa di tengah gaung demokrasi dan egalitarianisme yang dikampanyekan sang mantan kolonialis tersebut apakah kemudian realitas doers bagi negara maju dan users untuk negara berkembang adalah suatu keniscayaan, mitos dan doktrin yang tak bisa dirubah ataukah sekedar konspirasi besar para mantan kolonialis untuk tidak serta merta “keluar” dari bekas negara jajahan mereka itu. Dalam konstruksi pemikiran Neo-Marxian  maka itu tak lebih dari sekedar upaya pemanfaatan sedemikian rupa sehingga ketergantungan negara berkembang yang hanya sekedar menjadi users merupakan sebuah kesengajaan sehingga “kontrol” tetap ada di pihak negara maju. Maka untuk merubah konstelasi agen-struktur ala kaum Marxis ini maka diperlukan “revolusi”  guna “memaksa” pihak doers merekonstruksi pola-pola dan daya akses terhadap sumber informasi ke arah yang lebih adil dan berimbang. Contoh nyata hingga detik ini yang masih menjangkiti hingga sekarang adalah seperti penggunaan akses foto-foto publik dan berita breaking news dunia yang disiarkan negara berkembang hanyalah “turunan” atau derivasi dari negara maju yang notabene bertindak sebagai penyuplai informasi. Pun juga dalam proses pengembangan teknologi terbarukan yang kemudian menjadi rezim yang seolah-olah merupakan keniscayaan yang harus diterima. Kemunculan rezim NPT (Non-proliferation Treaty) yang hanya mengijinkan 5 negara besar  yang diperbolehkan memiliki dan mengembangkan teknologi nuklir. Sebagai contoh kasus negara berkembang seperti Iran dan Korea Utara seolah menjadi “pesakitan internasional” dan digiring untuk menjadi musuh bersama oleh negara-negara pemilik akses teknologi nuklir untuk menghentikan program pengayaan nuklir mereka. Bahkan hingga tulisan ini muncul, diplomasi dan negosiasi tingkat tinggi antara negara-negara di dunia tengah berlangsung. Apakah ini merupakan keniscayaan ataukah sekedar mitos bahwa semua negara dalam tataran realitas justru mampu berdiri sejajar tetapi “tekanan rezim internasional” yang direkayasa sedemikian rupa sehingga mindset yang berkembang kemampuan itu hanya ada pada mereka negara maju. Ini merupakan sebuah kalimat retoris yang tak perlu dijawab akan tetapi menjadi pegangan dan kepercayaan baru bagaimana dunia dikonstelasikan atau dikonstruksi sedemikian. &lt;br /&gt;         Menutup tulisan ini, upaya untuk menjadi doers ataukah users bukanlah myth tetapi merupakan pilihan dan pilihan itu terbuka untuk siapa saja sehingga bukanlah keniscayaan yang terjadi tetapi konspirasi besar yang disengaja dan untuk keluar dari semuanya juga merupakan pilihan. Sebagaimana dalam upaya menghadapi perang inkonvensional  seperti ini di era informasi global, seorang penulis terkenal bernama Noam Chomsky  mengusulkan untuk dikembangkannya “intellectual self defence”, sehingga setiap warganegara dan anggota masyarakat tidak mudah terpengaruh dengan segala bentuk propaganda, indoktrinasi, retorika, provokasi, hasutan, dan berbagai jenis “senjata” lainnya dalam perang informasi. Dengan demikian akan berkembang kemerdekaan berfikir, kehidupan masyarakat yang demokratis, cerdas dan tangguh dalam menghadapi berbagai modus serangan informasi global. Dalam berbagai persoalan, setiap warganegara dan anggota masyarakat, baik secara individual mau pun secara kolektif, akan terbiasa dengan cara berfikir yang rasional-obyektif dan kritis-analitis, sehingga tidak mudah termakan oleh issue, senantiasa tidak pernah kehilangan baik detail dari suatu peristiwa mau pun “the big picture”-nya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-4443550616047795452?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/4443550616047795452/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2011/07/digital-divide-keniscayaan-ataukah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/4443550616047795452'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/4443550616047795452'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2011/07/digital-divide-keniscayaan-ataukah.html' title='Digital Divide: Keniscayaan ataukah Konspirasi Terselubung'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-9088487424249449995</id><published>2011-07-27T06:19:00.000-07:00</published><updated>2011-07-27T06:21:01.733-07:00</updated><title type='text'>Mari (Umat Islam) Belajar dengan Sejarah!</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;                 Mari (Umat Islam) Belajar dengan Sejarah!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sebagai muslim acapkali mendengar apa yang disebut ”The Golden Age” dalam tarikh Islam. Ada Jabir Ibnu Hayyan yang ahli kimia, Abu Ali Al-Husain Ibnu Sina dan Abu Yusuf Yacub Ibnu Ishak Al-Kindi serta Muhammad Ibnu Zakaria Al-Razi yang dikenal dengan nama Avicenna, Al-Kindus dan Razes sebagai pakar kedokteran, bahkan kita memiliki ahli Matematika yang belakangan merupakan asal muasal istilah Logaritma yakni Muhammad Ibnu Musa Al-Khawarizmi atau filosof terkemuka Abu Nasir Al-Farabi . Bahkan ada yang marah karena ternyata banyak karya Muslim yang dijiplak oleh ilmuwan Barat seperti Adam Smith dengan karyanya Wealth of Nations yang ”menjiplak” karya Al-Qasim bin Sallam bin Miskin bin Zaid Al-Harawi Al-Azadi Al-Baghdadi atau lebih dikenal dengan Abu Ubaid dalam karyanya Al-Amwal yang mana dalam bahasa Inggrisnya Al-Amwal sama dengan kata The Wealth atau fakta tangga nada Solmisasi (Mim Fa Shad Lam Sin Dal Ra) yang dikenal dengan teori Guido’s Hand yang diklaim karya pemusik Italia Guido Azerro ternyata merupakan jiplakan karya ilmuwan muslim . &lt;br /&gt;Banggakah kita dengan semua fakta di atas? Jika jawabannya ya, cukupkah rasa bangga tersebut? Inilah penyakit mayoritas umat Islam saat ini, terbuai ”mimpi” masa lalu tetapi lupa dengan semangat kebangkitan untuk mewujudkan kembali mimpinya. Padahal kunci keberhasilan para ilmuwan (hanya) dua: fikir dan dzikir sehingga relevan bila ayat pertama turun memerintahkan kita untuk Iqra’: membaca. Membaca di sini tidak hanya dimaknai letterlejk tetapi lebih luas dari itu. Membaca lingkungan sosiologis, politis dan keseluruhan lingkungan kita sehingga proses fikir dan dzikir akan bersinergi menjadi energi positif berupa terwujudnya mimpi-mimpi kita. Menutup tulisan singkat ini, marilah kita belajar dengan sejarah bukan hanya dari sejarah. Kita memiliki ”teks” untuk menjadi pegangan sekaligus kunci kesuksesan. Belajar dengan sejarah artinya belajar berdasar konteks. Bukankah kata konteks terdiri dari co dan text yang artinya bersama dengan teks. ”Teks” kita juga merupakan ”buku sejarah” maka marilah menjadi muslim yang belajar dengan sejarah karena yesterday is history, today is story and tomorrow is mystery. Wallahualam !!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-9088487424249449995?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/9088487424249449995/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2011/07/mari-umat-islam-belajar-dengan-sejarah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/9088487424249449995'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/9088487424249449995'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2011/07/mari-umat-islam-belajar-dengan-sejarah.html' title='Mari (Umat Islam) Belajar dengan Sejarah!'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-8536238814353000080</id><published>2011-07-01T04:31:00.000-07:00</published><updated>2011-07-01T04:32:42.640-07:00</updated><title type='text'>Fatwa Haram?</title><content type='html'>Banyak media massa mengutip KELIRU atas jawaban yang diberikan KH. Ma'ruf Amin saat ditanya wartawan. Beliau hanya menjawab 'tidak boleh dan tak pantas" atas pertanyaan wartawan tentang orang kaya mengkonsumsi BBM bersubsidi. Tak pelak banyak politisi dan kaum intelektual bereaksi dengan cuplikan media ini. Karena medianya berskala nasional dan 'terpercaya' maka diambil sebagai hujjah sehingga muncul banyak 'cercaa' kepada MUI sbg lembaga kumpulan para ulama hingga ada satu ormas pembenci demokrasi ikut2an menyalahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tapi konferensi pers agar tak segera berlarut, dr MUI mematahkan semuanya. Mediapun tertunduk 'lesu'. wartawannya ternyata 'sok' ngerti istilah fiqih TAPI fatal menafsirkan. Padahal niatpun untuk mengeluarkan tak ada. Pelajaran penting hari JUmat ini: Ojo kesusu nyimpulno masio awak dewe kuwi puinterre setengah edan. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-quds&lt;br /&gt;Jumat 1 JUli 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-8536238814353000080?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/8536238814353000080/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2011/07/fatwa-haram.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/8536238814353000080'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/8536238814353000080'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2011/07/fatwa-haram.html' title='Fatwa Haram?'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-113171529289532268</id><published>2011-06-27T09:37:00.000-07:00</published><updated>2011-06-27T09:42:59.746-07:00</updated><title type='text'>Ternyata Menikah Itu Tidak Sulit</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-HEjxcPjnX0A/Tgiy5h0rU_I/AAAAAAAAAFI/0FcfbrXKId4/s1600/75138_1621834195525_1526558584_2205165_2596730_n.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 137px; height: 203px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-HEjxcPjnX0A/Tgiy5h0rU_I/AAAAAAAAAFI/0FcfbrXKId4/s400/75138_1621834195525_1526558584_2205165_2596730_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5622940836173665266" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;     Menikah itu ibarat kita mengukir di dua tempat. pertama kita seperti mengukir batu untuk mendapatkan hasil yang indah. hal ini cukup sulit karena membutuhkan kesabaran dan kreativitas tinggi guna menunjang keberlangsungannya tapi dijamin anda akan merasakan "kenikmatan" yang unsaat anda mau melakukannya itu. tetapi yang kedua merupakan kebalikannya. ibarat mengukir di atas pasir di tepi pantai. mudah dan amat gamapang. tetapi ia rentan sekali. saat laut pasang ukiran kita musnah. akhirnya banyak kasus perceraian terjadi karena mereka hanya mengambil mudahnya saja dalam membangun rumah tangga mereka. enggan berusaha untuk bersabar, mencoba memahami kelebihan dan kekurangan pasangan. tapi anehnya juga banyak rumah tangga yang ada sekarang ini ibarat yang kedua ini. padahal mereka tahu itu mudah dilakukan tapi tidak langgeng dan akan membuat rawan rumah tangganya. andaikan saja mereka mau berusaha untuk bersabar dan mencoba berkreasi untuk saling memahami satu sama lain.&lt;br /&gt;     Dengan saling memahami pasangan kita, maka proses pengukiran yang ada akan lebih mudah dilakukan dan hasilnya pun merupakan kombinasi kedua belah pihak bukan dominasi suami ataupun sang istri. Tuhan itu sudah adil dengan memberi kita akal dan bukan nafsu belaka sehingga kita dalam membangun rumah tangga tidak hanya digunakan untuk melampiaskan nafsu biologis semata tetapi dengan akal itu kita "diharapkan" bisa berpikir dan brkreasi bersama guna mencapai rumah tangga yang ideal dan itu memang tidak mudah dilakukan tetapi bukan mustahil untuk diwujudkan bukan. &lt;br /&gt;    Konsep adil dalam salah satu agama terbesar di dunia (Islam) memang "mustahil" diwujudkan karena dua ayat yang "sebenarnya" tidak bertentangan itu sering kali disalahartikan. yang satu merupakan perwakilan keadilan ekonomi dan itu niscaya dilakukan sedangkan yang kedua adalah keadilan (kasih sayang) dan tentu yang satu ini amat sulit diwujudkan karena manusiawi. bukankah kita dalah manusia bukan malaikat atau Tuhan sekalipun sehingga sebenarnya jika da pihak-pihak "luar" mencoba menjadikan ini sebagai landasan untuk menolak poligami adalah salah. urusan poligami atau tidak itu kembali pada individu masing-masing. yang terpenting hal tersebut tidak dosa dilakukan karena ada dasarnya sedangkan bagi yang tidak mau berpoligami juga ada landasannya. ingat sekarang yang harus kita pikirkan bukan berdebat tentang boleh tidaknya poligami. itu useless!! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan Lama Daur Ulang&lt;br /&gt;Kamar Kontrakan&lt;br /&gt;27 Juni 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-113171529289532268?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/113171529289532268/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2011/06/ternyata-menikah-itu-tidak-sulit.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/113171529289532268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/113171529289532268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2011/06/ternyata-menikah-itu-tidak-sulit.html' title='Ternyata Menikah Itu Tidak Sulit'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-HEjxcPjnX0A/Tgiy5h0rU_I/AAAAAAAAAFI/0FcfbrXKId4/s72-c/75138_1621834195525_1526558584_2205165_2596730_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-8195165855223587642</id><published>2011-06-13T19:54:00.000-07:00</published><updated>2011-06-13T19:57:59.799-07:00</updated><title type='text'>Menggugat tuhan</title><content type='html'>atas dasar apa #tuhan meminta kita mematuhi dirinya? kita juga memiliki kebebasan untuk menentukan apa yg terbaik untuk kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bosan diriku selama berpuluh tahun menyembah #tuhan tapi dia sendiri tak pernah peduli sekalipun padaku. lalu untuk apa kita mau tunduk?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#tuhan itu sudah saatnya kita bunuh dan buang jazadnya, sehingga tak lagi memperdayai kita untuk menjadi hamba dia. emang dia pikir siapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kata siapa #tuhan memberi kita segalanya? hah? siapa? apa buktinya? kalian telah diperbudak oleh konsep naif tentang tuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#tuhan hanya hayalan belaka, dia tidak nyata. lalu untuk apa kita taat dan peduli padanya? persetan dengan yang namanya tuhan. Bulshit!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kita manusia merdeka, bebas, kita bisa menentukan diri kita sendiri lalu untuk apa kita bergantung pada #tuhan? sudahlah itu konsep konyol!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kenapa kita mau diperbudak oleh konsep konyol itu? apa buktinya jika kalian percaya? apa yang bisa #tuhan lakukan? dia itu khayalan semata!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sudah saatnya kita menggugat #tuhan. untuk apa kita peduli pada dia yang tak pernah peduli pada kita. kalian telah diperbudak #tuhan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ayo saatnya kita tersadar dari lamunan panjang ini! #tuhan itu konseptual belaka. dia itu tidak nyata. untuk apa kalian tetap patuh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rasanya aku ingin sekali membunuh #tuhan itu dan kemudian memutilasinya. mencincang dia agar lega beban di dada ini. persetan kau #tuhan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sadarlah kawan-kawan! untuk apa kalian mempercayai konsep bodoh itu! konsep tentang #tuhan itu pemberi segala, dia kuasa, dia hebat. Cuih!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#tuhan itu apa seh? coba saya tanya pada kalian! jelaskan dg logis dan faktual apa #tuhan itu? jika tidak bisa tinggalkan skr juga #tuhan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sudah lama aku bercita-cita suatu saat nanti aku bisa membunuh yang bernama #tuhan itu. tapi kan dia khayal, dia itu apa seh! plis dunk ah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ayolah kalian ini kok maunya percaya begitu saja dengan konsep #tuhan yang abstrak. saya mau tanya apa kalian pernah berjumpa dg #tuhan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mulai skr aku deklarasikan diri sebagai penggugat #tuhan. ada yang tertarik ikutan? silakan saja! yang tidak sukan tak usah sewot!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;padang neraka iman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sabtu, 2 april 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pukul 18.00 wib&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-8195165855223587642?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/8195165855223587642/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2011/06/menggugat-tuhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/8195165855223587642'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/8195165855223587642'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2011/06/menggugat-tuhan.html' title='Menggugat tuhan'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-6552468377319109162</id><published>2011-06-13T19:19:00.000-07:00</published><updated>2011-06-13T19:22:46.500-07:00</updated><title type='text'>Catatan di Jumat yang Agung</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/--OAK_BN6lX0/TfbF1Wrwp3I/AAAAAAAAAFA/GuAUBJDQ5Y4/s1600/13727-diambil-dr-google-com.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 143px; height: 60px;" src="http://2.bp.blogspot.com/--OAK_BN6lX0/TfbF1Wrwp3I/AAAAAAAAAFA/GuAUBJDQ5Y4/s400/13727-diambil-dr-google-com.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5617895105604134770" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;#JumatAgung. hr ni umat Kristiani(Katolik). trlepas dr "perbedaan" internalnya, q ucapin met merayakan bg yg merayakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#JumatAgung. dl s'at di Madura q hx knl Islam sbg agama. q pkir Indonesia muslim smua. Bhkn q pikir Islam itu yah NU. MU cuman denger ja! :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#JumatAgung. hingga umur 6thn ke Malang u/ tempuh SD q. di kota ini temen2ku bkn hx Kristiani tp jg Hindu-Bali Budha. yg Islam da NU MU Persis dsb&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#JumatAgung. dr SD inilah q knl banyk PERBEDAAN. dr (alm.) Badri Hasyim yg di-DO dr ITB krna berani mendebat dosenx yg kebetulan dkt dg ORBA (ada perintah dr rektornya saat itu agar tak menerima mahasiswa atas nama beliau akhirnya bliau masuk di Unmer Malang dlm waktu 3,5thn selesai )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#JumatAgung. q bljr Islam n hidup. org terdekatnya Iwan Budianto yg dl di Malang jd manajerx Arema ni mengajari q tentng Hdup n kehidupan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#JUmatAgung. dr om Badri n om Iwan q blajr tntag gimana bangga jd Muslim tp ttp RESPECT thdp non-muslim. 7 thn hidup dg mreka buatku tahu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#JUmatAgung. gue Islam kalian bukan. yah itu udah takdir kali. jd buat apa qt riskan dg perbedaan la wong itu takdir TUhan. trima itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#JumatAgung. da pa kok Bustomi nulis tntg JUmatAGung di mari? krna ada "pemain" yg coba mengail di air keruh. ingin Muslim vs Non-Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#JumatAgung. qt ini udah hidup DAMAI sjk ne2k moyang lalu br skr? ada yg blg krna penetrasi ideologi trans-nasional makin besar. Hah? g slh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#JumatAgung. yg ada aku tak temukan konflik antar umat beragama hatta di Madura yg katanya suka CAROK. gak ada tuh? qt trima mereka dg baik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#JumatAgung. ni bukti klo ada "pemain" yg gk suka DAMAI Indonesia. mreka g suka qt akur, rukun n damai! ini yg perlu diungkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#JUmatAgung. sy sadari mang mencuatnya "ideologi" yg sngat enggan menerima perbedaan karna doktrinasi Al-Baqarah:120. tp tunggu dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#JumatAgung. klo gini shrusnya Madura bebas gereja, nyatanya TIDAK, ada gereja besar tepat depan Masjid Agung Pamekasan. aman n damai tuh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#JumatAgung. Bangkalan ada gereja malah banyak.Sumenep bahkan daerah lain. Pamekasan malah ada Vihara trbesar kedua di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#JumatAgung. yg q kagum di dlm VIHARA tsb ada Mushola tmpt sholat dlm ukuran ckup besar, Bukti qt damai sejak dulu. jd aneh saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#JumatAgung. Aneh klo kmudian Muslim diidentikkan dg teror(is)(me). aneh klo dulu qt bs damai napa skr malah makin KUAT gt potensi ENGGANnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#JumatAgung. coba anda perhatikan kasus BOM di negeri ini mayoritas jelang hari raya besar agama non-Islam/weekend. Nah apa maksudnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#JUmatAgung. sudah banyak diungkap dg data dan fakta bahwa banyak kasus yg ada adl "by designed" cases. Knpa qt lalu jd PHOBIA gini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#JumatAgung. Bom Bali: ada kapal induk AS ke Selat Bali sempat di Perak dan disuplai daging dr slh 1 dosen sy krna dia juragan besar di SBy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#JumatAgung.s'at kapal induk AS itu di berlabuh di Bali, dlm radius 2km kapal2 apapun DILARANG mendekat.Korban Bom Bali yg ada di RS Sanglah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#JumatAgung. korban tsb yg dinilai sbg saksi kunci HILANG tiba2 di RS Sanglah Bali, katanya dibawa tim khusus dg pesawat dr Australia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#JumatAgung. oke qt loncat yg di Cikeusik. ada pita biru, kamera jelas, kameramen gak takut skli men-shoot kejadian beda dg peristiwa smcam!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#JumatAgung. terbaru Bom Buku. aneh sj klo POLRI slama ni tahu barang tak jelas kenapa kapolsek "sok" brani buka padahal POLRI pux protap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#JumatAgung. sy hanya gak ingin "pemain" itu tertawa di tengah kita yg kian curiga satu sama lain. padahal selama ini qt nyaman dan DAMAI!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#JumatAgung. katanya lg Pelaku ditangkap jelang Paskah. Lalu ada Bom Serpong dg berat 100-150kg. Eits barang seberat itu dan masang di pipa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#JumatAgung.Perlu wktu lama apalagi masangnya. bhkan jika POLRI blg ini "pemain" br agak janggal. minimal yg bs gitu adl teroris kelas KAKAP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#JumatAgung. pun jk dipaksakan maka berartin POLRI gagal memutus mata rantai yg katanya setiap kasus BOM berhub satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#JumatAgung. atau justru POLRI "mmelihara" mreka u/ PENCITRAAN. dan mnutup kasus2 besar. bukankah kasus2 berlapis2 adl khas Pencitraan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#JUmatAgung. lht sj bnyak KEJANGGALAN. dr kasus BOM BALI hingga BOM SERPONG. naif klo blg BIN n POLRI tk tahu!Aneh sj kcuali ada KESENGAJAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#JumatAgung. Saya hanya gak ingin KEDAMAIAN yg ada selama bangsa ini ada harus rusak karna "pemain" itu. Gak banget lah! HIDUP KEDAMAIAN!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita punya segalanya untuk bisa hidup DAMAI jadi jangan sampai "pemain" itu yang mengeruk keuntungan di tengah penderitaan (baca: kita berkonflik dan phobia satu sama lain) yang ada. Sekian. Hanya tulisan kecil di tengah kesendirian dan rasa sakit yang tengah melandaku di Kos. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat Agung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22 April 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 15.00-16.00 WIB&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-6552468377319109162?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/6552468377319109162/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2011/06/catatan-di-jumat-yang-agung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/6552468377319109162'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/6552468377319109162'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2011/06/catatan-di-jumat-yang-agung.html' title='Catatan di Jumat yang Agung'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/--OAK_BN6lX0/TfbF1Wrwp3I/AAAAAAAAAFA/GuAUBJDQ5Y4/s72-c/13727-diambil-dr-google-com.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-8957874318250360573</id><published>2011-02-25T06:18:00.000-08:00</published><updated>2011-06-06T02:58:01.123-07:00</updated><title type='text'>Perbankan Syari’ah Dalam Pusaran Stigma</title><content type='html'>Perbankan Syari’ah Dalam Pusaran Stigma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Yasid Al-Busthomi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksistensi dunia perbankan syari’ah dalam konteks Indonesia modern dapat ditelusuri dengan kemunculan Bank Muamalat Indonesia (BMI) pada tahun 1992. Mengingat ketidakberdayaan bank syari’ah jika hanya berjalan sendiri maka pada tahun 1994 muncul lembaga keuangan asuransi syari’ah pertama yakni Asuransi Takaful. Sejak kemunculannya tersebut pertumbuhan perbankan syari’ah sangat mengagumkan. Menurut data Bank Indonesia, pada interval 1999-2008 peningkatannya terjadi hingga 44 kali lipat bahkan pada 2001-2002 mencapai 216%. Memang tak dapat dipungkiri dibandingkan sektor konvensional perbankan syari’ah masih kalah jauh. Pada 2009 saja pertumbuhannya hanya sekitar 2,2% tetapi menilik pada pertumbuhan yang sangat signifikan banyak kalangan yang optimis ke depan ia akan fenomenal dimana eksistensinya akan dinanti-nanti. &lt;br /&gt;Dalam perjalanannya yang menunjukkan fakta menarik tersebut, ternyata masih ada saja kalangan yang berusaha “menghambat” laju pertumbuhan anak yang terlahir kembali ini, sebut misal Zaim Saidi yang menelurkan buku Tidak Syar’inya Bank Syari’ah di Indonesia dan Jalan Keluarnya Menuju Muamalat. Direktur Wakala Induk Nusantara tersebut mengatakan ada 3 kesalahan fundamental yang dilakukan oleh mereka yang menyetujui eksistensi bank syari’ah, pertama, fiat money baginya merupakan dayn dimana haram hukumnya untuk memakai uang kertas dalam proses transaksi publik. Kedua, menyembunyikan bunga sebagai keuntungan. Terakhir, menerapkan prinsip-prinsip hukum transaksi dalam syari’ah seperti murabahah (sistem jual beli dengan memakai margin pada harga), syirkat (kemitraan usaha) atau mudarabah/qirad (kemitraan dagang) dan wadi’ah atau penitipan, dimana transaksi tersebut menurut Zaim Saidi tidak sesuai dengan prakteknya dalam tradisi Islam. Kemunculan buku tersebut kian menambah daftar panjang stigma negatif terhadap keberadaan dunia perbankan syari’ah di tanah air. Di tengah kemunculan dan pertumbuhannya yang menunjukkan prestasi positif meskipun masih tergolong anak bau kencur dalam percaturan perbankan nasional, stigma negatif bermunculan akibat topangan-topangan ide yang terkesan hendak “menghapus” eksistensi perbankan syari’ah. Sebut misalnya, nisbah hanyalah nama lain dari bunga yang disinyalir sebagai riba; mengutang ke bank syari’ah dianggap lebih mahal karena angsuran tetap khususnya untuk skema murabahah dalam KPR hingga klaim bahwasanya bank syari’ah hanya milik umat Islam.&lt;br /&gt;Sebenarnya kita tak dapat menyalahkan sepenuhnya atas kemunculan dan berkembangnya sinyalemen negatif tersebut tetapi menjadi naif kiranya jikalau kita menelan mentah-mentah. Secara umum ada perbedaan mendasar atas transaksi yang terjadi di bank syari’ah dibandingkan bank-bank konvensional dimana esensi dan aqadlah yang membedakan. Bahkan misal untuk margin yang terkadang dianggap lebih mahal justru dengan nilai angsuran yang tetap tiap kali mengangsur dengan jangka waktu yang disepakati akan membuat ia tahan terhadap krisis atau inflasi yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Maka tak heran jika banyak pihak yang mengambil KPR ke perbankan syari’ah. &lt;br /&gt;Klaim yang amat miris adalah perbankan syari’ah hanya milik umat Islam. Ini menjadi aneh mengingat Inggris dan Singapura misalnya justru lebih dulu mengawali bahkan Inggris berinisiatif untuk menjadi center bagi perbankan syari’ah dunia dan Singapura di level Asia Tenggara. Jika kita komparasikan misalnya dengan istilah demokrasi atau pun sistem pendidikan yang tengah kita jalankan dalam konteks nasional jelas merupakan aplikasi atas konsep Barat dan mengapa kita tidak mengatakan itu merupakan konsep non-Muslim. Bagi saya yang terpenting adalah bagaimana kita merumuskan sesuatu yang dapat bermanfaat bagi khalayak ramai, karena nilai-nilai universal itu tetaplah fakta darimanapun asalnya. &lt;br /&gt;Pemberian stigma negatif yang terkadang tak berdasar justru akan semakin mereduksi upaya-upaya yang telah dan tengah dirintis demi perbaikan ke depannya. Semisal istilah dalam perbankan syari’ah misalnya memakai bahasa Arab lalu apa masalahnya? Dia juga merupakan rumpun bahasa anak manusia. Jikalau kita terbiasa mengatakan i love you atau homesick bahkan nge-date, bukankah itu juga merupakan istilah asing yang kebetulan dari bahasa Inggris bahkan dimana-mana kita temui hampir semua tempat dan wahana memakai bahasa Inggris dan kita fine saja senyampang dia komunikatif dan dapat dimengerti oleh publik, antara komunikator dan komunikan paham, menurut penulis, hal itu sah-sah saja. &lt;br /&gt;Oleh karena itu, tepat kiranya apa yang pernah disampaikan oleh salah satu pakar ekonomi syari’ah, Adiwarman Karim (2010), yang mengatakan “ Kita ini in the process of being kafaah”. Masalah penggunaan fiat money, ini tentunya masih bisa masukkan dalam konteks adhdharurah dalam kaidah fiqih dan di dalam implementasi hukum ada proses pentahapan (at-tadarruj) sehingga bukan ujug-ujug sesuatu itu yang masih dalam taraf pengimplementasian harus dihukumi tidak boleh atau terlarang. Segala sesuatunya masih membutuhkan proses. Dus, perjalanan dari nothing to something itu membutuhkan proses yang tidak instan. Bahkan umat zaman nabi-nabi berkenan beriman tidak dalam hitungan bulanan, ada yang tahunan bahkan puluhan tahun. Idealnya memang kita patokan dinar-dirham karena Allah SWT menyebut dan Muhammad SAW pernah mengatakannya, tetapi fakta di lapangan stok keduanya sangat terbatas (kondisi masaqat) sehingga demi kelancaran penggunaan fiat money dihukumi mubah. Kalau masih memaksa akan menimbulkan pertumbuhan ekonomi stagnan dan pemenuhan hajat hidup menjadi terhambat. Bukankah ini akan menimbulkan akan yang lebih buruk (mafsadat) sehingga menurut kaidah ushul fiqih, menghindari kerusakan untuk kepentingan hajat publik menjadi ditolerir. Penggunaan mata uang seperti fiat money semampang disepakati oleh pemimpin masih diperbolehkan . Jangan sampai upaya demi upaya yang telah dan tengah dilakukan dilakukan ini kemudian menimbulkan runtuhnya semangat (futur) di antara kita untuk menuju eksistensi perbankan syari’ah yang mendekati bentuk ideal bahkan kaffah. Marilah kita bergerak menuju kebaikan dengan saling memperingati dan memberikan masukan –tentunya dengan cara yang santun- serta sinergis dalam upaya menuju apa yang dicita-citakan dengan sekali lagi berpegang teguh pada prinsip we are still in process to be kafaah. Proses instan tak pernah terjadi kecuali adanya campur tangan Tuhan. Selamat bertransaksi dengan perbankan syari’ah dan kita berharap wujud idealnya dapat kita jumpai dan rasakan pada saatnya. Semoga!&lt;br /&gt;©Bustomi &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kantor yang Senyap&lt;br /&gt;Jumat, 25 Februari 2011&lt;br /&gt;Pukul 16.40 WIB&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-8957874318250360573?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/8957874318250360573/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2011/02/perbankan-syariah-dalam-pusaran-stigma.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/8957874318250360573'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/8957874318250360573'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2011/02/perbankan-syariah-dalam-pusaran-stigma.html' title='Perbankan Syari’ah Dalam Pusaran Stigma'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-5977711644588923892</id><published>2011-02-16T07:50:00.000-08:00</published><updated>2011-02-17T01:35:00.164-08:00</updated><title type='text'>Seandainya Facebook-an dan Twitter-an "Ibadah" Wajib!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-n8xyGdj1xmM/TVzruGdSBII/AAAAAAAAAEk/K8TU3FTqtso/s1600/FBan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 116px; height: 80px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-n8xyGdj1xmM/TVzruGdSBII/AAAAAAAAAEk/K8TU3FTqtso/s400/FBan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5574589616017769602" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Facebook dan twitter telah menjadi fenomena. Menurut laporan terakhir Jawa Pos (April 2010) pengguna FB mencapai angka 350 juta dan 60% pengguna FB pindah menggunakan Twitter. Bayangkan sejak didirikan 4 tahun lalu telah memiliki users dengan angka fantastik. Sungguh mencengangkan. Tak heran jika FB telah membius sedemikian rupa hampir setiap manusia yang mengerti teknologi informasi. Hampir setiap waktu dipastikan kita mengakses FB dan Twitter, entah sekedar melihat notifications, nge-wall/ nge-tweets, up-date status atau DMan ataupun sekedar berkomunikasi dengan teman di tempat jauh.&lt;br /&gt;     Lebih parah ada yang sedemikian addicted dengan melakukan up-date status atau nge-tweets puluhan kali hingga ratusan kali dalam sehari atau bahkan tiap menit ada saja yg suka melakukan perubahan aktivitasnya di dunia FB atau detik untuk Twitter. Entah hanya sekedar memberi tahukan kalo baru saja bangun, maen basket, mandi, makan di restoran, atau bahkan statusnya adalah tanpa status alias samapi bingung mau bikin status atau nge-tweets apa. Aktivitas setiap kita seolah tak bisa lepas dari yang namanya FB dan twitter. Bahkan FB dan twitter telah menjadi “rumah ibadah” baru bagi facebookers/tweeps dengan "berdoa" berkali-kali. Gejala tak ber-FB dan ber-twitter ria dalam sehari saja seolah menimbulkan keresahan tersendiri bagi kita.&lt;br /&gt;        Saya pernah membayangkan seandainya FB dan twitter adalah salah satu bagian dari syari’at atau "ibadah" wajib tentunya facebookers dan tweeps adalah pihak pertama yang masuk Surga dan mendapat label orang beriman-mankind-mukmin dan atau apalah. Yah, seandainya FB-an dan twitter-an adalah ibadah wajib. Seandainya……..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Quds Jalur Gaza&lt;br /&gt;17 Februari 2011&lt;br /&gt;Pukul 16-15 WIB&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-5977711644588923892?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/5977711644588923892/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2011/02/seandainya-facebook-ibadah-wajib.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/5977711644588923892'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/5977711644588923892'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2011/02/seandainya-facebook-ibadah-wajib.html' title='Seandainya Facebook-an dan Twitter-an &quot;Ibadah&quot; Wajib!'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-n8xyGdj1xmM/TVzruGdSBII/AAAAAAAAAEk/K8TU3FTqtso/s72-c/FBan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-2957631036585855982</id><published>2011-01-22T21:35:00.000-08:00</published><updated>2011-01-22T21:40:19.544-08:00</updated><title type='text'>Isu Tol Tengah Kota: Urgensi atau Politisasi?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/TTu_J0swd8I/AAAAAAAAAEQ/hLm1KI3svBA/s1600/tol-tengah-1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 218px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/TTu_J0swd8I/AAAAAAAAAEQ/hLm1KI3svBA/s400/tol-tengah-1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5565251940032477122" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Isu Tol Tengah Kota: Urgensi atau Politisasi?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Surabaya kini tengah menjadi perbincangan tidak saja di tingkat lokal tetapi regional bahkan nasional. Isunya bukan mengenai adanya pengadilan tipikor daerah pertama atau isu kisruh pilkada karena kesemuanya telah usai. Isu sexy yang kini tengah menjadi ulasan hampir semua media lokal adalah rencana pembangunan tol tengah. Bermula dari pewacanaan yang diangkat oleh sejumlah politisi dan kemudian menjadi headline, kini terus menjadi polemik yang tak berkesudahan. Dampaknya, muncul sikap pro dan kontra dengan argumentasi masing-masing dan saling menunjukkan eksistensinya hingga aksi turun ke jalan (Metropolis, 4/01/2011).&lt;br /&gt;       Jika ditilik lebih jauh sebenarnya, menyeruaknya isu hingga menjadi perdebatan tajam dipicu oleh sikap ketua DPRD Surabaya, Wishnu Wardhana yang terkesan plin-plan. Pada 12 September 2010, dimana beliau menyatakan sikap menolak atas rencana pembangunan tol tengah tetapi setelah adanya presentasi dari pihak PT Margaraya Jawa Tol (MRJT), pada 17 Desember 2010 sikapnya berubah mendukung. Terlepas dari argumentasi dari pihak bersangkutan bahwasanya sikapnya tersebut tidak memiliki korelasi apapun dengan presentasi tersebut, sangat sulit bagi kita untuk menerima logika demikian. Dalam ranah politik, pernyataan politisi tentu saja tidak bisa serta merta dibaca hitam-putih mengingat wilayah ini merupakan grey area.  Indikasinya adalah pasca perubahan sikap sang ketua, fraksi-fraksi di DPRD Surabaya juga bersikap yang tentunya terkesan politis. Fraksi PD, Golkar dan PKB menyatakan mendukung, 3 fraksi masih mengambang yakni PDIP, PKS dan Apkindo serta satu fraksi belum memberikan sikap yakni PDS (Metropolis, 17/12/2010). &lt;br /&gt;         Jika pihak legislatif yang notabene merupakan wakil rakyat menyatakan dukungannya terhadap pembangunan tol tengah, lain halnya dengan pemerintah kota Surabaya. Pemkot, melalui walikota perempuan pertama dalam sejarah politik Surabaya, Tri Rismaharini, menyatakan penolakannya terhadap rencana yang dinilai tidak pro-rakyat tersebut. Argumentasinya, dia terpilih secara langsung oleh rakyat, jalan tol tengah tidak dapat mengurai kemacetan di Surabaya, telah ada solusi jalan lingkar barat-timur dan yang terpenting akan ada ribuan warga kota yang akan menjadi korban jika rencana tersebut terus dilanjutkan. Uniknya, respon warga kota bukan mendukung sikap sebagian besar wakil mereka melainkan menolaknya, seperti aksi turun aksi ke jalan yang kian marak (Metropolis, 31/12/2010). Alasan warga sederhana saja, jika proyek tol tengah jadi dilaksanakan. Pertama, akan banyak warga yang akan kena gusur. Kedua, proyek setidaknya butuh waktu puluhan tahun sehingga kemacetan bukannya dapat diatasi melainkan bertambah. Ketiga, akan banyak taman dan jalur hijau kota yang terpaksa harus digusur jika proyek berjalan seperti Taman Pelangi di Bundaran Dolog dan jalur hijau sepanjang jalan Ahmad Yani. &lt;br /&gt;          Membaca realitas yang demikian adanya, muncul sebuah pertanyaan, rencana pembangunan tol tengah ini sebenarnya urgensi ataukah politisasi? Indikasi politisasi makin menguat mulai dari perubahan sikap ketua DPRD yang kontradiktif antara di awal dan di akhir, sikap kontra terhadap kebijakan pemerintah kota mulai dari kasus reklame dan sekarang mengenai tol tengah dan terakhir abai terhadap sikap sebagian besar warga Surabaya yang menolak. Bukankah anggota dewan merupakan wakil rakyat yang secara resmi merepresentasikan aspirasi rakyat? Jika terdapat suara yang kontradiktif antara yang diwakili dan mewakili lalu siapakah yang sebenarnya diwakili oleh anggota dewan kita yang (katanya) terhormat itu? Entahlah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya&lt;br /&gt;Januari 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-2957631036585855982?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/2957631036585855982/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2011/01/isu-tol-tengah-kota-urgensi-atau.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/2957631036585855982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/2957631036585855982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2011/01/isu-tol-tengah-kota-urgensi-atau.html' title='Isu Tol Tengah Kota: Urgensi atau Politisasi?'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/TTu_J0swd8I/AAAAAAAAAEQ/hLm1KI3svBA/s72-c/tol-tengah-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-6581527190902482654</id><published>2011-01-12T00:50:00.000-08:00</published><updated>2011-01-15T08:05:07.874-08:00</updated><title type='text'>Selamatkan Bumi?!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.vhrmedia.com/2010/resize.php?image=/2010/ngadimin/form/kakafile/PotretKomik/banner/beatblog_WritingContest.jpg&amp;new_width=220"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 220px; height: 73px;" src="http://www.vhrmedia.com/2010/resize.php?image=/2010/ngadimin/form/kakafile/PotretKomik/banner/beatblog_WritingContest.jpg&amp;new_width=220" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;    Kita memiliki perayaan Earth Day. Ritual yang dilakukan setiap tahun ini memang tak pernah lupa untuk dirayakan bahkan dengan meriah. Tetapi gerakan ini seolah menjelma rituasi rutin semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Penulis tak mau berdebat persoalan yang lebih mendalam tetapi hanya mencoba melihat apakah ada upaya nyata yang signifikan dan konsisten dari kita semua terutama para pegiat "Gerakan Selamatkan Bumi". Mari kita lihat beberapa penyebab kerusakan atau kegiatan kita yang dapat berdampak negatif terhadap bumi. Contoh nyata adalah pendirian pabrik-pabrik, penggunaan CFC dalam AC dan lemari es, kendaraan bermotor dan sejenisnya. ironisnya, mayoritas kita masih hidup dengan pola demikian. Aneh tapi ini nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Hal yang membuat penulis miris adalah para penggiat "Gerakan Selamatkan Bumi" saat berdemonstrasi, misalnya, masih banyak yang memakai kendaraan bermotor. Bukankah bisa lebih MENGENA bila memakai sepeda pancal atau naik becak atau malah jalan kaki. Mungkin ini &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sepele&lt;/span&gt; dan terkesan kacangan, tetapi jika bukan dari hal yang kecil darimana kita bisa menilai bentuk konsistensi diri. Selain mengena, hal tersebut bisa menggerakkan ekonomi rakyat kecil. Lebih ironisnya, para pegiat tersebut mengadakan acara seminar atau sarasehan di ruangan ber-AC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Penulis memiliki usulan sederhana,jika masing-masing kita terutama yang peduli dengan bumi, melakukan sesuatu seperti yang pernah disampaikan oleh Abdullah Gymnastiar, yakni mulai dari yang kecil, dari diri sendiri dan sekarang juga. Sudahkah kita demikian? Jangan mengimpikan hal-hal yang muluk terlebih dahulu tetapi cobalah yang kecil lagi sederhana tetapi signifikan dan substantif. Buku tebal selalu diawali dari halaman pertama dan huruf pertama. Uang satu miliar selalu dimulai dari hitungan bilangan kecil dahulu. Dus, mari kita mengatakan: Selamatkan Bumi?!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-6581527190902482654?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/6581527190902482654/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2011/01/selamatkan-bumi.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/6581527190902482654'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/6581527190902482654'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2011/01/selamatkan-bumi.html' title='Selamatkan Bumi?!'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-2205333348235031595</id><published>2011-01-12T00:49:00.001-08:00</published><updated>2011-01-12T00:57:08.053-08:00</updated><title type='text'>Lumpur Lapindo Tidak Merusak Ekosistem Sungai?!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/TS1swK60WPI/AAAAAAAAAD4/Zx8MikwJNfY/s1600/LAPINDO.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 299px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/TS1swK60WPI/AAAAAAAAAD4/Zx8MikwJNfY/s400/LAPINDO.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5561220689693006066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;    Kamis malam kemarin (01/04/2010) ditawari temen untuk mengikuti pertemuan reses dengan salah satu anggota DPR-RI asal dapil I Jatim. Setelah diskusi panjang lebar ada sebuah cerita menarik hasil analisis dia yg seorang insinyur mengenai kasus Lumpur Lapindo. Menurut keterangan anggota dewan ini, salah satu alternatif membuang lumpur Lapindo ke Sungai Porong ternyata TIDAK merusak ekosistem sungai yang sebelumnya sempat dikhawatirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ajaibnya lagi, ternyata dari lumpur tersebut didorong oleh air sungai dan bermuara ke laut dekat Selat Madura. Dan di sana terbentuk PULAU LUMPUR dan kemudian tumbuh semacam tumbuhan dan didatangi sejenis burung liar. FENOMENA ini membuat seorang peneliti dari luar negeri (lupa juga nama dan asal negaranya) terheran-heran karena "kehidupan" baru yang muncul tersebut mirip dengan "kehidupan" Selat Madura Purba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Maka saat ada usulan dari Presiden kita untuk menjadikannya sebagai WISATA GEOLOGI menjadi beralasan (bukan berarti kalimat ini mendukung atau saya malah Pro-SBY yah!). Maka menutup tulisan sederhana ini saya hanya bisa berucap SUBHANALLAH....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wallahualam !!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-2205333348235031595?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/2205333348235031595/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2011/01/lumpur-lapindo-tidak-merusak-ekosistem.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/2205333348235031595'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/2205333348235031595'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2011/01/lumpur-lapindo-tidak-merusak-ekosistem.html' title='Lumpur Lapindo Tidak Merusak Ekosistem Sungai?!'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/TS1swK60WPI/AAAAAAAAAD4/Zx8MikwJNfY/s72-c/LAPINDO.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-6171375842484690050</id><published>2011-01-12T00:49:00.000-08:00</published><updated>2011-01-12T00:52:19.377-08:00</updated><title type='text'>Carut-marut UN, Perlunya Sebuah Cetak Biru</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/TS1rs9FF6LI/AAAAAAAAADw/_gGeZRpZd-Q/s1600/070522_ujian20nasional.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 285px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/TS1rs9FF6LI/AAAAAAAAADw/_gGeZRpZd-Q/s400/070522_ujian20nasional.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5561219534926768306" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;     Membaca surat kabar sebulan terakhir sungguh berbeda dengan tahun lalu pada kurun waktu yang sama. Dua pekan terakhir ini, mayoritas kita lebih fokus pada isu terorisme yang seolah menggusur berita “mega sinetron” Century yang pelan tapi pasti meredup. Anehnya, sedikit sekali porsi berita mengenai Ujian Nasional (UN) yang sebentar lagi akan dihelat. Meski pemberitaannya tak seheboh tahun lalu, tetapi dari sekian berita yang muncul justru realitas dunia pendidikan kita sangat memprihatikan.. Pengalaman penulis sebagai pengajar mata ajaran umum baik secara privat maupun kelembagaan sedikit banyak menimbulkan percikan pemikiran seputar carut-marut sistem pendidikan nasional kita ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Diakui atau tidak, sistem evaluasi berupa UN memang menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat. Ada pihak yang pro begitu pula tak sedikit yang menolak mentah-mentah sistem UN. Kelompok kontra seolah mendapat angin segar setelah keluarnya keputusan Mahkamah Agung terkait UN ini yang memerintahkan pemerintah untuk mengevaluasinya. Di sisi lain, pemerintah seolah tak peduli. Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu mungkin itulah prinsip yang dipakai oleh penguasa. UN tetap berlanjut. Terus terang saja keputusan ini membuat kalang kabut semua pihak terkait tak terkecuali pihak sekolah yang kemudian berbondong memberikan ”waktu tambahan berlebih” untuk meng-drill anak didiknya siap ”perang” menghadapi UN bahkan dibekali ”nilai-nilai spiritual” melalui istighotsah-istighotsah yang mulai kian marak dilakukan menjelang perhelatan 22-26 Maret 2010 mendatang. Di sinilah logika business bimbingan belajar menemukan relevansinya. Bermunculanlah kelompok bimbingan belajar bak cendawan di musim hujan. Yang mereka berikan hanya ”trik” dan ”tips” jitu guna memenangkan perang ini dan melupakan hal substantif dalam suatu proses pembelajaran, understanding. Bahkan tak sedikit (entah dari mana memperoleh) yang memberikan kunci jawaban via mobile phone demi menjaga kredibilitasnya saat UN berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Pengalaman ini pun tak berhenti, saat menjadi pengajar privat seorang anak didik sekolah swasta kenamaan di Surabaya, kesabaran penulis diuji tatkala mengetahui kemampuan understanding terhadap materi ujian sangat rendah. Hari demi hari selama dua bulan memberikannya berbagai cara agar bisa memahami materi ternyata tak jua menemukan solusi karena hanya beberapa saja materi yang bisa diserapnya. Hal ini lumrah mengingat terbatasnya waktu yang ada. Tetapi sesuatu yang mengejutkan terjadi di H-1 Ujian Nasional. Dia memberi kabar pada saya kalau sudah mendapatkan bocoran kunci jawaban dari sekolah negeri ternama di Jawa Timur yang berada di kota Surabaya. Sempat tidak percaya tetapi hasil UN anak didik penulis ini sungguh mencengangkan. Di atas rata-rata. Sungguh luar biasa! Sistem evaluasi yang tidak begitu mendidik dan diwarnai pula praktek curang oleh berbagai pihak seolah telah menjadi budaya akut. Betapa tidak saat diselenggarakannya try out hasilnya sangat jauh dari harapan tetapi hasil Ujian Nasional berubah 180 derajat. Wangsit darimanakah gerangan yang didapat peserta ujian yang menjadi pandai secara tiba-tiba?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Lain lubuk lain ikannya. Demikian pepatah mengajarkan pada kita. Saat mengajar di sebuah madrasah milik salah salah satu ponpes di daerah minus penulis memiliki cerita yang berbeda tetapi semakin menguatkan asumsi betapa bobroknya sistem pendidikan kita plus evaluasi yang dimilikinya. Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar (Wajar Dikdas) yang memasuki dunia pesantren sejak tahun 2003, seolah menyentak arus bawah sadar masyarakat pedesaan. Di tengah kemampuan baca-tulis yang begitu rendah mereka harus menghadapi Ujian Nasional. Data empirik di lapangan menunjukkan, jangankan peserta didik, mayoritas pengajar ternyata minim pengetahuan dan miskin pengalaman sehingga tak salah jika tingkat kelulusan santriwan/wati mereka jauh dari kata memuaskan. Ironisnya, fenomena ini justru memunculkan ”makelar baru” yang menjual kunci jawaban dengan harga cukup tinggi tetapi dengan akurasi jawaban rendah. Penulis meyakini fenomena-fenomena tersebut bukan hanya terjadi di salah satu daerah saja tetapi hampir menyentuh semua daerah seperti di Jombang, Probolinggo, Ngawi dan Madiun (sebagaimana dimuat di harian SURYA, 18/03/2010) sehingga diperlukan suatu langkah taktis-solutif yang segera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlunya Sebuah Cetak Biru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Fakta ini mau tidak mau membuat kita harus menyiapkan solusi alternatif guna menyongsong dunia pendidikan yang lebih prospektus ke depannya. Pemerintah sebaiknya menyiapkan sebuah cetak biru pendidikan nasional yang komprehensif dan holistik sifatnya serta disesuaikan dengan kapasitas masing-masing daerah sebagaimana semangat otonomi daerah. Cetak biru ini nantinya menjadi tolok ukur pembangunan sektor pendidikan yang di setiap daerah target pencapaiannya berbeda sembari di waktu yang sama pemerintah menggencot perbaikan infrastruktur pendidikan terutama di daerah-daerah minus. Upgrading tenaga pengajar khususnya di daerah terpencil pun layak dimasifkan. Realitas membuktikan, sistem evaluasi semacam UN justru mencederai semangat otonomi dimana kehadirannya merupakan upaya akomodatif kemampuan daerah di berbagai sektor yang tidak sama. Blue print ini nantinya bisa diibaratkan selayaknya sebuah negara federasi dimana masing-masing negara bagian memiliki otoritas untuk mengembangkan daerah mereka sesuai dengan karakteristik yang ada tetapi bersandarkan pada satu pokok yang sama. Jika itu bisa dilakukan maka ke depan kita bisa menatap dunia pendidikan dengan senyum merekah. Semoga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya&lt;br /&gt;Mei 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-6171375842484690050?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/6171375842484690050/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2011/01/carut-marut-un-perlunya-sebuah-cetak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/6171375842484690050'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/6171375842484690050'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2011/01/carut-marut-un-perlunya-sebuah-cetak.html' title='Carut-marut UN, Perlunya Sebuah Cetak Biru'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/TS1rs9FF6LI/AAAAAAAAADw/_gGeZRpZd-Q/s72-c/070522_ujian20nasional.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-4158696125295005472</id><published>2011-01-12T00:46:00.000-08:00</published><updated>2011-01-12T00:49:34.887-08:00</updated><title type='text'>Ganyang Malaysia?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/TS1rDJW6f5I/AAAAAAAAADo/pgPUEY_IUKA/s1600/Ganyang%2BMalaysia.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 303px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/TS1rDJW6f5I/AAAAAAAAADo/pgPUEY_IUKA/s400/Ganyang%2BMalaysia.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5561218816668237714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;      Sebelumnya maaf kalau tulisan ini terkesan basi tetapi kembali berminat menulis setelah menghadiri suatu kajian tentang nasionalisme dan kasus klaim Malaysia beberapa hari yang lalu. (semoga berkenan membaca).........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Beberapa hari ini kita “diusik” oleh berita mengenai “klaim” budaya Malaysia atas budaya local Indonesia untuk kesekian kalinya. Rupanya negeri Jiran itu tak hentinya menabuh gendering “keramaian” bangsa ini. Klaim terakhir yang dilakukan oleh negara tujuan “ekspor TKI’ tersebut adalah atas Tari Pendet dari Bali. Karuan saja ulah ini menjadikan “heboh” dimana-mana. Mulai dari media cetak maupun elektronik bahkan jejaring social semacam Facebook turut “heboh” dengan kecaman dan “rasa marah” yang membuncah dari segenap anak negeri yang merasa terusik rasa nasionalismenya. Ada yang berunjuk rasa, ada yang membuat persatuan Ganyang Malaysia dan sejenisnya. Bahkan jika negeri asal Siti Nurhaliza itu menyebut kita “indon”, bangsa ini memiliki julukan sebagai Malingsia. Sebuah ungkapan yang menunjukkan kekesalan atau bahkan kemarahan tingkat tinggi yang sudah muak dengan klaim demi klaim negeri Petronas itu yang bahkan sudah dimulai sejak puluhan tahun silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Masih segar dalam ingatan kita bagaimana pada tahun 1957 lagu kebangsaan Malaysia, Negaraku memiliki kemiripan dengan lagu Terang Bulan. Kemudian pada tahun 2000 ada gamelan Jawa dan lagu Injit-Injit Semut dari Jambi, berlanjut pada 2005 klaim Badik Tumbuk Lada dari Riau, 2006 batik perang asal Yogya dan angklung asal Jawa Barat. Pada tahun 2007 lebih banyak lagi yakni wayang kulit, rending naskah kuno dan yang heboh lagu Rasa Sayange dari Maluku, lalu 2008 silam ada Reog Ponorogo yang begitu heboh bahkan tidak hanya itu saja ada klaim atas kain Ulos Sumatera Utara dan keris Jawa dan yang terbaru adalah tari pendet asal Bali (Kompas, 31/08/09). Terang saja ulah terakhir ini semakin “memanaskan” sebagian besar elemen bangsa ini hingga beragam cara dilakukan. Jika demikian bagaimana kita melihat kasus ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Ada baiknya kita melihat bahwa masalah plagiarism dan klaim kita juga harus banyak introspeksi diri. Untuk kasus di bidang musik ini, kita bisa membaca ulasan menarik dari Remy Sylado, seorang pengamat musik (Kompas, 06/09/09). Dimana secara singkat dijelaskan bahwa bangsa ini juga “raja”nya mengklaim. Selain itu, Malaysia “pandai” memainkan marketing dunia pariwisatanya karena dengan memanfaatkan sentuhan emosi yang “jitu” tersebut Malaysia berhasil meningkatkan kunjungan wisatawan asing ke negaranya (Kompas, 05/09/09) dan hal itu bisa kita lihat dari trafik kunjungan wisatawan asing yang berkunjung ke negeri bekas jajahan  Inggris tersebut yang meningkat setelah muncul kasus klaim. Namun yang menjadi fokus penulis dalam hal ini bukanlah ulasan dari harian Kompas tersebut, melainkan bagaimana kita melihat sisi tumbuhnya nasionalisme dan sense of belonging  kita justru setelah “disadarkan” oleh negara tetangga kita ini. Bagaimana tidak setelah adanya “klaim” kemudian muncul perbincangan urgensi nasionalisme bangsa baik di media cetak dan elektronik. Bahkan generasi muda yang sedang “keranjingan” Facebook dan biasanya hanya melakukan perbincangan yang kurang memiliki esensi, tiba-tiba berubah drastis menjadi “pejuang nasionalisme dadakan” dengan memposting tulisan, membuat grup serta berbagi atribut lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Bahkan biasanya, lembaga terkait milik pemerintah yang terkesan “diam” dan tidak melakukan usaha inventarisasi budaya sebagai tugas dan amanahnya, juga ikut “tersadar” dengan mulainya aktivitas untuk melakukan inventarisasi budaya meskipun kesannya masih “setengah hati”. Artinya terlepas dari perdebatan nasionalis atau tidak, maka kita ini sebenarnya “dibangunkan” kesadaran sense of belongingnya oleh tetangga kita itu. Namun tradisi kita yang terkesan hanya “panas” sesaat juga akan kambuh. Awalnya semangat penuh setelah itu melempem. Apalagi banyak yang berkoar-koar itu bukanlah merupakan “penikmat” produk lokal. Ini kalau mau menilai nasionalisme dari penggunaan produk lokal.    Oleh karenanya, dengan kemudian melontarkan kembali jargon “Ganyang Malaysia” menjadi kurang relevan untuk konteks ini. Jika kita mengatakan bahwa tari Pendet, lagu-lagu daerah dan berbagai kesenian luhur budaya bangsa adalah milik kita sebagai bangsa, apa sumbangsih kita yang benar-benar real? Dengan having breakfast, lunch dan dinner di tenantnya McD, KFC atau J-Co atau tenant yang lekat dengan budaya asing lainnya. Lalu kapan warteg, PKL dan para penjual di pinggir lainnya itu ramai kita beli atau berapa banyak dari kita yang memiliki ketertarikan akan budaya nasional kita. Kita justru lebih sibuk dan senang dengan hal-hal yang berbau “luar” dan tiba-tiba adanya klaim itu membuat telinga kita “panas” dan sekali lagi hanya kepanasan sesaat tapi setelah itu raib entah kemana rasa panasnya. Ini pun kalau hanya mau melihat nasionalisme dari aspek kesenangan terhadap sesuatu yang bersifat fisik. Meskipun menurut penulis perwujudan nasionalisme tidaklah hanya demikian bahkan untuk konteks era dimana kapitalisme sedang menggurita. Perusahaan-perusahaan asing ada hampir di seluruh wilayah RI dan hampir keseluruhan hanyalah menggerogoti kekayaan negeri ini. Ini adalah sesuatu yang besar. Sekarang mari kita lihat seberapa kita konsisten dengan apa-apa yang melekat dengan keseharian kita. Berapa banyak dari kita yang lebih bangga bisa bercas cis cus menggunakan bahasa asing daripada bahasa Indonesia yang baik dan benar, berapa banyak dari kita yang menggunakan seolah “tak bisa hidup” jika tidak menggunakan produk luar negeri. Seperti rela menghabiskan uang demi membeli produk Levi’s, Gabrielle dan sejenisnya daripada untuk membeli buku-buku untuk menunjang dan me-upgrade sehingga kita bisa meningkatkan wawasan dan pengetahuan guna menjadi SDM bangsa yang berkualitas. Meskipun ini bukan tolok ukur satu-satunya tetapi bisa dijadikan sebagai salah satu indikator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Kembali kepada tema, maka marilah dengan adanya kasus ‘klaim” dari negara tetangga ini menjadikan kita semakin sadar bahwa ada banyak hal yang perlu kita benahi pada diri kita sendiri. Baik sebagai individu, masyarakat maupun pemerintah bukan sekedar mengeluarkan jargon “ Ganyang Malaysia “ yang hanya muncul sesaat dan kemudian hilang kembali. Nasionalisme harus ada dalam dada dan jiwa serta segenap hidup kita kapanpun dan dimanapun serta bukan hanya muncul saat ada “peristiwa klaim” saja tetapi sebagaimana dicontohkan oleh founding fathers bangsa ini. Dahulu !!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-4158696125295005472?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/4158696125295005472/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2011/01/ganyang-malaysia.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/4158696125295005472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/4158696125295005472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2011/01/ganyang-malaysia.html' title='Ganyang Malaysia?'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/TS1rDJW6f5I/AAAAAAAAADo/pgPUEY_IUKA/s72-c/Ganyang%2BMalaysia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-9086809035520893479</id><published>2010-12-31T03:38:00.000-08:00</published><updated>2010-12-31T03:40:09.912-08:00</updated><title type='text'>2010: Antara aku dan "Aku"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/TR3BDv9arzI/AAAAAAAAADg/RrD44EtSJ6k/s1600/merenung-jiwasukses.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/TR3BDv9arzI/AAAAAAAAADg/RrD44EtSJ6k/s400/merenung-jiwasukses.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556809785402896178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;       aku tidak tahu harus menulis apa di akhir tahun 2010 ini. Jujur tak pernah diriku terlibat perayaan aneh ini. Selain belum dapat "riwayat" jelas tentang model perayaannya, aku berpikir jika Indonesia rtermasuk negara "miskin" menurut analisa Barat dan termasuk dalam developing countries, lalu mengapa perayaan pergantian tahun "sangat" meriah kalo tidak mau dikatakan biasa-biasa saja? Kira-kira dari ujung Sabang sampai Merauke yang merayakan pergantian tahun baru itu kita total biaya penggunaannya berapa Triliun rupiah yang terkumpul dan seandainya kita gunakan untuk acara filantropi berapa rakyat yang masuk "tepat" di garis maupun di bawah garis "kemiskinan" dapat merasakannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Selama 2010 aku tak pernah bisa menjadi "Aku", yang ada aku tetaplah berproses stagnan menjadi aku tak pernbah sekalipun bergerak ke garis "Aku". entah kenapa? "Aku" senantiasa setia menunggu aku bergerak pada "Aku" itu tetapi berat rasanya. aku memang bukan manusia sempurna dan hebat, pandai dan pintar sebagaimana banyak dinilai sekelilingku. aku tetap belum bisa menjadi "Aku". Sulit. Sumpah! Tapi aku bersyukur karena sebagai aku yang diangkat olehNYA untuk menikmati banyak kenikmatan yang tak bisa dirasakan oleh masyarakat di "pucuk gunung" nun jauh di sana. jauh dari "peradaban" (ini yang membingungkan kalo manusia jenis "homo sapiens" mengatakannya. aku gak ngeh dengan artinya). Mulai dr hadiah-hadiah berupa perjalanan keliling ke luar dan segepuk kasih sayang dari orang-orang yang sebelumnya tak pernah saya perkirakan akan hadir dalam hidup saya. Bayangkan! aku meski belum bergerak menjadi "Aku" tapi DIA memberikan orang-orang yng begitu "care" dan aku pun tertegun karenanya. Gak percaya aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pada tahun 2010 pula karena banyaknya halangan dan rintangan aku menunda "kelulusan administrasi" tetapi DIA tidak pernah melupakanku meski aku selalu mengkhianati cintaNYA. dapat kerja dari orang-orang yang tak pernah kupikirkan juga dengan bayaranyang tak pernah kebayang. Tinggal nganter naik taxi, menemani makan dan terus mewawancarai responden, jutaan rupiah mengalir ke rekeningku dalam hitungan hari. tapi yang masih membuatku sedih dan resah, aku belum juga bisa bergerak ke arah "Aku". Akibat ini pula aku menolak tawaran lanjutan studi ke negara "adidaya" dunia dan "adidaya" di asia tenggara. Heran khan! banyak yang menyalahkan langkahku. tapi mau gimana kalo aku belum bisa menjadi "Aku", aku takut makin jauh dariNYA. Jujur. Sumpah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bahkan hanya tahun ini selama studiku dimana aku tak menikmati "ritual"ku sendiri. Ke desa. menikmati hembusan angin semilir. Gemericik air sungai yang seolah bernyanyi memuji penciptaNya, guyuran anak-anak desa yang tengah mandi di sumur. Alam perdesaan begitu menggoda. aku serasa 'dipaksa" untuk senantiasa menjadikannya "terapi" di tengah kesibukan dan keruwetan hidup di kota. tetapi kadang aku tak habis pikir mengapa banyak anak bangsa masih berjejal di bandara dan pelabuhan internasional untuk menikmati "keindahan" semu. Bukankah negeri ini telah diberi anugerah yang begitu melimpah berupa keindahan alamiNya. Mengutip pernyataan Syekh Muhammad Syaltut, rektor Universitas Al-Azhar-Mesir saat berkunjung ke Indonesia pada tahun 1960, bahwa negeri ini adalah serpihan potong surga yang diturunkan ke bumi. Tapi aku-aku yang lain tetap saja belum bergerak ke arah "Aku", mencari "keindahan" semu. Entahlah aku tak mau negative thinking, mungkin tiap aku memang punya pemikiran berbeda tentang itu. Tapi ijinkan saya menutup tulisan ini, jika semua aku di negeri ini mau bergerak ke "Aku" saya yakin ritual-ritula aneh yang selama ini dipertontonkan aku-aku itu akan bisa digerakkan ke aspek yang lebih berguna dan bangsa ini bisa bergerak ke garis lebih baik di tahun 2011 tak perlu menunggu 2025 ataupun 2050 sebagaimana keyakinan menteri kita yang penuh dengan rambut putih itu. Entahlah! Semoga saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kantor"ku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat, 31 Desember 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 17.28 WIB&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-9086809035520893479?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/9086809035520893479/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2010/12/2010-antara-aku-dan-aku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/9086809035520893479'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/9086809035520893479'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2010/12/2010-antara-aku-dan-aku.html' title='2010: Antara aku dan &quot;Aku&quot;'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/TR3BDv9arzI/AAAAAAAAADg/RrD44EtSJ6k/s72-c/merenung-jiwasukses.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-4147051944750838915</id><published>2010-12-26T22:49:00.000-08:00</published><updated>2010-12-26T22:53:50.295-08:00</updated><title type='text'>Inikah Penyebab Kekalahan Indonesia?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/TRg3kv1Ko5I/AAAAAAAAADY/RBeOpfLq1DQ/s1600/74620_1710847900812_1526558584_2369866_6948648_a.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 180px; height: 230px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/TRg3kv1Ko5I/AAAAAAAAADY/RBeOpfLq1DQ/s400/74620_1710847900812_1526558584_2369866_6948648_a.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5555251244815786898" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya Timnas Indonesia sudah 3 kali lolos ke Final Piala AFF baik saat masih bernama ini maupun saat masih bernama Piala Tiger. hanya publikasi media dan "tingkah polah" para politisi negeri ini saja saya kira yang membuat final kali ini lebih kelihatan "taste"nya. makanya timbul pemikiran nakal saat mau tidur begini. Apakah faktor-faktor di bawah ini yang membuat Timnas Indonesia menderita kekalahan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Publikasi media yang "berlebihan" termasuk adanya "brondong" baru Irfan yang baru memberi konstribusi gol "hanya" di pertandingan pertama tapi tiba2 bak artis "the rising star". Duh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tak kepalang tanggung, tingkah polah para politisi yang begitu "lebay" dalam menunjukkan "perhatian"nya seolah mereka lah yang paling berjasa terutama dr pihak si "kuning".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. yang tak kalah penting saya sebutkan saja beberapa yang penting:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   a. Menerima uang "haram" dari si NH. bayangkan miliaran. apa gak beban tuh pemain saat menerima? ini duit pribadi apa hasil korupsi yah? hahhaha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   b. Makan hasil perasan air mata "korban Lapindo" (yang dirubah jadi Lumpur Sidoarjo ama si "bangsat" itu). Masih ingat khan sarapan di rumah "the real president" pasca JK?hee&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   c. Menerima "hibah" tanah seluas 25 hektar. Ini punya siapa yah? lagian menurut kabar tanah di sana gak prospek. Lah kalo dikasih buat Timnas kan denyut ekonomi diperkirakan tumbuh dan yg ngambil untung? siapa lagi kalo bukan pemberi "kail".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   d. Pesawat carteran "sewa" dari si grup ARB. Nah loh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   e. Laser? ayolah itu tindakan oknum. jangan jadikan kambing hitam!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   f. yang terpenting lupa jati dirinya sebagai tim merah putih. Lihat saja yang dipakai, kaos putih kehijauan. Kan udah tahu kalo itu mirip dengan (es'a) milik grup ARB. Sebuah kesengajaan kah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   ha.a.a.a.a.a. tuntas sudah "penyebab" kekalahan timnas. Ada yang mau menambahkan? Munggo!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27 Desember 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pukul 01.10 WIB&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-4147051944750838915?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/4147051944750838915/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2010/12/inikah-penyebab-kekalahan-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/4147051944750838915'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/4147051944750838915'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2010/12/inikah-penyebab-kekalahan-indonesia.html' title='Inikah Penyebab Kekalahan Indonesia?'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/TRg3kv1Ko5I/AAAAAAAAADY/RBeOpfLq1DQ/s72-c/74620_1710847900812_1526558584_2369866_6948648_a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-2105904606096529137</id><published>2010-12-23T00:02:00.000-08:00</published><updated>2010-12-23T00:04:24.414-08:00</updated><title type='text'>I Am Loving Therefore I Am</title><content type='html'>I Am Loving Therefore I Am&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bustomi*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hidup karena cinta. Itu kata orang-orang di sekitarku. Bahkan dunia ini pun ada karena cinta bukan? Jika bukan karena cinta lalu untuk apa Tuhan menciptakan dunia dan seisinya ini? Sehingga saat seorang filsuf kenamaan asal Perancis, Rene Descartes, mengatakan “ karena berpikir (maka), aku ada” bukankah sah-sah saja jika aku mengatakan hal senada, “ karena cinta (maka) aku ada”. Semua bermula karena cinta dan akan berakhir disebabkan cinta pula. Setiap konflik di manapun di dunia ini tentulah karena cinta. Entah karena cinta pada diri sendiri, harta, tahta maupun wanita. Begitupun dengan diriku. Aku melakukan semua ini karena besarnya cintaku padanya. Sosok yang sempurna menurutku. Meskipun banyak yang menyalahkan pendapatku bahwa ada kesempurnaan pada pujaan hatiku ini. Mereka bilang bahwa hanya Tuhan yang berhak menyandar gelar sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutku apakah kita mau mengatakan bahwa tuhan itu sempurna atau tidak, Dia dengan sendirinya tetap tuhan. Aku menilai bahwa cintaku ini sempurna karena tidak tahu lagi diksi apa yang harus kupakai untuk melambangkan betapa rasa cinta yang begitu membuncah dalam jiwaku yang tak tertahankan ini. Jika setiap waktu hanya rona wajahnya yang indah nan elok sahaja yang terpatri dalam sukma. Tiap hembusan nafas hanya namanya yang terngiang. Bahkan saat tuts-tuts keyboard ini aku tekan hanya rangkaian huruf yang membentuk namanya saja yang ingin aku jamah. Betapa sempurna aku mencintainya. Dalam tidurku tak pernah lekang dari memimpikannya. Bangun tidurpun yang aku ingat bukan siapa aku tetapi dirinya. yah dia adalah segala bagiku. Tak ada lagi yang dapat membangkitkan gairah hidupku selain dia. Haq atas kekuatan yang menguasai diriku ini, cintaku begitu sempurna untuknya. Bahkan mulutku serasa menjadi najis saat aku menyebut namanya. Itu semua karena ia begitu suci bagiku. Sesuci cintaku padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena besarnya cintaku, tak sengaja air mata menetes saat aku mengecup bibirnya yang indah merekah. Aku lakukan saat dia memintaku untuk berada di samping tempat tidurnya. Saat itu begitu mencekam malamnya. Dia ketakutan. Dia meneleponku. Dia hanya meminta untuk menemani beberapa jam. Tetapi bagiku itu seakan permintaan selamanya. Maka aku temani malamnya hingga dia terlelap. Saat nyenyak menggelayutinya. Dia terlelap dalam tidur indahnya. Dia begitu terlihat sempurna dalam balutan gaun tidur hasil rajutan ibuku yang aku berikan sebagai hadiah ulang tahunnya dua tahun lalu. Yah dia begitu pandai menghargai pemberian orang lain. Mungkin ada kekuatan jahat yang memaksaku untuk melakukannya malam itu. Aku begitu takut. Tapi kesempurnaan cintaku dalam konsepsi pikiranku mengalahkan segalanya. Aku kecup keningnya. Aku kulum bibirnya. Betapa kedahsyatan aku rasakan. Yah hanya itu yang aku lakukan. Aku tak berani lagi. Tetapi aku bahagia. Yah kebahagiaan yang tak dapat digambarkan dengan kata-kata. Malam itupun aku tertidur di sampingnya. Laksana ayah yang sedang meninabobokan putri tercintanya. Sang ayah rela tertidur di lantai dekat sang putri tersayang demi menunjukkan kesempurnaan cintanya kepada sang buah hati. Dan aku melakukannya demi sang pujaan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga tibalah saat yang membuatku berpikir seakan tuhan menjelma menjadi sebuah ketidakadilan dalam hidupku. Aku divonis menderita kanker otak. Sebuah vonis yang menjelma bak palu godam. Aku begitu terpukul. Asa cinta yang sempurna seakan terhapus dengan sendirinya. Apakah aku harus merubah keyakinanku akan kalimat saktiku di awal bahwa “ karena cinta (maka) aku ada”. Tidak!! Aku tidak boleh menyerah. Dia begitu sempurna untuk aku lupakan. Ia adalah bidadari terhebat untuk kalah dengan vonis itu. Aku harus yakin cinta akan dapat mengalahkan semuanya. Hatta vonis atas diriku sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya apa yang aku takutkan tiba. Cintaku tahu akan derita yang aku alami. Dia menangis. Dia meneteskan air mata. Yah bidadariku merah mata indahnya. Sesuatu yang tak pernah aku temui selama hidupku. Sesuatu yang selalu aku jaga agar tak pernah kulihat terjadi padanya. Tak pernah kubiarkan siapapun membuatnya menangis. Dan sekarang aku yang membuatnya menangus. Tidak!! Tuhan memang tidak adil. Tuhan jahat telah membuat cintaku yang sempurna meneteskan air mata sucinya.&lt;br /&gt;Tidak boleh kubiarkan semua ini terus menerus terjadi. Kekuatan cintaku harus bisa mengalahkan segalanya. Aku harus mengembalikan kekuatan cintaku yang sempurna. Penyakit ini tiadalah berarti jika dibandingkan dengan kesempurnaan cinta yang aku yakini. Aku pun menggugat Tuhan tiap malamku. Aku berdiskusi denganNya. Aku katakan padaNya bahwa jika aku ada karena cintaNya yang menjelma dalam sukma alam, maka ijinkan aku sembuh untuk membuktikan pada dunia bahwa memang cintaku sempurna adanya. Dan kini aku telah yakin kembali. Vonis itu hanyalah onak yang mencoba menguji kesempurnaan cintaku. Cintaku pun paham hingga akhirnya aku dan dia dalam balutan suci sukma asmara menjalani keyakinanku. Aku pun bahagia karena cinta maka aku ada hingga kurub mataku meninggalkan alam mayapada ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Alumnus Departemen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Airlangga&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-2105904606096529137?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/2105904606096529137/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2010/12/i-am-loving-therefore-i-am.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/2105904606096529137'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/2105904606096529137'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2010/12/i-am-loving-therefore-i-am.html' title='I Am Loving Therefore I Am'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-6013101493490710864</id><published>2010-12-22T23:55:00.000-08:00</published><updated>2010-12-23T00:06:48.494-08:00</updated><title type='text'>pahlawan, (ke)pahlawan(an) dan Sejarah (Islam) Indonesia</title><content type='html'>Saya mendapat “tawaran” menulis dari “ Bumble Bee” tentang pahlawan dan kepahlawanan. Bingung juga karena menulis tema tersebut berarti terkait sejarah. Terdapat sebuah adagium terkait hal ini, “sejarah adalah milik para pemenang”. Maka tidak salah lagi bila “sejarah Islam” di Indonesia seakan hilang ditelan bumi. Sejak kecil (baca SD) hingga menjadi mahasiswa pun kita bahkan lebih tahu dan mengerti sejarah “sekuler” dan “Barat” daripada tentang peran Islam sendiri. Padahal kita mengaku diri ini Muslim. Aduch! Ini sungguh ironi mengingat Al-Quran sebagai guidelines kita dalam menjalani hidup telah memerintahkan untuk ber-Islam secara kaffah (Q.S Al-Baqarah: 208). Tahukah kita jika Sisingamangaraja XII dan Thomas Mattulessy alias Kapiten Pattimura adalah seorang muslim? (silahkan lihat buku Api Sejarah karya Ahmad Mansur Suryanegara, 2010) Lalu bagaimana dengan “Pejuang Muslim” lainnya yang telah memberikan “jiwa dan raga”nya untuk Bumi Pertiwi justru dianggap “pahlawan pinggiran” semisal M. Natsir dan Bung Tomo (yang November 2 tahun lalu baru diakui sebagai “pahlawan” oleh pemerintah. Dan ini agak “politis” karena atmosfir politik yang dekat dengan Pemilu 2009 membuat kita perlu mempertanyakan mengapa baru keluar tahun itu meskipun di sisi lain kita juga perlu bersyukur).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukannya apologetik karena penulis adalah seorang muslim tetapi mengapa seakan ada “gerakan sistematis” untuk menghapus peran Islam dan Muslim bagi pembentukan negeri ini? Padahal Soekarno yang jelas-jelas melakukan tindakan inkonstitusional dengan mengeluarkan Dekrit 5 Juli 1959 untuk membubarkan Dewan Konstituante hasil pemilu yang demokratis (untuk masalah ini silahkan lihat Moh. Hatta dalam Demokrasi Kita) begitu dipuja-puja laksana dewa. Kita tahu jasa Soekarno dan tokoh nasionalis lainnya bagi negeri ini tapi jika dilihat baik secara fiqriah dan jasadiah maka kita bisa menilai sendiri aspek pahlawan dan kepahlawanan (anda sendiri yang bisa menilainya. Monggo!). Siapapun tahu bagaimana peranan Islam dan Muslim bagi Indonesia bahkan jauh sebelum negeri ini terbentuk. Tetapi yang menjadi “pemikiran” penulis adalah dimana secara hakiki bentuk penghargaan bangsa ini terhadap mereka (meskipun penulis yakin mereka tidak meminta “penghargaan” itu) yang berkorban banyak pada negeri ini. Soekarno pernah mengatakan “ bangsa yang besar adalah yang menghargai pahlawannya” tetapi mengapa penghargaan hanya diberikan pada mereka yang secara substansial kurang berperan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ditilik lebih jauh bahkan hanya bangsa ini, sekali lagi hanya bangsa ini yang tidak menghargai hasil konstruksi sejarah bangsanya berupa konstitusi legalnya. Amerika saja begitu menghargai “Konstitusi”nya sehingga tidak berani “merubah”nya, yang mereka lakukan hanya amandemen. Tetapi bangsa ini malah “keterlaluan”, dengan berkedok amandemen, “Piagam Jakarta” dirubah secara substansial. Jika kemudian banyak tokoh nasional lainnya berdalih bahwa itu demokratis, maka demokratis dalam artian yang bagaimana? Demokrasi (hingga saat ini) yang diterapkan bangsa-bangsa di dunia adalah demokrasi mayoritas. Bangsa ini mayoritas muslim tetapi “mereka” senantiasa dicederai dalam konstelasi perpolitikan bangsa. Bahkan sejarahnya “sengaja ditelikung” dalam dunia pendidikan, sehingga generasi mudanya menjadi buta akan peranan Islam dan Muslim dalam sejarah perjalanan bangsa ini. Islam dan Muslim yang penulis maksudkan adalah dalam artian yang sebenarnya bukan hanya sekedar bahwa para decision makers dan stakeholders bangsa ini beragama Islam dalam KTP mereka. Tidak! Bukan seperti itu. Kembalikan hak itu! Bangsa asli Amerika adalah orang Indian yang “ditindas” dan “diberangus”. Bahkan jika pun kemudian kita tak perlu merepotkan hal ini, bangsa Amerika inipun sejak kemerdekaannya pada tanggal 4 Juli 1776 (lihat Garis Besar Sejarah Amerika, 2004, diterbitkan oleh United States Information Agency, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat) baru bisa memiliki Presiden pertama keturunan Afro-Amerika pada tahun 2008 tanpa sekalipun memiliki presiden wanita dan tak pernah melakukan pemilihan presidennya secara langsung tetapi melalui sistem electoral college. Padahal usia bangsa ini sudah memasuki “udzur” yakni 232 tahun. Bangsa ini pun dianggap sebagai kampiun demokrasi dan mencoba “memaksa” bangsa kita untuk berdemokrasi secara “utuh” padahal dia sendiri masih menerapkan sistem itu dengan “setengah hati”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada tema kita, maka apakah kita masih mau “berdalih” ini dan itu bahwa bangsa ini telah memberikan penghargaan yang “semesti”nya terhadap pahlawan dan kepahlawanan. Dimana? Dengan memberikan gelar “pahlawan” pada dua tokoh tersebut di atas? Dimana hal tersebut masih menjadi “pertanyaan” sendiri bagi banyak pihak karena terkesan “politis” mengingat menjelang pemilu saat gelar itu "direstui". Sedangkan dalam bentuk “pelurusan” sejarah (Islam) bangsa terutama melalui dunia pendidikan masih jauh panggang dari api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wallahua'alam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-6013101493490710864?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/6013101493490710864/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2010/12/pahlawan-kepahlawanan-dan-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/6013101493490710864'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/6013101493490710864'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2010/12/pahlawan-kepahlawanan-dan-islam.html' title='pahlawan, (ke)pahlawan(an) dan Sejarah (Islam) Indonesia'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-6110343476601387302</id><published>2010-12-22T21:35:00.001-08:00</published><updated>2010-12-22T21:37:03.903-08:00</updated><title type='text'>Wah Pejabat Kita "Rai Gedek" juga!!!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/TRLf8LjuCwI/AAAAAAAAADI/RHb1V2daw_E/s1600/12104-diambil-dari-google-com.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 225px; height: 225px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/TRLf8LjuCwI/AAAAAAAAADI/RHb1V2daw_E/s400/12104-diambil-dari-google-com.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5553747515488996098" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;     Wah pejabat kita ternyata tetap saja bersikap "rai gedek" terkait realita yang ada. Di tengah euforia kemenangan Timnas, tentunya sedikit atau bahkan tidak ada yang bakal mengkritisi "plesiran" mereka. Entah uangnya dari mana? Tapi kemungkinan besar dari rakyat khan? he.e..e.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Berikut beberapa nama pejabat dan tokoh tersebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mekokesra, Agung Laksono dan isteri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menegpora, Andi Alfian Mallarangeng dan isteri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Meneg PAN, Evert Erenst Mangindaan dan isteri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad dan isteri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Menakertrans, Muhaimin Iskandar dan isteri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Mendiknas, Mohammad Nuh dan isteri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Ketua DPR, Marzuki Alie&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Wakil Ketua Komisi IX DPR-RI, Irgan Khairul Maghfur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Ketua Muhammadiyah, Din Syamsuddin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Meskipun bukan dalam tugas kenegaraan katanya penyambutan akan dilakukan dengan meriah, Menurut Dubes RI untuk Malaysia.Tertulis ada Ketum salah satu organisasi terbesar kita juga ikutan semoga saja yg terbesar gak ikutan juga. Tiba-tiba timbul pemikiran NAKAL: saat di sana apakah para pejabat ini akan mencoba mengunjungi para TiKiAi kita di sana nggak yah? Mencoba mendengar keluhan dan permasalahan mereka dan mencoba memberikan "santunan" akhir tahun dengan jaminan perlindungan. Kan ada Menakertrans dan Menkokesra. ;))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Disadur dari www.tempointeraktif.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-6110343476601387302?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/6110343476601387302/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2010/12/wah-pejabat-kita-rai-gedek-juga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/6110343476601387302'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/6110343476601387302'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2010/12/wah-pejabat-kita-rai-gedek-juga.html' title='Wah Pejabat Kita &quot;Rai Gedek&quot; juga!!!'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/TRLf8LjuCwI/AAAAAAAAADI/RHb1V2daw_E/s72-c/12104-diambil-dari-google-com.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-7413329491081395140</id><published>2010-12-22T21:23:00.000-08:00</published><updated>2010-12-22T21:25:20.692-08:00</updated><title type='text'>Sebuah Cerita Dari Sudut Kota</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/TRLdMnRPmWI/AAAAAAAAADA/FA4ev20ONKg/s1600/9398-diambil-dari-google-com.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 76px; height: 99px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/TRLdMnRPmWI/AAAAAAAAADA/FA4ev20ONKg/s400/9398-diambil-dari-google-com.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5553744499270719842" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;       2010 ini adalah tahun Pilkada. Semua calon merasa paling bisa menjadi problem solver menjadi yg paling bisa menyejahterakan rakyatnya. paling tidak dalam kurun waktu 12 tahun sejak Reformasi aku menyaksikan "pepesan kosong" tersebut. marilah sejenak kita baca kisah berikut ini. semoga bisa mengambil hikmahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     " Di sebuah kota, aku melihat perempuan yang sangat tua. Tubuhnya pendek tipis melengkung. Setiap malam ia menunggui lapak bambu yang kusam dengan disinari lampu minyak tanah. Di atas lapak tuanya sesisir pisang, satu toples kacang yang dimasak dengan tanah dan beberapa kacang yang telah dibungkus kertas, ditambah beberapa bungkus rokok. Perempuan tua itu berjualan tepat di seberang jalan rumah bupati. Sejak beberapa waktu ini aku tidak melihatnya lagi. bahkan Lapak tua sudah dibersihkan "orang".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Air mataku menetes satu demi satu karena ini adalah kisah yang pernah saya alami sendiri. Fenomena ini ternyata adalah fenomena gunung es. Aku hampir bisa menemukan di setiap kota yang aku jumpai. lalu kemana para calon yang dulu menawarkan "pepesan" saat kampanye dulu. Jika sekarang banyak Pilkada aku takut "mereka" sama saja. entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Quds Tepi Barat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30 Mei 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-7413329491081395140?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/7413329491081395140/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2010/12/sebuah-cerita-dari-sudut-kota.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/7413329491081395140'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/7413329491081395140'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2010/12/sebuah-cerita-dari-sudut-kota.html' title='Sebuah Cerita Dari Sudut Kota'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/TRLdMnRPmWI/AAAAAAAAADA/FA4ev20ONKg/s72-c/9398-diambil-dari-google-com.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-4770503971036506561</id><published>2010-12-22T21:20:00.000-08:00</published><updated>2010-12-22T21:22:37.098-08:00</updated><title type='text'>Refleksi Kebangsaan: Rakyat Butuh Bukti Bukan janji</title><content type='html'>Indonesia, sebuah imagined community yang telah berusia 65 tahun. Konstitusi telah dibentuk jauh sebelum kemerdekaan diproklamirkan. Tujuan utama kemerdekaan adalah jembatan untuk menuju cita-cita utama bangsa, keadilan dan kesejahteraan rakyat negeri ini. Karenanya entitas politik yang secara geografis termasuk zamrud khatulistiwa memiliki tagline yang diinternalisasikan kepada generasi bangsa sejak dini, gemah ripah loh jinawi- toto tentrem kerto raharjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergantian kepemimpinan telah terjadi 6 kali- di luar perdebatan sejarah mengenai Pemerintahan Darurat Republik Indonesia- mulai dari Bung Karno, Pak Harto, BJ Habibie, Gus Dur, Ibu Megawati hingga SBY. Amanah konstitusi untuk mensejahterakan rakyat yang berkeadilan belum pula terwujud secara komprehensif. Angka kemiskinan masih saja "menganga" tajam. Menurut data dari Bada Pusat Statistik[1], angka kemiskinan berkisar 14,5% dimana berdasarkan sensus terbaru 2010 data tersebut turun menjadi 13,3%, tetapi data dari BPS tersebut menuai kecaman mengingat banyak data kemiskinan antar lembaga yang satu dengan yang lain berbeda angkanya[2]. tetapi yang terpenting bukan pada angka yang memang seringkali semrawut dan acak-acakan tersebut, melainkan realitas dimana masih banyak rakyat miskin. Pendidikan gratis dan program bantuan semacam Dana Operasional Sekolah justru menjadi "ruang" baru untuk melakukan praktek korupsi. Bahkan pemerintahan kita pasca reformasi pun masih terbelit dengan kasus korupsi. Jargon untuk mewujudkan clean government dan good governance ternyata masih jauh panggang dari api. Bukti terkuat dari itu semua adalah kasus Bank Century yang ditengarai melibatkan elite politik di lingkaran pusat. Tetapi melalui berbagai maneuver maka perlahan tapi pasti "mega prahara" yang sempat heboh tersebut kini mulai meredup. Mulai dari pengangkatan tokoh yang disangka sebagai actor dibalik megaskandal tersebut sebagai pejabat-pejabat strategis baik di lembaga asing dunia maupun di lingkaran pusat pemerintahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manuver tersebut ternyata tak berhenti di situ pula. Berbagai upaya untuk "mengalihkan" isu menjadi semacam program "wajib" pemerintah beberapa waktu belakangan ini. Sebut saja kasus berlebihan penanganan video artis, rumah dan dana aspirasi. Masalah tersebut belum pula selesai ditambah deretan panjang kasus korupsi baru yang diungkap salah seorang pejabat tinggi Polri, Susno Duadji yang memunculkan kasus rekening gendut sejumlah petinggi kepolisian Indonesia dan kasus Gayus. Tetapi maneuver dan pengalihan isu seolah menjadi "obat" mujarab pemerintah untuk berkelit dan menghindar dari upaya penuntasan kasus. Setelah diungkap dan sempat controversial, kasus rekening gendut Polri dan kasus Gayus, muncul manuver penangkapan Abu Bakar Ba'asyir sebagai tersangka teroris yang kesannya sangat berlebihan. Terlepas dari keterlibatan Ba'asyir terkait terorisme yang ada di Indonesia, penangkapan tersebut menguatkan indikasi adanya upaya pengalihan isu dari pihak kepolisian, terkait rekening gendut POLRI dan kasus Gayus. Bahkan melalui Gubernur Bank Indonesia yang baru (calon tunggal, padahal terindikasi terlibat kasus Bank Century), pemerintah menggulirkan isu redenominasi. Meskipun isu kebijakan redenominasi berbeda dengan kebijakan saneering yang pernah dilakukan di era Orde Lama tetapi penggunaan diksi pemotongan mata uang tentunya meresahkan masyarakat. Apalagi masyarakat Indonesia, khususnya kaum Muslim sedang menjalani bulan puasa yang identik dengan harga melambung tinggi. Redenominasi memang berbeda dengan saneering dan merupakan kebijakan bagus untuk meng-efisienkan proses transaksi ekonomi tetapi di tengah suasana yang seperti ini, pengguliran wacana tersebut terkesan tidak tepat dan hanya mencoba mengalihkan perhatian dan meresahkan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada Century, bagi rakyat yang tidak mengalami penyakit Amnesia, akan teringat dengan jelas perjalanan bangsa ini di awal tahun 2010, dimana bangsa ini diterpa oleh Skandal Bank Century yang merupakan skandal keuangan terbesar kedua setelah kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia yang mencapai lebih dari Rp 600 Triliun tanpa ada penyelesaian yang tuntas. Sebuah bank kecil yang mampu membuat para wakil rakyat dan istana terpecah belah dengan berani malu berfashion show memakai topeng berdiri di atas kepentingan rakyat di media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah terlalu banyak para begawan ekonomi, hukum, maupun politik yang mengupas akan kesalahan-kesalahan pemberian bailout kepada Century, tak ketinggalan pula wakil rakyat melalui hak angketnya melalui voting berkesimpulan akhir bahwa memang terdapat kesalahan pemberian bailout sebesar 6,7 triliyun tersebut, dan rakyat pun mengamini kesalahan itu. Terang sudah akan kesalahan bailout Century namun tidaklah kunjung terang penyelesaian dari kasus ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rakyat yang selalu menanti akhir yang indah dari kasus ini seolah-olah dibuat lupa. Tidak mengherankan jika hal ini senantiasa terjadi karena secara tidak sadar rakyat telah dibuat Amnesia oleh kecerdikan istana dalam meredusi kasus century dengan kasus-kasus yang lain. Penyakit yang selama ini sulit untuk diobati ini dipahami benar oleh istana untuk menghilangkan ingatan rakyat akan adanya kasus Century. Melalui media, istana berusaha meredusi kasus Century dengan tidak lagi mengupasnya akan tetapi mengganti kasus tersebut dengan mengupas habis kasus-kasus yang sekiranya tidak seheboh kasus Century, katakanlah kasus meledaknya tabung gas elpiji, terorisme, redenominasi, tarif daftar listrik, dan sebagainya, sehingga mau tidak mau media akan meliputnya. Memang kasus-kasus tersebut bersinggungan langsung dengan kepentingan rakyat dan patut dikupas tuntas, akan tetapi pewacanaan kasus-kasus tersebut tidaklah selayaknya menghilangkan kasus besar Century yang saat ini belum terselesaikan. Ironisnya, kasus yang hanya sebuah permasalahan pribadi, katakanlah kasus video porno Ariel dengan Luna Maya atau Cut Tari, berusaha diangkat dan perbincangan oleh istana sehingga mediapun akan memblowup besar-besaran apa yang sedang diperbincangkan oleh istana. Hal ini terlihat jelas dengan pemberitaan Century yang dahulu hampir setiap hari menghiasi headline sekarang sudah sangat jarang terlihat di media-media cetak maupun elektronik. Dengan cara sistematik klasik semacam ini, istana telah membuwat rakyat semakin menderita akan penyakit Amnesia. Hingga akhirnya kasus Century mengalami quo vadis dalam penyelesaiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita berharap semoga para wakil-wakil rakyat yang tidak ikut berperan dalam memperparah penyakit ini berani dengan lantang mengupas kembali dan mengakhiri kasus ini dengan penuh keadilan. Sudah selayaknya para wakil rakyat memberikan kado terindah untuk rakyat dalam memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia dengan sebuah penyelesaian akhir yang manis dari kasus Century agar kemerdekan Indonesia tidaklah menjadi sebuah kemerdekaan yang semu. Sebuah kemerdekaan yang hanya akan dinikmati oleh segelintir orang yang terlibat kasus Century yang selalu berlindung di ketiak istana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, kami dari elemen Mahasiswa menginginkan, sudah saatnya pemerintah meninggalkan proses pencitraan atas janji-janjinya. Rakyat sudah bosan. Kita membutuhkan pemerintah segera menyelesaikan kasus-kasus yang melibatkan para elite politik tersebut di atas sehingga bisa segera mewujudkan apa-apa yang telah "ditawarkan" saat mereka meminta kita memilih mereka, rakyat butuh bukti bukan pepesan kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini tepat 65 tahun kita berdiri dan berdaulat sebagai entitas politik yang hendak mencapai kesejahteraan yang berkeadilan bagi segenap manusia dan masyarakat Indonesia. 65 tahun silam, proklamator kita beserta para founding fathers  mendeklarasikan kemerdekaan bangsa. Tepat di bulan Ramadhan. Saat ini pun, kita tengah di bulan Ramadhan. Merupakan momentum yang tepat jika kita segenap anak bangsa yang didukung kuat oleh political will dari pemerintah dan wakil rakyat untuk melakukan kontemplasi atas kejadian masa yang telah berlalu untuk dijadikan sebagai cerminan guna menatap masa esok yang lebih cerah sebagaimana diamanatkan oleh konstitusi. Saatnya rakyat disuguhi Bukti BUKAN Janji!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Data diambil dari www.kompas.com, edisi 8 Desember 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Bisa dilihat di http://www.beritaindonesia.co.id/khas/data-kemiskinan-menuai-kecaman, diambil Kamis, 11 Agustus 2010.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-4770503971036506561?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/4770503971036506561/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2010/12/refleksi-kebangsaan-rakyat-butuh-bukti.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/4770503971036506561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/4770503971036506561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2010/12/refleksi-kebangsaan-rakyat-butuh-bukti.html' title='Refleksi Kebangsaan: Rakyat Butuh Bukti Bukan janji'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-4187281088774814066</id><published>2010-12-22T21:16:00.000-08:00</published><updated>2010-12-22T21:20:29.678-08:00</updated><title type='text'>Duh Gusti, PSSI iku piye toh?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/TRLcBBNe9cI/AAAAAAAAAC4/_dVkz775xwc/s1600/12097-diambil-dari-google-com.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 253px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/TRLcBBNe9cI/AAAAAAAAAC4/_dVkz775xwc/s400/12097-diambil-dari-google-com.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5553743200564213186" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;        emang nurani dan rasa nasionalisnya panitia lokal alias panitia dari PSSI itu ditaruh mana? mentang2 animo masyarakat untuk menonton langsung besar sekali,  TIKET final dinaikkan dan harganya hampir setara piala dunia. Nurdin Nurdin...udah penjilat, Bisnis mulu yang kamu pikirkan,..... makanya kebijakanmu instan2 thok... hufttt&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-4187281088774814066?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/4187281088774814066/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2010/12/duh-gusti-pssi-iku-piye-toh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/4187281088774814066'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/4187281088774814066'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2010/12/duh-gusti-pssi-iku-piye-toh.html' title='Duh Gusti, PSSI iku piye toh?'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/TRLcBBNe9cI/AAAAAAAAAC4/_dVkz775xwc/s72-c/12097-diambil-dari-google-com.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-609653006988592081</id><published>2010-12-20T21:12:00.000-08:00</published><updated>2010-12-20T21:16:14.418-08:00</updated><title type='text'>Apakah ini salah satu faktor kekalahan Filiphina?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/TRA3-sJxn9I/AAAAAAAAACw/wE2oMF7PTkY/s1600/diambil-dari-vivanews-com.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 180px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/TRA3-sJxn9I/AAAAAAAAACw/wE2oMF7PTkY/s400/diambil-dari-vivanews-com.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5552999890691399634" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;    Dalam sebuah tim sepakbola keberadaan pelatih memainkan peran penting untuk meraih kemenangan. Karena dengan strategi yang diraciknya dapat membantu pemain untuk membobol pertahanan lawan dan berikutnya melesakkan gol ke "benteng" yang dijaga algojo lawan.&lt;br /&gt;  Melihat pertandingan semifinal Indonesia vs Filiphina yang dua-duanya dimainkan di Indonesia sepertinya ada satu "pemain" yang sangat berjasa untuk tim kita yakni untuk "membuyarkan"  fokus strategi pemain lawan melalui pelatihnya, yakni si RA. artis bahenol nan seksi lagi bohay ini terlihat "mesra" dengan pelatih lawan kita di semifinal tsb sehingga "kemungkinan" tidak fokus untuk meracik ramuan "tokcer" melawan Indonesia....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya pikiran nakal.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya&lt;br /&gt;20 Desember 2010&lt;br /&gt;Pukul 16.30 WIB&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-609653006988592081?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/609653006988592081/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2010/12/apakah-ini-salah-satu-faktor-kekalahan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/609653006988592081'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/609653006988592081'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2010/12/apakah-ini-salah-satu-faktor-kekalahan.html' title='Apakah ini salah satu faktor kekalahan Filiphina?'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/TRA3-sJxn9I/AAAAAAAAACw/wE2oMF7PTkY/s72-c/diambil-dari-vivanews-com.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-6199846423041599109</id><published>2010-12-20T21:07:00.000-08:00</published><updated>2010-12-20T21:11:23.686-08:00</updated><title type='text'>Natal Dalam Pandangan Saya Sebagai Muslim</title><content type='html'>(mau share dengan anda dan mohon tanggapannya, ini adalah tulisan personal yg  sempat diminta salah satu pimred majalah komunitas dengan pasar jelas dan segmentasinya pun jelas tetapi 24 menit terakhir dilarang naik cetak karena ewan redaksi meminta pimred yang kebetulan teman saya untuk mengurungkan memuat tulisan singkat dan sederhana ini)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Desember menjadi bulan spesial bagi sebagian anak bangsa utamanya kaum Nasrani. Secara resmi dalam kalender global, setiap 25 Desember diperingati sebagai Hari Natal atau kelahiran Yesus Kristus bagi kepercayaan Nasrani. Bagi kita umat Islam khususnya di Indonesia bulan ini justru menjadi momentum kontroversial terutama terkait pembahasan tradisi mengucapkan selamat natal pada mereka yang merayakan. Setidaknya secara sederhana dapat diklasifikasikan dalam dua kubu kontradiktif yakni pro dan kontra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Saya tidak mau terjebak pada perbedaan sikap tersebut perbedaan bagi saya adalah rahmah sebagaimana sabda kanjeng Nabi. Bagi saya adalah takdir kita hidup dalam jagad Indonesia yang majemuk. Artinya merupakan sebuah keniscayaan hidup dengan beraneka elemen bangsa mulai dari suku, ideologi dan agama. Islam adalah agama yang mengajarkan kebaikan. Al-Quran sebagaimana termaktub dalam Surat Al-Mumtahanah: 8 memperkuat hal tersebut apalagi dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Al-Baihaqi meminta umatnya untuk berbuat baik terhadap kaum Nasrani. Problem yang muncul kemudian adalah mengenai pertanyaan bolehkah kita mengucapkan selamat Natal kepada kaum Nasrani? Secara subjektif saya mengatakan boleh saja. Tentunya jawaban ini akan sangat “mengganggu” bagi banyak kalangan. Tetapi saya berkaca pada prinsip agama sebagaimana telah disebutkan di atas. Bahkan dalam kitabnya Futuh al-Badan karya Al-Baladzury, banyak diceritakan bagaimana cara memperlakukan kalangan non-Muslim. Jawaban ini biasanya akan coba dikonfrontir oleh pihak kontra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Saya tidak mau berdebat dalam ranah ini. Karena ini masalah privasi. Saya menghormati setiap pilihan. Ini adalah bagian dari ijtihad pribadi. Bukankah dalam hadist yang mutafaqqun ‘alaih semua amal kita disandarkan pada niat. Secara pribadi, niat awal saya hanya sekedar mengucapkan selamat. That’s the point. Bukan mempercayai “keimanan” kalangan non-Muslim. Artinya mengucapkan selamat natal bagi bukan kemudian saya mengimani kepercayaan mereka. Tidak sama sekali. Ini hanyalah sekedar ritual dalam konteks bermuamalah dengan sesama manusia. Jadi jelas sekali niat awal mengucapkan selamat natal tersebut adalah menyenangkan teman atau tetangga kita sehingga kurang elok kiranya jika sampai dihubungkan dengan masalah keimanan. Saya percaya jika mereka kemudian tertarik kepada Islam akan lebih baik jika kita terapkan nilai-nilai ahsan (kebaikan) dan itu akan terjadi dengan sendirinya. Bukankah tiada paksaan dalam menganut agama sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT dalam Surat Al-Baqarah: 256.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Sepanjang sepengetahuan saya selama membaca tarikh, Nabi Muhammad selalu mempergunakan cara persuasif dalam mengamalkan ajaran Islam sehingga kalangan non-Muslim tertarik pada Islam justru setelah melihat amalan Nabi tersebut. Itulah yang ingin saya tiru. Menunjukkan kebaikan Islam bukan dengan kata-kata tetapi dengan perbuatan. Talk less Do more adalah wujud implementasi paling efektif akan ajaran Islam sehingga persuasi adalah konsekuensi bukan sporadisasi aksi. Wallahualam!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-6199846423041599109?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/6199846423041599109/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2010/12/natal-dalam-pandangan-saya-sebagai.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/6199846423041599109'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/6199846423041599109'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2010/12/natal-dalam-pandangan-saya-sebagai.html' title='Natal Dalam Pandangan Saya Sebagai Muslim'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-6524785595568007855</id><published>2010-05-25T23:33:00.000-07:00</published><updated>2010-05-25T23:43:18.239-07:00</updated><title type='text'>Bagi- Bagi Buku Gratis (Free E-Book)</title><content type='html'>Bagi teman-teman yang sedang senang membaca saya ada beberapa file dan bisa didownload.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo ada problem dengan pengaksesan bisa menulis komentar langsung di bawah artikel ini... kalo ada permintaan terhadap e-book yg lain atau untuk matakuliah lain kalo saya ada bisa dipesan lewat komen atau langsung aja hubungi saya di kampus (akubisa_tommyheaven@yahoo.com)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.   Globalisasi&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/10012327/3Globalization.pdf.html"_blank" title="Globalisasi"&gt;&lt;img src="" border="0" alt="download here"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.   Selamatkan Indonesia Amien Rais (EPI)&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/10012328/PG78_Amien_Rais_Selamatkan_Indonesia.pdf.html"_blank" title="Selamatkan Indonesia Amien Rais (EPI)"&gt;&lt;img src="" border="0" alt="download here"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.   Pendidikan Populer (Kajian Realitas Komersialisasi Pendidikan) &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/10012329/Pendidikan_Popular.pdf.html"_blank" title="Pendidikan Populer (Kajian Realitas Komersialisasi Pendidikan"&gt;&lt;img src="" border="0" alt="download here"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-6524785595568007855?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/6524785595568007855/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2010/05/bagi-bagi-buku-gratis-free-e-book.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/6524785595568007855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/6524785595568007855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2010/05/bagi-bagi-buku-gratis-free-e-book.html' title='Bagi- Bagi Buku Gratis (Free E-Book)'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-3503614829258528530</id><published>2010-05-24T22:49:00.000-07:00</published><updated>2010-05-24T22:56:12.476-07:00</updated><title type='text'>E-book Menarik Untuk Dibaca dan Di-Share Kawan-Kawanku!</title><content type='html'>Izinkan saya berbagai buku-buku GRATIS dan silahkan download serta saya mengharapkan untuk berbagi dengan yang lain. Jika Ingin berdiskusi silahkan di blog ini atau di FB saya dengan nama Abu Yasid Al-Busthomi. Selamat membaca dan berdiskusi kawan-kawan! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Dalih Pembunuhan Massal (G30S) &lt;a href="http://www.ziddu.com/downloadlink/9998835/DalihPembunuhanMassal.pdf"_blank" title="Dalih Pembunuhan Massal (G30S) "&gt;&lt;img src="" border="0" alt="download here"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. A Handbook of Monetary Economics (EPI) &lt;a href="http://www.ziddu.com/downloadlink/9998834/andbookofMonetaryEconomics.VOL.1_978-0-444-88025-3.pdf"_blank" title="A Handbook of Monetary Economics (EPI)"&gt;&lt;img src="" border="0" alt="download here"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Securitization Sukuk (EPI) &lt;a href="http://www.ziddu.com/downloadlink/9998836/48MuhammadAyubSecuritizationSukuk.pdf"_blank" title="Securitization Sukuk (EPI) "&gt;&lt;img src="" border="0" alt="download here"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-3503614829258528530?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/3503614829258528530/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2010/05/e-book-menarik-untuk-dibaca-dan-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/3503614829258528530'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/3503614829258528530'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2010/05/e-book-menarik-untuk-dibaca-dan-di.html' title='E-book Menarik Untuk Dibaca dan Di-Share Kawan-Kawanku!'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-831549788072535420</id><published>2010-05-14T23:39:00.000-07:00</published><updated>2010-05-14T23:44:05.895-07:00</updated><title type='text'>Mayoritas Khotbah Jumat MemBOSANkan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/S-5ChGue82I/AAAAAAAAACg/feCj3Z1P0ak/s1600/sholat+jumat.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 135px; height: 101px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/S-5ChGue82I/AAAAAAAAACg/feCj3Z1P0ak/s320/sholat+jumat.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5471383733810426722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;                          &lt;br /&gt;     Sudah tak terhitung berapa kali diri ini mengikuti "ritual" sholat Jumat sedari kecil hingga sekarang ini. Kalo di Madura full Arabic yg bikin banyak jamaah (kecuali yg santri atau mantan santri) gak mengerti SUBSTANSI khotbah di kota-kota besar memang lebih "menarik" dengan memakai bahasa Jawa atau Indonesia atau malah masih ingat saat di Al-Amien atau Ma'had Nurul Haromain Pujon memakai Bahasa Arab dan kromo Inggil tetapi santri paham. Yang menjadi menarik untuk diperbincangkan adalah MENGAPA CARA PENYAMPAIAN KHOTBAH tak pernah BERUBAH dari tahun ke tahun: MONOTON.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Jangankan GAYA sang khatib KONTEN-nya pun tak jauh membosankan. Hanya Berkisar HALAL-HARAM... SURGA-NERAKA... seolah merupakan justifikasi kalo Agama (Islam) hanya mengurusi hal itu. Padahal ada yang lebih substantif. Terkait Pendidikan, Etos Kerja, Pengentasan Kemiskinan dan tentunya banyak lagi persoalan kehidupan manusia yg membutuhkan. Memang tidak dipungkiri sebagai umat ber-agama kita butuh konten demikian tetapi kalo terus-menerus khan juga menjadikan seolah justifikasi bahwasanya Agama (Islam) tidak applicable dalam konteks kekinian. Bukankah ayat pertama kali turun sangat erat kaitannya dengan BUDAYA membaca. Bukankah banyak ayat terkait WAKTU dan pentingnya WAKTU itu. BUkankah banyak ayat yang MENUNTUT kita untuk "berpikir" dan "bekerja keras"....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Jika demikian jangan salahkan kalo muncul STIGMA, Agama (Islam) sudah ketinggalan zaman. Naudzubillah. Bukankah banyak TAKMIR yang sudah Sarjana bahkan sang khotib pun seringkali bergelar S-1 S-2 maupun S-3 tetapi gaya khotbah dan isinya gak jauh beda dengan warga kampung nun jauh di sana. Maka tak salah jika banyak PENDERITA insomnia "membanjiri" Sholat Jumat karena DIJAMIN bakal dapat obat mujarab: TERTIDUR. Duch sungguh sebuah IRONI yang nyata. Saya menjadi berandai-andai jika porsi KHOTBAH Jumat dalam satu bulan atau satu tahun 75% tentang Pentingnya Budaya Baca, Etos kerja, Pengentasan Kemiskinan dan Orang Miskin dan hal-hak terkait faktor2 yang dibutuhkan untuk kemajuan bangsa setidaknya dalam waktu 10 tahun akan memunculkan generasi yang "lebih OK" daripada realitas yang ada sekarang. Apalagi kalo saat KHOTBAH sang Khotib memakai LCD dengan menampilkan KHOTBAHnya seperti layaknya Manajer sedang menjelaskan arahan2 PENTING pada staf dan karyawannya. Mungkin penderita "Cepat Mengantuk" akan berubah SIGNIFIKAN...&lt;br /&gt;     Sebagai penutuo temen saya punya anekdot:&lt;br /&gt;" Sebuah dalih:&lt;br /&gt;A: Mas, kok engga shalat Jumat:&lt;br /&gt;B: Engga, mending di sini jagain sandal-sandal.&lt;br /&gt;A: Dosa loh mas.&lt;br /&gt;B: Engga apa-apa, dosa engga solat Jumat ini, bisa diganti solat dzuhur. Lagian di dalam khotbah pakai bahasa Arab, ndak ngerti saya.&lt;br /&gt;Di sini saya lebih manfaat. Orang-orang yang shalat bisa tenang, engga perlu takut sandalnya ilang"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallaualam...........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Quds Tepi Barat&lt;br /&gt;15 Mei 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-831549788072535420?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/831549788072535420/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2010/05/mayoritas-khotbah-jumat-membosankan.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/831549788072535420'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/831549788072535420'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2010/05/mayoritas-khotbah-jumat-membosankan.html' title='Mayoritas Khotbah Jumat MemBOSANkan'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/S-5ChGue82I/AAAAAAAAACg/feCj3Z1P0ak/s72-c/sholat+jumat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-7134987711228636096</id><published>2010-04-26T06:36:00.000-07:00</published><updated>2010-04-26T06:41:16.073-07:00</updated><title type='text'>Mempertanyakan Kesiapan Madura Pasca Suramadu</title><content type='html'>Menurut sebuah anekdot jika kita melihat pembangunan di Madura saat ini, hal itu sama dengan pembangunan di Jawa 10 tahun silam. Sungguh sebuah ironi mengingat jarak antara Jawa-Madura hanya beberapa kilometer. Sehingga percepatan realisasi Suramadu yang hampir mendekati 5 dekade dan telah memasuki 6 kepemimpinan di Jawa Timur menjadi sebuah keniscayaan. Dan alhamdulillah, hal tersebut menjadi kenyataan tatkala Jembatan Suramadu diresmikan bulan Juni 2009 silam. Diharapkan dengan adanya jembatan tersebut proses pembangunan di Madura akan berjalan lancar dan bisa mensejajarkan diri dengan daerah lain. Apalagi secara ekonomi, pulau eksotis ini menyimpan potensi yang sungguh luar biasa.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Namun, harapan itu hanya akan tinggal mimpi belaka jika kita melihat bagaimana realita yang ada. Di sini kita mencoba melihat dari kesiapan infrastruktur daerah-daerah di Madura. Sebut saja Bangkalan sebagai “penyambut” pertama, secara keseluruhan kabupaten paling dekat dengan Surabaya ini belum melakukan persiapan signifikan. Sebagai contoh, akses jalan utama di bagian selatan sangat tidak layak. Apalagi dari segi penerangan, begitu minim kalau tidak mau dikatakan parah. Sebagai anak daerah yang acapkali pulang pergi Madura-Surabaya di malam hari saya paham betul kondisi ini. Apalagi di sekitar daerah “gunung Gegger” yang memiliki tikungan tajam masih diperparah dengan kondisi gelap. Tentu ini menjadi kendala tersendiri. Belum lagi jika kita melihat keadaan ruas jalan di bagian utara Bangkalan, yang juga merupakan jalur utama antar daerah di Madura. Sebagai contoh ruas jalan dari arah pasar Tanjungbumi ke selatan menuju kecamatan Kokop hingga menembus Lomaer, daerah perbatasan dengan kabupaten Sampang rusak parah sehingga sangat membahayakan pengguna jalan bahkan di siang hari sekalipun, lebih-lebih di malam hari. Selain itu, di hari pasaran jalan menjadi macet terutama di sekitar pasar-pasar utama seperti di bagian selatan, Pasar Blega adalah contoh paling kongkret. Setiap hari pasaran maka “dijamin” jalanan macet total dan mengganggu arus lalu lintas dan di bagian utara keadaan ini diwakili oleh Pasar Sepulu saat hari minggu ( Ahadan kata orang Madura) dan Pasar Tanjungbumi terutama di hari Rabu dan Sabtu. Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut bukan tidak mungkin akan mengganggu proses “lalu lintas” ke depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Fakta-fakta di atas merupakan sebagian gambaran persiapan infrastruktur fisik di Madura, lalu bagaimana dengan kondisi di sektor yang lain, terutama pendidikan sebagai faktor kunci penghasil SDM berkualitas. Faktor inilah yang menurut penulis, perlu mendapat sorotan tajam dan seharusnya menjadi perhatian utama. Sebagai contoh di Kecamatan Kokop, dari diskusi tentang pendidikan dengan pihak terkait beberapa bulan lalu, terungkap bahwa di daerah ini masih sangat kekurangan tenaga pendidik. Bahkan di kecamatan ini baru ada satu sekolah menengah umum dan  kejuruan yang statusnya pun masih milik swasta serta belum memiliki izin resmi yakni di daerah Katol. Lebih ironis lagi adalah di Desa Mandung ada sebuah sekolah yang sejak tahun 1990an tak pernah direnovasi. Saat ini sisa kelas tinggal 2 ruangan (termasuk kantor) sehingga siswanya  harus masuk bergantian, itupun fakta yang ada mereka masuk jam 8 dan jam 9 paginya sudah pulang (kelas 1 sampai kelas 3) serta masuk jam setengah sepuluh dan pulang satu jam kemudian dengan tenaga pengajar yang hadir hanya 2 orang. Fenomena ini dari pengamatan penulis seperti gunung es. Artinya masih banyak cluster lain yang belum terungkap ke permukaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Hal tersebut diperparah dengan fenomena yang lebih mencengangkan lagi yakni latar belakang tenaga pendidik. Sebagaian besar adalah guru diploma dua dan banyak yang hanya sekedar lulusan sekolah menengah serta sedikit yang benar-benar memiliki kompetensi sebagai seorang pengajar sekaligus pendidik. Ternyata hal inipun belum mendapat perhatian serius dari pemerintah setempat. Padahal dunia pendidikan merupakan elemen vital dalam kemajuan suatu bangsa. Ini amat disayangkan mengingat secara politik, Madura memiliki kelebihan yakni semua kepala daerah di keempat kabupaten yang ada adalah representasi dari guru (baca: kiai), salah satu dari Empat Serangkai dimana bagi masyarakat Madura mereka memiliki tempat signifikan sebagai panutan. Apalagi keempat pemimpin daerah tersebut berangkat dari partai pengusung yang sama. Bukankah ini adalah modal penting untuk menyamakan langkah ke depan guna mengatasi problematika yang melingkupi Madura. Perbaikan revolusioner di dunia pendidikan merupakan sarat mutlak apabila Madura tidak mau menjadi ”kacung” di rumahnya sendiri.  Dan itu bisa dimulai dengan adanya political will dari pemimpinnya yang kemudian dibarengi sinergi warganya. Semoga!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangkalan&lt;br /&gt;2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-7134987711228636096?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://politikana.com/baca/2010/03/23/mempertanyakan-kesiapan-madura-pasca-suramadu' title='Mempertanyakan Kesiapan Madura Pasca Suramadu'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/7134987711228636096/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2010/04/mempertanyakan-kesiapan-madura-pasca.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/7134987711228636096'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/7134987711228636096'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2010/04/mempertanyakan-kesiapan-madura-pasca.html' title='Mempertanyakan Kesiapan Madura Pasca Suramadu'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-596544730920772125</id><published>2010-04-21T22:30:00.000-07:00</published><updated>2010-04-21T22:31:23.420-07:00</updated><title type='text'>Buku-Buku kaitannya dengan Geopolitics dan Geostrategy</title><content type='html'>Bagi teman-teman yang sedang concern dengan materi geopolitics dan geostrategy saya ada beberapa file dan bisa didownload.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Kalo ada problem dengan pengaksesan bisa menulis komentar langsung di bawah artikel ini... kalo ada permintaan terhadap e-book yg lain atau untuk matakuliah lain kalo saya ada bisa dipesan lewat komen atau langsung aja hubungi saya di kampus (akubisa_tommyheaven@yahoo.com)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Selamat mendownload dan gud luck guys...!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Place of Third Cinema &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/9068697/ePerilousPlaceofThirdCinema-DeborahDixonandLeoZonn.pdf.html"_blank" title="Place of Third Cinema"&gt;&lt;img src="" border="0" alt="download here"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. A critique of Critical Geopolitics &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/9068696/ACritiqueofCriticalGeopolitics-PhilKelly.pdf.html"_blank" title="A critique of Critical Geopolitics"&gt;&lt;img src="" border="0" alt="download here"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Contending Concepts in the Study of IR- Barry Buzan &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/9068695/urity..ContendingConceptsintheStudyofIR-BarryBuzan.pdf.html"_blank" title="Contending Concepts in the Study of IR- Barry Buzan"&gt;&lt;img src="" border="0" alt="download here"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. ContextualizingtheHumanSecurityAgenda-SimonDalby.pdf&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/9275629/..ContextualizingtheHumanSecurityAgenda-SimonDalby.pdf.html"_blank" title="..ContextualizingtheHumanSecurityAgenda-SimonDalby&lt;br /&gt;.pdf"&gt;&lt;img src="" border="0" alt="download here"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. raftandSecurityattheMillennium-GearidTuathail.pdf &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/9275628/raftandSecurityattheMillennium-GearidTuathail.pdf.html"_blank" title="raftandSecurityattheMillennium-GearidTuathail.pdf"&gt;&lt;img src="" border="0" alt="download here"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-596544730920772125?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/596544730920772125/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2010/04/buku-buku-kaitannya-dengan-geopolitics.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/596544730920772125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/596544730920772125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2010/04/buku-buku-kaitannya-dengan-geopolitics.html' title='Buku-Buku kaitannya dengan Geopolitics dan Geostrategy'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-1932320394908794058</id><published>2010-01-27T07:11:00.000-08:00</published><updated>2010-01-27T07:14:01.330-08:00</updated><title type='text'>NU tetap Moderat</title><content type='html'>NU tetap Moderat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dimuat Oleh KOMPAS Jatim, 13/11/2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca tulisan saudara M Kamil Akhyari ( Benarkah NU Moderat?, 04/11/2009) sungguh menarik. Sebagai sesama kader muda NU dan pula putra Madura yang terkenal dengan basis ke-NU-annya, saya merasa perlu untuk turut memberikan konstribusi terkait problematika yang diangkat. Sebelumnya, dalam konteks ini kita perlu membedakan antara dukungan nadhliyin dengan NU sebagai organisasi kemasyarakatan yang senantiasa menjadi “rujukan” bagi masyarakat, utamanya kalangan grass-root. Sejauh pengetahuan penulis yang merupakan putra asli Bangkalan dan Pamekasan, permasalahan seputar jilbab merupakan “keluhan” orang tua yang merasa putra-putrinya mengalami degradasi moral terutama dalam hal berpakaian seiring derasnya arus informasi dan teknologi. Ini logis mengingat informasi memiliki efek yang dapat berkembang pesat. Dikarenakan informasi merupakan bagian tak terpisahkan dari aktivitas manusia di mana kepribadian dan keberadaan kelompok dapat terbentuk. Mereka kemudian ”mengadu” kepada kiai yang notabene merupakan tokoh NU. Keluhan itu pun kemudian tentunya dirembug dan mencoba untuk disikapi. Jika demikian apakah Nu tidak lagi jadi pengayom bagi yang ”tertindas”? Bahkan di Bangkalan, penulis mengetahui sendiri, NU sebagai sebuah lembaga hanya mengeluarkan surat edaran berupa himbauan untuk memakai baju lengan dan celana panjang bagi putra dan berjilbab bagi putri, sedangkan perda (bukan raperda seperti yang diungkap saudara M Kamil Akhyari) belum ada. Bahkan himbauan ini seringkali disampaikan ulang oleh para kiai kampung lewat pengajian yang rutin dilakukan dan mendapat sambutan antusias dari masyarakat terutama orang tua.&lt;br /&gt;Lain Bangkalan, lain pula Pamekasan. Jika kemudian lahirnya Surat Edaran Bupati Nomor 450 Tahun 2002 tentang wajib jilbab bagi siswi dan karyawan pemerintah tidak lantas harus dibaca sebagai bentuk penindasan. Selama menempuh pendidikan menengah di kota Batik ini, penulis tahu dengan jelas bahwa peraturan itu hanya diperuntukkan bagi yang beragama Islam dan tidak berlaku bagi non-muslim. Selain itu, tidak ada bentuk ”perlawanan” dari masyarakat atau dengan kata lain ada persetujuan. Jika ini direspon positif maka akan sesuai dengan makna demokrasi menurut Abraham Lincoln (mantan presiden Amerika Serikat), demokrasi sejatinya adalah from people, by people and to people. Lebih dari itu, wajib jilbab di Pamekasan hanya berlaku di jam sekolah dan kerja, sedangkan di luar jam tersebut peraturannya tidak berlaku.&lt;br /&gt;Artinya, NU melalui para tokohnya yang notabene merupakan ”tempat curhat” menjadi perantara antara rakyat dan pemerintah dan tidak lantas harus dibaca sebagai desakan atau paksaan. Bukankah menurut teori sederhana decision making process ala David Easton dan Gabriel A. Almond dalam ranah politik, sebelum keputusan dibuat input kebijakan mengakomodir masukan dari masyarakat yang tentunya bisa melalui non-governmental organizations yang dalam hal ini diwakili oleh NU. Lalu dimana relevansi ”tuduhan” bahwa NU tidak memihak rakyat? Dimana pula justifikasi bahwasanya NU telah kehilangan sayap ke-Pancasila-annya. Secara organisatoris maupun individu di dalamnya, NU tidak pernah memaksakan karena yang terjadi hanya bentuk penyampaian ”keluhan” masyarakat sebagai ”amanah” khittah. Selain itu, permasalahan jilbab ataupun prostitusi tidak lantas harus kita baca sebagai perda syariah. Dimana letaknya? Bukankah peraturan tidak lahir dalam ruang hampa. Dia merupakan respon pihak legislatif terhadap suara masyarakat juga. Bahkan jika harus dibaca dengan jeli maka akan didapati suatu kontradiksi dari tulisan saudara M Kamil Akhyari, dimana secara eksplisit beliau menulis NU harus menyelaraskan setiap detak jantung langkahnya dengan rel Islam, Al-Quran dan Hadist melalui pengejawantahan nilai-nilai ke-NU-an yaitu ta’adul (keadilan), tawazun (keseimbangan), tasamuh (keadilan) dan tawasut (moderat). Bukankah itu telah dilakukan NU? Perwujudan NU sebagai ”lembaga penampung aspirasi” rakyat tak resmi yang kemudian menghasilkan suatu peraturan (saya kurang setuju dengan sebutan perda syariah karena jauh sekali substansinya) yang tidak diskriminatif dan terbukti di lapangan. Untuk memperkuat argumen ini bisa kita lihat bagaimana ”kesepakatan” NU dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan dasarnya Pancasila sebagai sesuatu yang final. Ini dibuktikan dengan penolakan konsep khilafah dan gerakan terorisme sebagai ekses dari transnational movement secara tegas.&lt;br /&gt;Dari kesemuanya itu, NU hingga detik ini dalam pandangan penulis tetaplah moderat sehingga menjelang Muktamar ke 32 mendatang di Makasar yang perlu dibenahi oleh lembaga ini menurut hemat penulis lebih pada bagaimana pemberdayaan sumber daya manusia NU secara lebih masif dan sporadis sesuai koridor ahlu as-sunnah wa al- jamaah tapi adaptif dengan perkembangan zaman sebagai amanah khittah. Ini akan berakibat space kaum nadhliyin untuk berkontribusi terhadap pembangunan bangsa dan negara tetap terbuka bahkan bertambah. Semoga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bustomi&lt;br /&gt;Pengurus PC IPNU Pamekasan 2004-2006&lt;br /&gt;Staf Pengajar di Ponpes Raudlatul Khaziny Mandung Kokop Bangkalan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-1932320394908794058?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/1932320394908794058/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2010/01/nu-tetap-moderat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/1932320394908794058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/1932320394908794058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2010/01/nu-tetap-moderat.html' title='NU tetap Moderat'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-4146967483014891616</id><published>2010-01-06T03:56:00.001-08:00</published><updated>2010-01-06T03:56:53.080-08:00</updated><title type='text'>I Love Therefore I Am</title><content type='html'>I Love Therefore I Am&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bustomi*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hidup karena cinta. Itu kata orang-orang di sekitarku. Bahkan dunia ini pun ada karena cinta bukan? Jika bukan karena cinta lalu untuk apa Tuhan menciptakan dunia dan seisinya ini? Sehingga saat seorang filsuf kenamaan asal Perancis, Rene Descartes, mengatakan “ karena berpikir (maka), aku ada” bukankah sah-sah saja jika aku mengatakan hal senada, “ karena cinta (maka) aku ada”. Semua bermula karena cinta dan akan berakhir disebabkan cinta pula. Setiap konflik di manapun di dunia ini tentulah karena cinta. Entah karena cinta pada diri sendiri, harta, tahta maupun wanita. Begitupun dengan diriku. Aku melakukan semua ini karena besarnya cintaku padanya. Sosok yang sempurna menurutku. Meskipun banyak yang menyalahkan pendapatku bahwa ada kesempurnaan pada pujaan hatiku ini. Mereka bilang bahwa hanya Tuhan yang berhak menyandar gelar sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutku apakah kita mau mengatakan bahwa tuhan itu sempurna atau tidak, Dia dengan sendirinya tetap tuhan. Aku menilai bahwa cintaku ini sempurna karena tidak tahu lagi diksi apa yang harus kupakai untuk melambangkan betapa rasa cinta yang begitu membuncah dalam jiwaku yang tak tertahankan ini. Jika setiap waktu hanya rona wajahnya yang indah nan elok sahaja yang terpatri dalam sukma. Tiap hembusan nafas hanya namanya yang terngiang. Bahkan saat tuts-tuts keyboard ini aku tekan hanya rangkaian huruf yang membentuk namanya saja yang ingin aku jamah. Betapa sempurna aku mencintainya. Dalam tidurku tak pernah lekang dari memimpikannya. Bangun tidurpun yang aku ingat bukan siapa aku tetapi dirinya. yah dia adalah segala bagiku. Tak ada lagi yang dapat membangkitkan gairah hidupku selain dia. Haq atas kekuatan yang menguasai diriku ini, cintaku begitu sempurna untuknya. Bahkan mulutku serasa menjadi najis saat aku menyebut namanya. Itu semua karena ia begitu suci bagiku. Sesuci cintaku padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena besarnya cintaku, tak sengaja air mata menetes saat aku mengecup bibirnya yang indah merekah. Aku lakukan saat dia memintaku untuk berada di samping tempat tidurnya. Saat itu begitu mencekam malamnya. Dia ketakutan. Dia meneleponku. Dia hanya meminta untuk menemani beberapa jam. Tetapi bagiku itu seakan permintaan selamanya. Maka aku temani malamnya hingga dia terlelap. Saat nyenyak menggelayutinya. Dia terlelap dalam tidur indahnya. Dia begitu terlihat sempurna dalam balutan gaun tidur hasil rajutan ibuku yang aku berikan sebagai hadiah ulang tahunnya dua tahun lalu. Yah dia begitu pandai menghargai pemberian orang lain. Mungkin ada kekuatan jahat yang memaksaku untuk melakukannya malam itu. Aku begitu takut. Tapi kesempurnaan cintaku dalam konsepsi pikiranku mengalahkan segalanya. Aku kecup keningnya. Aku kulum bibirnya. Betapa kedahsyatan aku rasakan. Yah hanya itu yang aku lakukan. Aku tak berani lagi. Tetapi aku bahagia. Yah kebahagiaan yang tak dapat digambarkan dengan kata-kata. Malam itupun aku tertidur di sampingnya. Laksana ayah yang sedang meninabobokan putri tercintanya. Sang ayah rela tertidur di lantai dekat sang putri tersayang demi menunjukkan kesempurnaan cintanya kepada sang buah hati. Dan aku melakukannya demi sang pujaan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga tibalah saat yang membuatku berpikir seakan tuhan menjelma menjadi sebuah ketidakadilan dalam hidupku. Aku divonis menderita kanker otak. Sebuah vonis yang menjelma bak palu godam. Aku begitu terpukul. Asa cinta yang sempurna seakan terhapus dengan sendirinya. Apakah aku harus merubah keyakinanku akan kalimat saktiku di awal bahwa “ karena cinta (maka) aku ada”. Tidak!! Aku tidak boleh menyerah. Dia begitu sempurna untuk aku lupakan. Ia adalah bidadari terhebat untuk kalah dengan vonis itu. Aku harus yakin cinta akan dapat mengalahkan semuanya. Hatta vonis atas diriku sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya apa yang aku takutkan tiba. Cintaku tahu akan derita yang aku alami. Dia menangis. Dia meneteskan air mata. Yah bidadariku merah mata indahnya. Sesuatu yang tak pernah aku temui selama hidupku. Sesuatu yang selalu aku jaga agar tak pernah kulihat terjadi padanya. Tak pernah kubiarkan siapapun membuatnya menangis. Dan sekarang aku yang membuatnya menangus. Tidak!! Tuhan memang tidak adil. Tuhan jahat telah membuat cintaku yang sempurna meneteskan air mata sucinya.&lt;br /&gt;Tidak boleh kubiarkan semua ini terus menerus terjadi. Kekuatan cintaku harus bisa mengalahkan segalanya. Aku harus mengembalikan kekuatan cintaku yang sempurna. Penyakit ini tiadalah berarti jika dibandingkan dengan kesempurnaan cinta yang aku yakini. Aku pun menggugat Tuhan tiap malamku. Aku berdiskusi denganNya. Aku katakan padaNya bahwa jika aku ada karena cintaNya yang menjelma dalam sukma alam, maka ijinkan aku sembuh untuk membuktikan pada dunia bahwa memang cintaku sempurna adanya. Dan kini aku telah yakin kembali. Vonis itu hanyalah onak yang mencoba menguji kesempurnaan cintaku. Cintaku pun paham hingga akhirnya aku dan dia dalam balutan suci sukma asmara menjalani keyakinanku. Aku pun bahagia karena cinta maka aku ada hingga kurub mataku meninggalkan alam mayapada ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Pelajar pada Departemen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Airlangga&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-4146967483014891616?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/4146967483014891616/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2010/01/i-love-therefore-i-am.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/4146967483014891616'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/4146967483014891616'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2010/01/i-love-therefore-i-am.html' title='I Love Therefore I Am'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-716824311074485930</id><published>2009-12-20T04:18:00.000-08:00</published><updated>2009-12-20T04:34:57.783-08:00</updated><title type='text'>Tulisan belum Selesai Mohon Kritiknya</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“ MENGKAJI (KEMBALI) IDENTITAS HUBUNGAN INTERNASIONAL DARI SUDUT PANDANG TEOLOGI: SUATU KAJIAN EPISTEMOLOGIS “&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BAB 1&lt;br /&gt;PENDAHULUAN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1.A. Latar Belakang Masalah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu Hubungan Internasional merupakan studi yang interdisipliner(1) sehingga membuka segala kemungkinan persinggungan dengan kajian di luar studi ini, termasuk tentunya dengan kajian yang bersifat teologis sekalipun. Menggeluti studi Hubungan Internasional yang termasuk dalam ranah ilmu sosial maka mau tidak mau kita akan mendapati bahwasanya ilmu ini berkiblat terhadap Barat (western science). Realitas ini membuat diskusi wacana yang ada “dikendalikan” oleh Barat sehingga wacana “pinggiran” benar-benar termarginalkan, dengan kata lain ketika para akademisi menganalisis suatu fenomena sosial tertentu, worldview Barat berada pada posisi bird-eye(2) . Maka tepatlah apa kata Michel Foucault(3), bahwa pengendali power memegang peranan penting dalam proses diskursus yang ada .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Selain masih tergolong muda, studi ini juga dilahirkan atas perdebatan-perdebatan (Great Debate)(4)  sehingga segala sesuatunya yang berhubungan dengan kajian Hubungan Internasional akan lebih menantang dan hidup jika latar historis tersebut terus berlangsung secara dinamis. Adanya proses “tarik ulur” ini membuka kemungkinan setiap scholar Hubungan Internasional untuk dapat melakukan eksplorasi atau bahkan “injeksi” untuk “mengotak-atik”nya. Yang penulis maksud adalah suatu upaya untuk mempersoalkan  adanya dominasi yang terlalu western sentris tersebut. Meminjam istilah kaum Marxis, seharusnya ada sebuah keberanian untuk mengadakan suatu perlawanan guna “mendobrak” dominasi wacana yang sangat  condong terhadap Barat. Ilmu pengetahuan Barat kalau kita kaji dengan seksama akan didapati suatu kesimpulan bahwa ia lahir berdasarkan premis," ranah teologis merupakan faktor yang tidak memiliki relevansi apapun dengan konteks kehidupan sosial politik".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Semua itu seakan mendapatkan kritik tajam saat permulaan abad 21 dimana, dunia internasional dikejutkan dengan peristiwa 9/11 (5) atau lebih dikenal dengan Black Tuesday. Kejadian ini dinilai oleh para analis Hubungan Internasional sebagai wujud pembenaran tesis Samuel P. Hungtinton (1993) tentang Clash of Civilization. Secara khusus dia mengatakan, " .... The clash of civilizations will dominate global politics. The fault lines between civilizations will be the battle lines of the future" (6). Dimana pasca Cold War, menurutnya,  "kemenangan" tunggal liberalisme-kapitalis akan menemui lawan berikutnya yakni agama (Islam) sehingga dunia pasca Perang Dingin akan diwarnai perang peradaban antara Barat dan agama. Logikanya, dari statement Hungtinton di atas, dunia akan senantiasa berkonflik hingga muncul jawara lagi yang bisa mendominasi secara holistik seluruh aspek mulai dari ideologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Ironisnya, studi Hubungan Internasional hanya dipandang sebagai suatu kajian tentang ranah politis, mengingat ia menekankan pada interstate relations semata. Benarkah demikian? Jika demikian, bagaimana kita melihat fenomena perang Arab (Palestina)- Israel yang sarat dengan nuansa teologis dan peristiwa 9/11 yang merujuk pada radikalisme dan fundamentalisme, suatu istilah yang dilekatkan khusus dengan ranah teologi bahkan pada satu agama tertentu. Selama ini international realm tersebut hanya dikaji dari dari berbagai sudut tapi dengan mengesampingkan ranah teologis. Akhirnya, realitas memberikan jawaban pada kita bagaimana kemudian fenomena sosial yang ada tak kunjung menemui titik ujung penyelesaian. Hal ini dikarenakan para penstudi Hubungan Internasional hanya terfokus pada pola solusi teori mainstream dan mengesampingkan sesuatu yang sebenarnya memiliki peranan sentral dalam upaya dispute settlement. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Agama (Islam) dalam konteks ini menurut penulis mempunyai peluang untuk memberikan pembacaan berbeda terhadap studi Hubungan Internasional guna memberikan suatu alternatif wacana yang akan ikut mewarnai kajian interdisipliner. Memang bukan merupakan suatu “pekerjaan” mudah untuk bisa memasukkan wacana ini ke dalam ranah arus utama yang selama ini mendominasi. Bahkan untuk sesuatu yang selama ini dianggap “mustahil” dalam ilmu pengetahuan yang berkiblat ke Barat yaitu “intervensi” ranah teologis yang dianggap “najis”. Tetapi berangkat dari suatu nilai bersama bahwa setiap ilmu itu pada hakekatnya netral (7), maka penulis mencoba untuk melakukan suatu aktivitas akademis yang tergolong kegiatan perintis meskipun Fox dan Sandler (2006) telah mendahului penulis tetapi kedua scholar tersebut hanya melakukan eksplorasi atas kaitan agama dan studi Hubungan Internasional sedangkan penulis pribadi menitikberatkan pada bagaimana agama (Islam) memberikan konstribusi terhadap studi ini dalam perumusan dan penemuan solusi atas berbagai problematika global yang hingga detik ini masih menggunakan “ramuan” Barat dengan sistem trial and error. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Dalam hal mengkaji (kembali) suatu studi keilmuan tertentu memang bukanlah pekerjaan mudah atau kalau tidak mau dikatakan mustahil apalagi bagi akademisi setingkat sarjana strata satu (S-1). Pemahaman secara holistik dan mendalam terhadap objek keilmuan sebelum melakukan dekonstruksi maupun rekonstruksi adalah sebuah keniscayaan untuk dipenuhi terlebih dahulu. Selain itu penguasaan metanarasi ataupun metateori merupakan syarat mutlak berikutnya yang harus dipenuhi. Terlebih kajian ini memfokuskan pada ranah epistemologinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Kesulitan berikutnya yang sudah menunggu ialah adanya suatu kecurigaan bahwa ini merupakan proyek untuk meng”Islam”kan studi Hubungan Internasional sehingga akan menimbulkan interpretasi pihak luar sebagai sebuah “pekerjaan” apologetik. Tetapi penulis meyakini apa yang diungkapkan oleh Thomas F. Wall bahwa agama (baca: iman) merupakan asas elemen utama suatu worldview, apapun jenis pandangan hidupnya. Dengan jelas ia menulis, “It (belief in God’s existence) is very important, perhaps the most important element in any worldview. First if we do believe that God exists, then we are more likely to believe that there is a plan and a meaning of life, ……if we are consistent, we will also believe that the source of moral value is not just human convention but divine will and that God is the highest value. Moreover, we will have to believe that knowledge can be of more than what is observable and that there is a higher reality – the supernatural world.    …….if on the other hand, we believe that there is NO GOD and that there is just this one world, what would we then be likely to believe about the meaning of life, the nature of ourselves, and after life, the origin of moral standards, freedom and responsibility and so on”(8). &lt;br /&gt;Secara implisit tampak bahwa menurut Thomas F. Wall, ada korelasi antara agama dan ilmu pengetahuan. Dan berangkat dari semua itu sebagai salah satu bagian peradaban besar dunia yang telah berhasil menorehkan tinta emas dalam lembaran sejarah manusia akan efektivitasnya sebagai landasan moral kemajuan ilmu pengetahuan modern di abad pertengahan, agama (Islam) memiliki kans untuk (sekali lagi) berkonstribusi positif dalam perkembangan studi (Hubungan Internasional) modern yang tak henti-hentinya diwarnai dengan konflik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Hal ini dikarenakan perspektif teori (yang terlalu Western sentris) yang ada selama ini belum bisa mencegah atau menyelesaikan konflik secara komprehensif dan kehadiran kajian perintis dari aspek sudut pandang agama (Islam) merupakan suatu alternatif di tengah semangat zaman studi HI yang memasuki era post-positivism dan tidak bermaksud untuk meruntuhkan perspektif teori mapan HI yang ada, karena sebagaimana menurut Martin Griffith dan Terry O'Callaghan (9), dimana  post-positivism merupakan term yang cakuannya luas meliputi berbagai macam pendekatan dan pandangan teoretis yang berkembang sejak akhir 1970-an dan dimaksudkan bahwa kehadiran berbagai macam pendekatan tersebut adalah dalam rangka pembuktian positivism tidak lagi mendominasi kajian HI.  Meminjam pengertian dari kedua penulis itulah maka dapat ditafsirkan bahwa kehadiran kajian dari aspek agama (Islam) menjadi sesuatu yang sah-sah saja dalam usaha ikut mewarnai kajian alternatif atas studi Hubungan Internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Endnote&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menurut H. Bull, studi Hubungan Internasional bukanlah disiplin tunggal tetapi interdisipliner. Untuk lebih jelasnya lihat H. Bull, “ International Theory: The Case for a  Classical Approach” dalam K. Knorr dan J.N. Rosenau (eds.), Contending Approaches to International Politics (Princeton, 1969).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Istilah ini penulis peroleh dari hasil membaca suatu majalah pemikiran dan peradaban, ISLAMIA, Tahun I, No. 4, edisi Januari-Maret 2005, p. 7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Lihat Michel Foucault dalam Power/Knowledge: Selected Interwviews and Other Things 1972-1977 (terj.), (Yogykarta, 2002)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Menurut Steve Smith, Great Debate dianggap sebagai citra narasi besar yang dibentuk oleh tradisi dominan dalam studi hubungan internasional. Untuk lebih jelasnya lihat Steve Smith dalam " The Self-Images of A Discipline: A Genealogy of  International Relations Theory ", dalam Ken Booth dan Steve Smith (ed.), International Relations Theory Today  (Pennsylvania, 1995)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Untuk kajian peristiwa 9/11 lihat Jerry D. Gray, " Dosa-Dosa Media Amerika: Mengungkap Fakta Tersembunyi Kejahatan Media Barat" (Jakarta, 2006) dan Abduh Zulfikar Akaha (eds.), Terorisme dan Konspirasi Anti-Islam (Jakarta, 2002). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Lihat Samuel P. Hungtinton dalam The Clash of Civilization&amp; The Remaking of World Order (New York: Touchtone Books, 1996)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Sebuah istilah yang penulis peroleh dari perbincangan dengan Dr. Syamsuddin Arif, staf pengajar dan peneliti pada International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC), International Islamic University Malaysia.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Lihat Thomas F. Wall dalam Thinking Critically About Philosophical Problem,  A Modern Introduction, (Wadsworth: Thomson Learning, 2001, p. 532) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Lihat Martin Griffith dan Terry O'Callaghan dalam International Relations: The Key Concepts (London: Routledge, 2002, p. 249)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-716824311074485930?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/716824311074485930/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2009/12/tulisan-belum-selesai-mohon-kritiknya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/716824311074485930'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/716824311074485930'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2009/12/tulisan-belum-selesai-mohon-kritiknya.html' title='Tulisan belum Selesai Mohon Kritiknya'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-4955045109389305576</id><published>2009-12-20T03:47:00.001-08:00</published><updated>2009-12-20T03:47:52.417-08:00</updated><title type='text'>aku ingin “tuhanku” mati</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;aku ingin “tuhanku” mati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;sudah lama aku bergelut&lt;br /&gt;dengan "tuhanku".ya melalui diskusi&lt;br /&gt;panjang,debat yang melelahkan dan&lt;br /&gt;pembicaraan yang tak kunjung usai.aku&lt;br /&gt;tanya padanya "kenapa kau selalu&lt;br /&gt;menyertai aku dalam hidupku?" dia&lt;br /&gt;menjawab dengan entengnya "karena aku&lt;br /&gt;begitu peduli padamu".benarkah "tuhan"&lt;br /&gt;begitu peduli padaku.mengapa setiapku&lt;br /&gt;berkeluh kesah dan aku minta nasehat&lt;br /&gt;seolah-olah ia acuh tak acuh padaku.aku&lt;br /&gt;lelah dengan semuanya. aku&lt;br /&gt;ingin "tuhanku" mati saja. aku bosan&lt;br /&gt;mendengar janji-janji kosongnya.aku&lt;br /&gt;selalu memohon agar bisa mengais aku&lt;br /&gt;dari "tong sampah" itu tapi ia justru&lt;br /&gt;berlari meninggalkan ku dalam&lt;br /&gt;kesendirian.sungguh egois dia. dia&lt;br /&gt;telah mencampakkan aku begitu saja&lt;br /&gt;tanpa sedikitpun peduli&lt;br /&gt;padaku.bagaimana aku bisa&lt;br /&gt;meraih "surga" yang aku impikan itu&lt;br /&gt;jika ia terus membiarkan aku seperti&lt;br /&gt;ini. sudah bosan aku memujanya, aku&lt;br /&gt;lelah mengabdi padanya, aku letih dan&lt;br /&gt;tak berdaya lagi. tapi ia begitu&lt;br /&gt;dominan dan hegemon. bagaimana aku bisa&lt;br /&gt;lepas darinya. dahulu aku begitu&lt;br /&gt;memujanya dengan amat sangat tapi kini&lt;br /&gt;aku membencinya dengan sangat. ingin&lt;br /&gt;saja aku "meracuninya" agar ia bisa&lt;br /&gt;terkapar, tergeletak tak berdaya&lt;br /&gt;sehingga aku bisa mentertawainya.tapi&lt;br /&gt;bagaimana bisa? ia begitu kuasa&lt;br /&gt;mengekang aku. ia begitu lihai&lt;br /&gt;memperdaya aku, makhluk lemah tak&lt;br /&gt;berdaya ini. semoga suatu saat aku&lt;br /&gt;bisa "membunuhnya" dan berganti "tuhan"&lt;br /&gt;yang lebih baik. semoga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(sebuah refleksi atas hidup "ku" dan "teks" Niethze "ku")&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asa Net&lt;br /&gt;Minggu, 11 Januari 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-4955045109389305576?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/4955045109389305576/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2009/12/aku-ingin-tuhanku-mati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/4955045109389305576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/4955045109389305576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2009/12/aku-ingin-tuhanku-mati.html' title='aku ingin “tuhanku” mati'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-3561119280518524125</id><published>2009-12-20T03:44:00.000-08:00</published><updated>2009-12-20T03:46:40.250-08:00</updated><title type='text'>Memori Pujon 1000 Bunga</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Memori Pujon 1000 Bunga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qpijakkan kakiQ yg kotor,Qhempaskan tubuh penopang jiwa hampa papa ini,Qraba dgn tangan hina dan tak berharga pada tempat suci yg tak pantas Qmasuki.Aku kotor,hina,bodoh,tak berguna,najis,tiada hargalah diri ini mencuri NYAWA dari peraduanNYA.&lt;br /&gt;Memanjat hati berselimut lumpur pada titian tertinggi dikala puji mengena diri.Jatuh kalbu pemakai baju dosa itu kala aib mencuat ke muka tanda bosanlah ia singgah di raga yg tiada pernah tersiram "air suci" Telaga itu.&lt;br /&gt;Mereka,patung-patung emas terbahagiakan oleh pemberianNya,Ruh Suci Taman Surga.Mereka sebening embun tiada noda.Aturan Wasit Maha Adil telah terindahkan oleh benda-benda mungil buatan Arsitek,Sang Maha Genius.Mereka,wajah-wajah malaikat yg menggugah sukma,telusuri makna,layari arti,Samudera Yang Maha Luas itu.&lt;br /&gt;Sementara aku,lorong-lorong di dalam jiwa semakin sunyi,sesunyi dangdut gubahan penyair hawa itu.&lt;br /&gt;Hendak lari,tak kuasa kaki melangkah.Hendak berontak,hati telah beku.Hendak Qsiramkan bulir-bulir bening tapi mereka telah mengkristal.&lt;br /&gt;Kenapa&lt;br /&gt;Ada Apa&lt;br /&gt;Siapa&lt;br /&gt;Mau Apa&lt;br /&gt;Rangkaian mutiara tanya itu senantiasa mengiangi daun telingaQ yg mulai takabur.&lt;br /&gt;Dia,insan tiada setitik nodapun melekat pada pakaian ke-NABI-annya.Suci.Terlalu suci ia ‘tuk Qdekati.Tapi bagaimana,kidung hitam telah membelenggu jiwa?&lt;br /&gt;Pekat pikiranQ&lt;br /&gt;Kalut hatiQ&lt;br /&gt;Ke mana lagi aku harus berlayar,mengarungi lautan makna tiada terpahami?&lt;br /&gt;Ke mana lagi aku harus melangkahkan dua tongkat berjari amanah Ilahi ini,sementara jalan gulita tanpa secercah nur-Nya?&lt;br /&gt;Ke mana lagi Q tengadahkan seraut daging hina ini,sementara malaikat -malaikat itu "enggan" menatap?&lt;br /&gt;Ke mana lagi Q angkat kedua tangan ini,sementara beban dosa telah menggantungkan diri hangga tak kuasa Q angkat?&lt;br /&gt;Wahai Dzat Yang Maha Mulia,mungkin Engkau terlalu Mulia untuk mengampuni hamba.Tapi aku sadar&lt;br /&gt;Engkaulah Lautan tiada batas itu&lt;br /&gt;Engkaulah Jalan Benderang yang Q cari&lt;br /&gt;Engkaulah yang tetap memerhatikan yang hina ini&lt;br /&gt;Engkaulah Yang Maha Kuasa ‘tuk tetap mengangkat tangan yang selalu lancang angakat dirinya tanpa indahkanMu&lt;br /&gt;Engkau memang berhak menghukumQ&lt;br /&gt;Engkau pantas menjauh dariQ&lt;br /&gt;Engkaupun bisa berpaling dari makhlukMu yang berlumuran dosa ini&lt;br /&gt;Akan tetapi….&lt;br /&gt;Satu Q pinta dariMu&lt;br /&gt;Janganlah Engkau laknat hambaMu yang papakerma…culas…licik dan ujub ini&lt;br /&gt;Sebab tiadalah ingin di hati ini SANG TERLAKNAT kedua,setelah dia&lt;br /&gt;Ya, setelah dia yang telah mengusik Bapak dan ibuQ dari peraduannya&lt;br /&gt;Dahulu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-3561119280518524125?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/3561119280518524125/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2009/12/memori-pujon-1000-bunga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/3561119280518524125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/3561119280518524125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2009/12/memori-pujon-1000-bunga.html' title='Memori Pujon 1000 Bunga'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-9112251960079017426</id><published>2009-09-19T03:14:00.000-07:00</published><updated>2009-11-07T17:52:35.982-08:00</updated><title type='text'>Sitasi Menurut Harvard System</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Harvard Referencing Style&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila nama pengarang dikutip dalam essay dan merupakan bagian dari kalimat, cantumkan nama pengarang diikuti dengan tahun publikasi dalam kurung.&lt;br /&gt;     Coplin (1992) berpendapat bahwa....&lt;br /&gt;Seperti yang diungkapkan oleh Coplin (1997), pengambilan keputusan kebijakan luar negeri merupakan....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila nama pengarang tidak dikutip secara langsung dalam essay, cantumkan nama pengarang dan tahun dalam kurung, dan letakkan di akhir kalimat.&lt;br /&gt;  .... (Morgan 1982).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila lebih dari satu pengarang dalam essay dan referensi berasal dari lebih dari satu pengarang, cantumkan nama pengarang secara berurutan dengan memasukkan tahun dalam kurung.&lt;br /&gt;Woodward (2002) dan Clarke (2004) memiliki pandangan sama. Keduanya menganggap…. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila mengutip pendapat lebih dari satu orang secara tidak langsung dalam essay, cantumkan nama pengarang dan tahun terbit secara berurutan dengan dipisahkan tanda titik koma, masukkan dalam kurung.&lt;br /&gt;  .... (Woodward 2002; Clarke 2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila mengutip sebuah pendapat yang disampaikan lebih dari satu pengarang, cantumkan nama pengarang secara berurutan dan diikuti tahun terbit yang dimasukkan dalam kurung.&lt;br /&gt;  Evans dan Newnham (1998) menyatakan....&lt;br /&gt;  .... (Evans dan Newnham 1998).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila mengutip sebuah pendapat lebih dari dua pengarang, cantumkan hanya pengarang pertama dan diikuti ”et al.”.&lt;br /&gt;  Snyder et al. (1996) berargumen bahwa….&lt;br /&gt;  …. (Snyder et al. 1996).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila nama pengarangnya tidak diketahui, cantumkan judul artikel dan tahun terbit. Judul artikel dicetak miring.&lt;br /&gt;Dalam artikel Decision Making as an Approach to Study International Politics (1996), dinyatakan bahwa….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila tahun terbit tidak diketahui, cantumkan “n.d.” yang berarti no date.&lt;br /&gt;  Smith (n.d.) menuliskan…. &lt;br /&gt;  …. (Smith n.d.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila mencantumkan nomor halaman&lt;br /&gt;  Lawrence (1966, 124) mengatakan….&lt;br /&gt;  …. (Lawrence 1966, 124). &lt;br /&gt;Apabila mengutip pendapat dari satu pengarang dan diterbitkan pada tahun yang berbeda, cantumkan nama pengarang disertai tahun ketika dipublikasikan pertama kali.&lt;br /&gt;  Bloggs (1992, 1994) mengajukan tesis bahwa ….&lt;br /&gt;  …. (Bloggs, 1992, 1994).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila seorang pengarang mengajukan sejumlah pendapat pada tahun yang sama, bedakan dengan mencantumkan huruf kecil setelah tahun publikasi.&lt;br /&gt;Penelitian awal Smith (1993a) menemukan bahwa… tetapi penelitian berikutnya oleh Smith (1993b) tampak bahwa….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila mengutip pendapat seseorang (sumber pertama) yang tercantum dalam artikel yang ditulis oleh orang yang lain (sumber kedua), sumber pertama dituliskan terlebih dahulu.&lt;br /&gt;  …. (Brown 1966 dalam Bassett 1986).&lt;br /&gt;Dalam penelitiannya, Brown (1966 dalam Basset 1986) menemukan bukti bahwa….&lt;br /&gt;White, seperti dikutip oleh Black (1994), menyarankan….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibliography&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku dengan satu pengarang&lt;br /&gt;Ulrich, W., 1983. Critical Heuristics of Social Planning. Chicago: University of Chicago Press.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Buku dengan dua pengarang&lt;br /&gt;Kirk, J. and Munday, R.J., 1988. Narrative Analysis. 3rd ed. Bloomington: Indiana University Press.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku dengan lebih dari dua pengarang&lt;br /&gt;Grace, B. et al., 1988. A History of the World. Princeton, NJ: Princeton University Press.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku hasil editan&lt;br /&gt;Keene, E. ed., 1988. Natural Language. Cambridge: University of Cambridge Press.&lt;br /&gt;Silverman, D.F. and Propp, K.K. eds., 1990. The Active Interview. Beverly Hills, CA: Sage.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel dalam buku&lt;br /&gt;Smith, J., 1975. A Source of Information. dalam W. Jones, ed. One hundred and One Ways to Find Information about Health. Oxford: Oxford University Press, 1998.&lt;br /&gt;atau apabila mencantumkan halaman&lt;br /&gt;Samson,C., 1970. Problems of Information Studies in History. dalam S. Stone, ed. Humanities Information Research. Sheffield: CRUS, 1980, hlm. 44-68.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E-book&lt;br /&gt;Fishman, Robert., 2005. The Rise and Fall of Suburbia. [e-book]. Chester: Castle Press. dalam libweb.anglia.ac.uk / E-books [diakses 24 Juli 2006]. &lt;br /&gt;Employment Law and Practice. 2005. [CD-ROM]. London: Gee. dalam libweb.anglia.ac.uk/ E-books [diakses 1 Agustus 2007].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila ada satu pengarang dengan dua buku yang dikutip&lt;br /&gt;Soros, G., 1966a. The Road to Serfdom. Chicago: University of Chicago Press.&lt;br /&gt;------ 1966b. Beyond the Road to Serfdom. Chicago: University of Chicago Press.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel dalam jurnal&lt;br /&gt;Boughton, J.M., 2002. The Bretton Woods Proposal, an Indepth Look. Political Science Quarterly, 42 (6), hlm. 564-78.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel dalam media massa&lt;br /&gt;Slapper, Gary., 2005. Corporate Manslaughter, New Issues for Lawyers. The Times, 3 September. hlm. 4-5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel jurnal yang diambil dari internet&lt;br /&gt;Boughton, J.M., 2002. The Bretton Woods Proposal, an Indepth Look. &lt;br /&gt;Political Science Quarterly, [online]. 42 (6), dalam http://www.pol.upenn/articles, Blackwell Science Synergy [diakses 12 Juni 2005]. &lt;br /&gt;Hamill, C., 1999. Academic Essay Writing in the First Person: A Guide for Undergraduates. Nursing Standard, [online] 21 Juli, 13 (44), hlm. 38-40, dalam http://libweb.anglia.ac.uk/ejournals/333 [diakses 12 Juni 2005].&lt;br /&gt;Jenkings, R.,1989. Clashing with Caching. ARIADNE, [online] Issue 21,&lt;br /&gt;10 September, dalam http://www.ariadne.ac.uk/issue21/web-cache/ &lt;br /&gt;[diakses 2 Desember 2004].&lt;br /&gt;Wright, A. and Cottee, P., 2000. Consumer Understanding of US and EU Nutrition Labels. British Food Journal [online] 103 (8), hlm. 615-629. Emerald, dalam http://www.emerald-library.com [diakses 8 September 2001].&lt;br /&gt;Beaver, M., 2000. Errant Greenhouse Could Still be Facing Demolition.&lt;br /&gt;Building Design [online] 24 November, hlm. 3, dalam http://www.infotrac.london.galegroup.com/itweb/sbu_uk [diakses 15 Agustus 2003]. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abstrak jurnal yang diambil dari internet&lt;br /&gt;Boughton, J.M. 2002 The Bretton Woods Proposal, an Indepth Look. &lt;br /&gt;Political Science Quarterly, [online]. 42 (6), abstrak dari Blackwell Science Synergy database, dalam http://www.pol.upenn/articles, Blackwell Science Synergy [diakses 12 Juni 2005].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E-version dari dokumen laporan tahunan&lt;br /&gt;Marks &amp; Spencer ., 2004. Annual Report 2003-2004. [online]. dalam http://www-marks-and-spencer.co.uk/corporate/annual2003/  [diakses 4 Juni 2005].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel koran online&lt;br /&gt;Chittenden, M., Rogers, L. and Smith, D., 2003. Focus: Targetitis Ails NHS. Times Online, [internet].1 Juni. dalam http://www.timesonline.co.uk/print/11-1506-669.html [diakses 17 Maret 2005].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi dari website&lt;br /&gt;National Electronic Library for Health. 2003. Can Walking Make You Slimmer and Healthier? (Hitting the headlines article) [online]. (updated 16 Januari 2005) dalam http://www.nhs.uk.hth.walking [diakses 10 April 2005].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Publikasi yang tersedia dalam website&lt;br /&gt;Scottish Intercollegiate Guidelines Network. 2001. Hypertension in the Elderly. (SIGN publication 20) [internet]. Edinburgh: SIGN (2001)&lt;br /&gt;dalam http://www.sign.ac.uk/pdf/sign49.pdf [diakses 17 Maret 2005].&lt;br /&gt;Boots Group Plc., 2003. Corporate Social Responsibility. [online]. Boots Group Plc. dalam http://www.Boots-Plc.Com/Information/Info.Asp?id=447 [diakses 23 Juli 2005].&lt;br /&gt;Defoe, D., 1999. The Fortunes and The Misfortunes of the Famous Moll Flanders. [online]. Champaign, Illinois: Project Gutenberg. dalam http://Promo.Net/Cgi-Promo/Pg/T9.Cgi?Entry=370&amp;Full=Yes &lt;br /&gt;[diakses 18 November 2005]. &lt;br /&gt;Tesco Plc., 2002. Annual Report and Financial Statements 2002 . [online]. Tesco Plc. dalam http://81.201.142.254/Presentresults/Results2001_02/ Prelims/Report/ f [diakses 18 November 2005].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korespondensi melalui email&lt;br /&gt;Jones, J. jones@gmail.com, 2005. Mobile Phone Developments. [online]. e-mail kepada R. G. Schmit (r.g.schmit@syy.ac.uk). dikirim Senin 7 Juni 2005, 08.13. dalam http://gog.defer.com/2004_07_01_defer_archive.html [diakses 7 Juli 2005].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-Undang&lt;br /&gt;UU No. 2/2008 tentang Partai Politik, Jakarta: DPR RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Publikasi resmi lembaga pemerintah&lt;br /&gt;Buku Putih Departemen Pertahanan RI, 2007. Jakarta: Departemen Pertahanan RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan tahunan&lt;br /&gt;Marks and Spencer, 2004. The Way Forward, Annual Report 2003-2004. London : Marks and Spencer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DVD/VCD&lt;br /&gt;Warner Brothers, 2005. Great Films from the 80s: a Selection of Clips from Warner Brothers Top Films from the 1980s. [DVD]. New York: Warner Brothers.&lt;br /&gt;The Habibie Center, 2004. Publikasi 5 Tahun, 1999-2004. [VCD]. Jakarta: The Habibie Center.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Video (Film)&lt;br /&gt;Pilger, John. 2001. The New Ruler of the World. [video]. Jakarta: Indy Cinema.&lt;br /&gt;Child Growth Foundation., 2004. Health for All 3 the Video Part 1. [video]. London: Child Growth Foundation (narasi oleh D B M Hall).&lt;br /&gt;Skripsi/Tesis/Disertasi&lt;br /&gt;Mubah, A. Safril. 2006. Pengaruh Kelompok Neokonservatif terhadap Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat dalam Memerangi Terorisme pada Periode Pertama Pemerintahan George W. Bush (2001-2005).&lt;br /&gt;Skripsi Sarjana. Surabaya: Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga.&lt;br /&gt;Richmond, Julia. 2005. Customer Expectations in the World of Electronic Banking: a Case Study of the Bank of Britain. Ph. D. Anglia Ruskin University.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-9112251960079017426?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/9112251960079017426/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2009/09/tugas-plnri-rabu-30-september-2009.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/9112251960079017426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/9112251960079017426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2009/09/tugas-plnri-rabu-30-september-2009.html' title='Sitasi Menurut Harvard System'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-97914185788750041</id><published>2009-06-15T07:14:00.000-07:00</published><updated>2009-06-22T02:31:54.942-07:00</updated><title type='text'>ketentuan UAS Hubungan Internasional Kawasan 2009</title><content type='html'>Inilah ketentuan bagi peserta kuliah Hubungan Internasional Kawasan (SPH 377):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Topik judul harus sesuai dengan yang telah ditulis sendiri oleh peserta matakuliah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Format tulisan dalam bentuk jurnal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Artikel memuat abstrak dalam Bahasa Inggris&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Perhatikan teknik penulisan artikel, terutama untuk sitasi dan daftar pustaka. &lt;br /&gt;sesuaikan dengan standar yang ada (silahkan pakai sistem yang mana tetapi harus &lt;br /&gt;konsisten), karena juga memiliki bobot nilai tersendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Font TNR 12, spasi 1, 5 dan batasan isi artikel adalah kurang lebih 3000 kata (tidak termasuk daftar pustaka)--&gt; setelah dipertimbangkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Dikumpulkan dalam bentuk hard copy pada saat jadwal ujian HIK. dan harap mengumpulkan tepat waktu sesuai jadwal ujian. keterlambatan berarti pengurangan nilai sesuai dengan tingkat keterlambatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Ujian Lisan (sesuai topik paper yang dibuat) adalah 7, 9 dan 10 JUli 2009 mulai pukul 08.00 WIB- 16.00 WIB di ruang Cakra gedung C FISIP Unair, dengan ketentuan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   a. NIM  070417352 s/d  NIM   070610439 mengikuti ujian Lisan 7 Juli 2009&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;   b. NIM  070610446 s/d  NIM   070710413 mengikuti ujian Lisan 9 JUli 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   c. NIM  070710415 s/d  NIM   070710573 mengikuti ujian Lisan 10 Juli 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila ada yang berhalangan dengan waktu ujian tersebut dan ingin pindah jadwal, mohon menghubungi asisten dosen dengan ketentuan telah menemukan peserta lain yang bersedia untuk berganti jadwal. Ujian dimulai jam 8 pagi untuk tanggal 9 dan 10 Juli &lt;br /&gt;2009. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tanggal 7 Juli 2009 ujian akan dimulai setelah teman2 selesai ujian. kalau ada keberatan mohon menghubungi asisten dosen dan atau tinggalkan pesan di bawah ini. thanx and gud luck guys&lt;br /&gt;do ur best&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-97914185788750041?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/97914185788750041/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2009/06/ketentuan-uas-hubungan-internasional.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/97914185788750041'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/97914185788750041'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2009/06/ketentuan-uas-hubungan-internasional.html' title='ketentuan UAS Hubungan Internasional Kawasan 2009'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-944808212639698775</id><published>2009-05-13T07:49:00.000-07:00</published><updated>2009-05-13T20:04:27.269-07:00</updated><title type='text'>Tugas HIK 19 Mei 2009</title><content type='html'>inilah tugas untuk minggu depan, Selasa 19 Mei 2009&lt;br /&gt;sebagai hadiah ini kami berikan satu artikel berbahasa Indonesia yaitu artikel no 1&lt;br /&gt;ingat sekali lagi ini bukan karena apa kita memberikan kalian rujukan lebih&lt;br /&gt;tugasnya khan bikin paper tapi dengan rujukan terkendali dan diperbolehkan ditambah asal yang disarankan ini sudah dan masih kurang untuk menambah kerangka pemikiran untuk menghasilkan tulisan berbobot kalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Format Tugas&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paper maksimal  4 halaman dan minimal 2,5 halaman , kaidah penulisan ilmiah (terutama teknik citasi). Selain memberikan artikel rujukan, Asdos membebaskan mahasiswa untuk mencari referensi yang terpercaya dalam menyelesaikan paper-nya. Segala bentuk kecurangan (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;plagiarism &lt;/span&gt;dan keterlambatan pengumpulan) akan berakibat pada pengurangan nilai. Tugas dikumpulkan paling lambat Senin, 19 Mei 2009, pukul 12.00 WIB.&lt;br /&gt;Terdapat beberapa artikel rujukan yang disarankan untuk referensi, dapat diakses di sini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. NAFTA dan HIK 19 Mei 2009 &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/4734742/NAFTA19Mei2009.doc.html" target="_blank" title="NAFTA dan HIK 19 Mei 2009"&gt;&lt;img src="" border="0" alt="download here"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.NAFTA dan HIK 19 Mei 2009 &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/4735251/.html" target="_blank" title="NAFTA dan HIK 19 Mei 2009"&gt;&lt;img src="" border="0" alt="download here"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.NAFTA dan HIK 19 Mei 2009 &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/4735252/.html" target="_blank" title="NAFTA dan HIK 19 Mei 2009"&gt;&lt;img src="" border="0" alt="download here"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.NAFTA dan HIK 19 Mei 2009 &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/4735253/.html" target="_blank" title="NAFTA dan HIK 19 Mei 2009"&gt;&lt;img src="" border="0" alt="download here"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. NAFTA dan HIK 19 Mei 2009 &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/4739563/NAFTAdanMasalahLabour.pdf.html" target="_blank" title="NAFTA dan HIK 19 Mei 2009"&gt;&lt;img src="" border="0" alt="download here"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Dan bagi yang belum mengumpulkan tugas-tugas sebelumnya, deadline terakhir Jumat, 16 Mei 2009 jam 17.00 WIB............&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-944808212639698775?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/944808212639698775/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2009/05/tugas-hik-19-mei-2009.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/944808212639698775'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/944808212639698775'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2009/05/tugas-hik-19-mei-2009.html' title='Tugas HIK 19 Mei 2009'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-8244504974538305795</id><published>2009-05-11T16:15:00.000-07:00</published><updated>2009-05-11T16:54:09.436-07:00</updated><title type='text'>E-book Novel-Novel Terbaik Penggugah Semangat !</title><content type='html'>Sebentar lagi kita akan memepringati Hari Kebangkita Nasional&lt;br /&gt;Mari kita gugah semangat kita&lt;br /&gt;bagi yang bosen dengan buku2 kuliah atau sekolah&lt;br /&gt;silahkan download buku-buku fiksi berikut&lt;br /&gt;Mudah2an anda jadi semangat kembali untuk menjalani hidup ini&lt;br /&gt;inilah daftar-daftar buku penyemangat tersebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Soe HOk Gie: Di bawah Lentera Merah  &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/4710136/soe.hok.gie-dibawah.lentera.merah.pdf.html" target="_blank" title="Soe Hok Gie: Di Bawah Lentera Merah"&gt;&lt;img src="" border="0" alt="download here"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. The Secret (versi Indonesia)&lt;a href="     http://www.ziddu.com/download/4710138/The_Secret_Versi_Bahasa_Indonesia__2_.pdf.html" target="_blank" title="The Secret versi Indonesia"&gt;&lt;img src="" border="0" alt="download here"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ayat-Ayat Cinta &lt;a href="     http://www.ziddu.com/download/4710137/AyatAyatCinta-HabiburrahmanS.pdf.html" target="_blank" title="Ayat-Ayat Cinta Kang Abik"&gt;&lt;img src="" border="0" alt="download here"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Dalam Mihrab Cinta &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/4710203/Dalam_Mihrab_Cinta.pdf.html" target="_blank" title="Dalam Mihrab Cinta"&gt;&lt;img src="" border="0" alt="download Here"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-8244504974538305795?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/8244504974538305795/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2009/05/e-book-novel-novel-terbaik-penggugah.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/8244504974538305795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/8244504974538305795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2009/05/e-book-novel-novel-terbaik-penggugah.html' title='E-book Novel-Novel Terbaik Penggugah Semangat !'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-1329117034833263605</id><published>2009-05-11T15:08:00.000-07:00</published><updated>2010-03-25T05:52:00.698-07:00</updated><title type='text'>बेबेरापा E-book Gratis Seputar Dunia HI</title><content type='html'>bagi teman2 yang tertarik untuk mendapatkan buku-buku E-book gratis dan tidak perlu susah-susah untuk mencari silahkan download di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bagi yang ingin judul yang lain sebagai request bisa tinggalkan pesan&lt;br /&gt;ok?&lt;br /&gt;selamat mendownload !!!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Lima Puluh Pemikir HI &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/4707755/FiftyKeyThinkersinInternatio" target="_blank" title=" Lima Puluh Pemikir HI"&gt;&lt;img src="" border="0" alt="download here"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Teori-Teori HI&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/4707754/TheoriesofInternationalRelations.zip.html" target="_blank" title="Teori-Teori HI"&gt;&lt;img src="" border="0" alt="download here"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Isu-Isu Global: Fundamentalisme&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/4707756/GlobalIssuesFUNDAMENTALISMbyRebeccaJoyceFrey2007.pdf.html" target="_blank" title="Isu-Isu Global: Fundamentalisme"&gt;&lt;img src="" border="0" alt="download here"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Clash Of Civilization Samuel Huntington&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/4707753/__1996__nf_worldpolitics_history_religion___sipdf_.rar.html" target="_blank" title="Clash Of Civilization Samuel Huntington"&gt;&lt;img src="" border="0" alt="download here"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-1329117034833263605?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/1329117034833263605/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2009/05/e-book-gratis-seputar-dunia-hi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/1329117034833263605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/1329117034833263605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2009/05/e-book-gratis-seputar-dunia-hi.html' title='बेबेरापा E-book Gratis Seputar Dunia HI'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-8734295295220322207</id><published>2009-05-08T21:28:00.000-07:00</published><updated>2009-05-10T04:08:51.048-07:00</updated><title type='text'>Untuk teman2 Kelas HIK (share bahan tahun lalu saja Kok)</title><content type='html'>ini adalah bahan2 terkait kuliah kalian selama HIK&lt;br /&gt;bahasa Indonesia dan sudah disarikan&lt;br /&gt;ada juga yang tentang Mercosur dalam bahasa Indonesia&lt;br /&gt;bisa langsung didownload&lt;br /&gt;ok?&lt;br /&gt;kalo ada komplain mohon tinggalkan pesan komen di bawah ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. china sebagai jangkar regionalisme[&lt;a style="font-weight: bold;" href="http://www.ziddu.com/download/4673411/ChinasebagaiJangkarRegionalismeHIK.doc.html" target="_blank" title="Regionalisme MERCOSUR"&gt;&lt;img src="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=3631001970141408383&amp;amp;postID=8734295295220322207" alt="Download" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. UAS HIK [&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/4673410/UASHIK.doc.html" target="_blank" title="UAS HIK"&gt;&lt;img src="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=3631001970141408383&amp;amp;postID=8734295295220322207" alt="Download" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambahan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# China - Latin America - Mercosur [&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/4654798/china-latinamerica.pdf.html" target="_blank" title="China - Latin America - Mercosur"&gt;&lt;img src="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=3631001970141408383&amp;amp;postID=8734295295220322207" alt="Download" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# The New Regionalism in Latin America; The Role of US [&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/4654797/TheNewRegionalismInLatinAmericaandTheRoleofTheUS.pdf.html" target="_blank" title="The New Regionalism in Latin America; The Role of US"&gt;&lt;img src="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=3631001970141408383&amp;amp;postID=8734295295220322207" alt="Download" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-8734295295220322207?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/8734295295220322207/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2009/05/untuk-teman2-kelas-hik-share-bahan.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/8734295295220322207'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/8734295295220322207'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2009/05/untuk-teman2-kelas-hik-share-bahan.html' title='Untuk teman2 Kelas HIK (share bahan tahun lalu saja Kok)'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-9096820500448767870</id><published>2009-04-21T07:37:00.000-07:00</published><updated>2009-04-22T19:30:48.773-07:00</updated><title type='text'>Bahan HIK 28 April 2009 (Krisis Darfur, Sudan)</title><content type='html'>Buat temen2 yang ikut matakuliah HIK, dibawah ini merupakan daftar bahan rujukan yang perlu kalian baca untuk pertemuan pada Selasa, 28 April 2009...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Implementing U.S. Policy in Sudan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/4399678/ImplementingU.S.PolicyinSudan.pdf.html" target="_blank" title="Implementing U.S. Policy in Sudan "&gt;&lt;img src="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=3631001970141408383&amp;amp;postID=9096820500448767870" alt="Download Here" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. America's Sudan Policy: A New Direction? &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/4399682/IntroductionTheCSISTaskForceonU.S.-SudanPolicy.pdf.html" target="_blank" title="America's Sudan Policy: A New Direction?"&gt;&lt;img src="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=3631001970141408383&amp;amp;postID=9096820500448767870" alt="Download Here" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Senator Danforth’s Sudan Challenge: Building a Bridge to Peace by John Prendergast &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/4399684/orDanforthsSudanChallengeBuildingaBridgetoPeace.pdf.html" target="_blank" title="Senator Danforth’s Sudan Challenge: Building a Bridge to Peace by John Prendergast "&gt;&lt;img src="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=3631001970141408383&amp;amp;postID=9096820500448767870" alt="Download Here" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Sudan: Humanitarian Crisis, Peace Talks, Terrorism, and U.S. Policy by Ted Dagne &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/4399685/anitarianCrisisPeaceTalksTerrorismandU.S.Policy.pdf.html" target="_blank" title="Sudan: Humanitarian Crisis, Peace Talks, Terrorism, and U.S. Policy by Ted Dagne"&gt;&lt;img src="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=3631001970141408383&amp;amp;postID=9096820500448767870" alt="Download Here" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Sudan’s Energy Sector: Implementing the Wealth-Sharing Agreement by Sarah Skorupski &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/4399680/EnergySectorImplementingtheWealth-SharingAgreement.pdf.html" target="_blank" title="Sudan’s Energy Sector: Implementing the Wealth-Sharing Agreement by Sarah Skorupski"&gt;&lt;img src="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=3631001970141408383&amp;amp;postID=9096820500448767870" alt="Download Here" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. THE KHARTOUM-SPLM AGREEMENT: SUDAN'S UNCERTAIN PEACE under noted by Africa Report N°96 – 25 July 2005 &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/4399679/SUDANSUNCERTAINPEACE.pdf.html" target="_blank" title="THE KHARTOUM-SPLM AGREEMENT: SUDAN'S UNCERTAIN PEACE under noted by Africa Report N°96 – 25 July 2005 "&gt;&lt;img src="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=3631001970141408383&amp;amp;postID=9096820500448767870" alt="Download Here" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. The Threat of International Sanctions on Sudan’s Oil Sector How Feasible? What Likely Impacts? by Nelly Swilla &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/4399683/ThreatofInternationalSanctionsonSudansOilSector.pdf.html" target="_blank" title="The Threat of International Sanctions on Sudan’s Oil Sector How Feasible? What Likely Impacts? by Nelly Swilla"&gt;&lt;img src="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=3631001970141408383&amp;amp;postID=9096820500448767870" alt="Download Here" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. U.S. Policy to End Sudan’s War Report of the CSIS Task Force on U.S.-Sudan Policy Cochairs by Francis M. Deng and J. Stephen Morrison &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/4399681/USPolicytoSudan.pdf.html" target="_blank" title="U.S. Policy to End Sudan’s War Report of the CSIS Task Force on U.S.-Sudan Policy Cochairs by Francis M. Deng and J. Stephen Morrison"&gt;&lt;img src="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=3631001970141408383&amp;amp;postID=9096820500448767870" alt="Download Here" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;NB:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan Lupa Di Baca dan Bikin Tugas Review (yang jelas ini tentang Krisis Darfur, kaitannya dengan masa depan regionalisme di Afrika, kekuatan2 yg ikut mempengaruhi konstelasi di sana baik internal maupun eksternal serta beberapa faktor penting lainnya yg ikut andil dalam memberikan "warna" terhadap konflik yg terjadi. jangan lupa juga kritik kalian terhadap persoalan ini dan tanggapan atas pendapat scholar yg ada dlm tulisan. secara garis besar tema ini ada dalam  artikel yang berjudul " SUDAN ".) dengan ketentuan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;#&lt;/span&gt; Jumlah halaman =&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;harus 4&lt;/span&gt; halaman (tidak kurang dan tidak lebih)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;#&lt;/span&gt; Font =&gt; Times New Roman, 12&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;#&lt;/span&gt; Space =&gt; 1.5&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;#&lt;/span&gt; Kertas =&gt; A4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikumpulkan pada &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Senin, 27 April 2009.&lt;/span&gt;, Pukul &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;09.00&lt;/span&gt; WIB di &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KP-HI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TTD&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href=""&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 144px; height: 109px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Se3xR-Bx_yI/AAAAAAAAABs/_NuS0Fyub0A/s320/ttd.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5327179225259704098" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Team Asdos HIK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Bustomi, Edo, Lovy)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-9096820500448767870?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/9096820500448767870/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2009/04/bahan-hik-28-april-2009-krisis-darfur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/9096820500448767870'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/9096820500448767870'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2009/04/bahan-hik-28-april-2009-krisis-darfur.html' title='Bahan HIK 28 April 2009 (Krisis Darfur, Sudan)'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Se3xR-Bx_yI/AAAAAAAAABs/_NuS0Fyub0A/s72-c/ttd.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-6869507512004191553</id><published>2009-01-19T04:37:00.000-08:00</published><updated>2009-01-19T04:52:59.974-08:00</updated><title type='text'>MNC dan HUkum Internasional</title><content type='html'>&lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="center"&gt; &lt;span lang="it-IT"&gt;&lt;b&gt;POSISI &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;&lt;b&gt;“BUAH SIMALAKAMA” NEGARA DALAM MENGHADAPI &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;MULTINATIONAL CORPORATIONS &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;&lt;b&gt;(MNC’S)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt; &lt;span lang="it-IT"&gt;&lt;b&gt; Abu Yasid Al-&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;&lt;b&gt;Busthomi&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;&lt;b&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote1anc" href="#sdfootnote1sym"&gt;&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" lang="it-IT"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="it-IT"&gt; &lt;i&gt;&lt;b&gt;Abstracts &lt;/b&gt;&lt;/i&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span lang="it-IT"&gt;Apakah MNC itu dan ke&lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;napa negara (berkembang) &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;terkesan&lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt; dilematis dalam menghadapi &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;kehadirannya&lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;? Bahkan negara seakan telah menjelma (karena ketakutannya) menjadi “pelayan” perusahaan multinasional tersebut karena kekuatan ekonomi bahkan politik MNC yang besar dapat berakibat fatal bagi keberlangsungan negara. Ini kemudian membuat posisi negara&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; laksana&lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt; buah simalakama, tak dapat berbuat apa-apa namun pada akhirnya ia sendiri yang menderita. Tulisan ini mencoba mengupas MNC dan kaitannya dengan kajian hukum internasional terutama dengan statusnya apakah dapat dipandang sebagai &lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;&lt;i&gt;international legal persons&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;. Tulisan ini sepenuhnya merupakan semacam konklusi dari berbagai tulisan para pakar hukum internasional dan tentunya dengan mengkombinasikan kapasitas penulis sendiri sebagai penstudi hubungan internasional.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="it-IT"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="it-IT"&gt; &lt;b&gt;Pendahuluan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span lang="it-IT"&gt;Para penstudi hubungan internasional terutama yang memfokuskan diri pada kajian &lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;hukum internasional selama beberapa dekade terakhir dihadapkan pada fenomena kemunculan perusahaan-perusahaan internasional atau &lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;&lt;i&gt;multinational corporations&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt; (&lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;&lt;i&gt;MNC’s&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="it-IT"&gt;). &lt;/span&gt;Perusahaan-perusahaan tersebut berpusat di suatu negara tetapi juga beraktivitas di negara lain terutama di negara berkembang atau &lt;i&gt;developing countries&lt;/i&gt;. Dalam kajian hukum internasional hal ini menjadi permasalahan tersendiri terkait status apakah ia dapat dianggap sebagai subjek hukum internasional sehingga akan berakibat ia sebagai subjek akan memiliki hak dan kewajiban dalam hukum internasional sebagaimana negara atau &lt;i&gt;nation-state. &lt;/i&gt;Dalam bahasa Iman Prihandono&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote2anc" href="#sdfootnote2sym"&gt;&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; (2008), secara teknis MNC dapat dianggap sebagai &lt;i&gt;international legal persons &lt;/i&gt;yang kemudian memiliki hak dan kewajiban dalam hukum internasional. Tetapi permasalahan yang terjadi adalah, MNC dalam tataran realitasnya lebih banyak di &lt;span lang="id-ID"&gt;n&lt;/span&gt;egara berkembang. Ini menimbulkan rentetan problematika. Secara domestik, hukum nasional suatu negara diharuskan melindungi setiap warga negaranya dari praktek-praktek dekstruktif MNC. Permasalahannya adalah kekuatan ekonomi yang besar dari MNC justru dapat melemahkan kekuatan politik domestik negara berkembang yang notabene sangat tergantung terhadap eksistensi perusahaan multinasional guna menunjang perekonomian nasional mereka. Ini akan mengakibatkan usaha untuk membebankan tanggung jawab hukum terhadap korporasi berskala global itu menjadi dilema tersendiri bagi mereka.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Multinational Corporations&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;: &lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Pseudo-state&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;?&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;Perusahaaan multinasional atau MNC kini seakan menjadi sebuah keniscayaan dalam hubungan internasional kontemporer. Hampir tidak ada satu negara pun di dunia yang tidak terdapat MNC. Oleh sebab itu, perusahaan multinasional ini dapat menjadi kontroversi mengingat kekuatan ekonomi atau bahkan politiknya, mobilitas dan tingkat kerumitan aktivitas dan dampak-dampak yang mungkin timbul di Negara dimana ia berada saat negara tersebut hendak menerapkan kekuatan hukum terhadap aktivitas perusahaan asing itu. Secara garis besar MNC merupakan perusahaan multinasional yang berpusat di suatu Negara tetapi juga memiliki dan melakukan aktivitas di Negara lain terutama Negara berkembang&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote3anc" href="#sdfootnote3sym"&gt;&lt;sup&gt;3&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;.  Eksistensinya tak lebih merupakan konsekuensi logis dari globalisasi tetapi sebagaimana dipahami bersama bahwa motor penggerak globlisasi adalah kapitalisme maka pemikiran liberalis dalam aspek ekonomi menjadi kental. Secara ekonomi, agar mendapat keuntungan besar maka biaya produksi harus ditekan sebisa mungkin sehingga nantinya dengan ongkos produksi yang kecil akan mendatangkan laba yang besar. Sesuai dengan di&lt;span lang="id-ID"&gt;k&lt;/span&gt;tum &lt;span lang="id-ID"&gt;“&lt;/span&gt;ilmu ekonomi barat&lt;span lang="id-ID"&gt;”&lt;/span&gt; bahwa dengan modal sekecil-kecilnya tetapi berharap untung yang sebesar mungkin&lt;span lang="id-ID"&gt;, maka a&lt;/span&gt;tas alasan ini pula MNC memilih Negara berkembang sebagai sasaran utama ekspansi modalnya karena di sana tenaga kerja serta upahnya kecil dan biasanya aturan-aturan h&lt;span lang="id-ID"&gt;u&lt;/span&gt;kum nasionalnya lebih longgar dibandingkan Negara maju. Ini akan menjadi problematika tersendiri karena pada akhirnya elit politik Negara bersangkutan akan menjadi pelayan MNC bukan warga negaranya sendiri sehingga akan berdampak pada keengganan untuk memberlakukan kekuatan h&lt;span lang="id-ID"&gt;u&lt;/span&gt;kum yang ketat terhadap praktek-praktek perusahaan yang dekstruktif. Tentunya hal ini sangat berbahaya bagi praktek penyelenggaraan h&lt;span lang="id-ID"&gt;u&lt;/span&gt;kum atau &lt;i&gt;law enforcement.&lt;/i&gt; Mungkin inilah yang dimaksud dengan &lt;i&gt;The Death of Democracy &lt;/i&gt;oleh Noorena Hertz dalam &lt;i&gt;Silent Takeover and the Death of Democracy&lt;/i&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Perlu diketahui bersama bahwa MNC merupakan subjek swasta dan merupakan kesatuan &lt;i&gt;non-governmental &lt;/i&gt;sehingga tidak dapat disebut sebagai &lt;i&gt;international legal person &lt;/i&gt;dan berdampak pada ia tidak memiliki hak dan kewajiban sebagaimana dimiliki Negara dalam hubungannya dengan h&lt;span lang="id-ID"&gt;u&lt;/span&gt;kum internasional. Tetapi dalam beberapa hal MNC dapat bekerja sama dengan pemerintah suatu Negara dengan membuat perjanjian dimana &lt;i&gt;items &lt;/i&gt;perjanjian memberlakukan prinsip-prinsip hukum internasional bukannya hukum nasional Negara dimana MNC tersebut berada, dimana peristiwa ini oleh Boer Mauna disebut &lt;i&gt;internationalized contracts&lt;/i&gt;. Hal ini semakin membuat MNC dapat leluasa bergerak dan akibatnya dengan kekuatan ekonominya tersebut terkadang MNC menjadi semacam “negara” di dalam Negara. Ia dapat menjadi pemain di balik layar dalam kontestasi politik domesti&lt;span lang="id-ID"&gt;k&lt;/span&gt; suatu Negara atau kalau tidak Negara tersebut akan mengalami gangguan ekonomi nasional. Di sinilah kemudian menjadi kebingungan tersendiri siapakah kemudian yang sebenarnya memerintah dalam Negara tersebut. MNC telah menjalankan Negara dengan meminjam tangan para elit politik internal.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;b&gt;Negara, MNC dan Hukum Internasional: Buah Simalakama?&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Menurut Iman Prihandono teori klasik &lt;span style="font-family:Times, serif;"&gt;dalam hukum internasional menyatakan bahwa hukum internasional adalah h&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times, serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;u&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times, serif;"&gt;kum yang berlaku dalam hubungan antarnegara, tetapi ia menilai teori ini tak lagi dapat menjawab tantangan zaman dimana sekarang subjek h&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times, serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;u&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times, serif;"&gt;kum internasional telah mengalami metamorphosis karena telah bermunculan apa yang disebut dengan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times, serif;"&gt;&lt;i&gt;non-state actors &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times, serif;"&gt;dalam kancah pergaulan internasional sehingga subjek h&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times, serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;u&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times, serif;"&gt;kum internasional masa kini tak hanya didominasi Negara. MNC adalah salah satu contoh dari &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times, serif;"&gt;&lt;i&gt;non-state actors &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times, serif;"&gt;tersebut. Namun untuk memasukkannya sebagai subjek h&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times, serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;u&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times, serif;"&gt;kum internasional ternyata juga memiliki kelemahan diantaranya adalah dibutuhkannya pemberian status &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times, serif;"&gt;&lt;i&gt;international legal persons &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times, serif;"&gt;dan ini justru berakibat pada kesetaraan kedudukan Negara dengan MNC itu sendiri dalam &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times, serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;praktek &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times, serif;"&gt;h&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times, serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;u&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times, serif;"&gt;kum internasional. Ini tentunya akan memberikan dampak lebih jauh pada proses tawar-menawar lebih lanjut antara kedua belah pihak dalam melanjutkan keberlangsungan hidupnya masing-masing. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times, serif;"&gt;Meskipun terdapat dilema bagi MNC untuk menjadi subjek hukum internasional tetapi menurut Iman Prihandono pembebanan hukum dapat dilakukan terhadap MNC yakni beban h&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times, serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;u&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times, serif;"&gt;kum sukarela demi kepentingan pribadi perusahaan yang bersangkutan dan beban h&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times, serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;u&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times, serif;"&gt;kum apabila ia melaksanakan sebagian kewenangan Negara dimana kita ketahui sebelum MNC memasuki suatu Negara ia pastinya akan mengadakan perjanjian dengan para elit berkuasa dan dalam butir-butir perjanjian umumnya MNC akan menggantikan beberapa kewenangan Negara. Ini tentunya yang akan membuat MNC masih dapat masuk sebagai subjek h&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times, serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;u&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times, serif;"&gt;kum internasional. Secara teknis dan dari kacamata politik, penulis sendiri berpendapat bahwa pembebanan h&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times, serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;u&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times, serif;"&gt;kum terhadap perusahaan multinasional dapat saja dilakukan guna membatasi gerak aktivitas mereka agar tidak sampai merugikan warga negaranya atau bahkan perekonomian makro Negara. Kita paham bahwa keberadaan MNC tidak dapat kita tolak karena ia merupakan sebuah keniscayaan dalam era globalisasi seperti sekarang ini tetapi Negara dapat membuat perjanjian dengan MNC dimana butir-butir yang nantinya akan berakibat fatal bagi survivalitasnya diusahakan semaksimal mungkin. Artinya daripada bersusah payah dan senantiasa dilematis dalam menghadapi keberadaan MNC bukankah lebih baik mencari celah yang secara hukum pada akhirnya akan mengikat kedua belah pihak untuk bisa sama-sama mendapatkan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times, serif;"&gt;&lt;i&gt;advantages. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times, serif;"&gt;Secara praktis, hal ini telah dilakukan oleh Hugo Chavez &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times, serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;di Venezuela &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times, serif;"&gt;dalam menata ulang perjanjian kerja samanya dengan perusahaan MNC yang hendak mengembangkan sayap perusahaan di negaranya. Di sini terlihat jelas bahwa pemimpin beraliran kiri itu mengerti dilema pemberian status &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times, serif;"&gt;&lt;i&gt;international legal persons &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times, serif;"&gt;terhadap MNC akan berakibat hukum cukup negatif terhadap keberlangsungan Negara, ia justru bermain di dalam wilayah hukum yang sudah pasti yakni &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times, serif;"&gt;&lt;i&gt;international contracts.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times, serif;"&gt; &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times, serif;"&gt;Menutup tulisan ini maka posisi yang ibarat buah simalakama bagi suatu Negara dalam menghadapi keberadaan MNC d&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times, serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;i&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times, serif;"&gt; wilayah kekuasaannya adalah sesuatu yang dapat di&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times, serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;atasi atau dikendalikan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times, serif;"&gt;. Hal itu hanyalah tergantung pada &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times, serif;"&gt;&lt;i&gt;political will &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times, serif;"&gt;dari para elit politiknya untuk kemudian ia hendak menjalankan peran dan fungsinya sebagai pelayan warga negaranya ataukah sebagai “babu” dari perusahaan asing yang hanya menguntungkan ia dan koleganya. Kita tunggu saja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="left" lang="id-ID"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="center" lang="id-ID"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 20pt;font-size:180%;" &gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div id="sdfootnote1"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc"&gt;1&lt;/a&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;  Mahasiswa Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas  Airlangga angkatan tahun 2006&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote2"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote2sym" href="#sdfootnote2anc"&gt;2&lt;/a&gt;  Lihat Iman Prihandono dalam &lt;i&gt;Status dan Tanggung Jawab  Multinational Companies (MNC’s) dalam Hukum Internasional &lt;/i&gt;  dalam &lt;span style="color:#0000ff;"&gt;&lt;u&gt;&lt;a href="http://www.imanprihandono.files.wordpress.com/"&gt;www.imanprihandono.files.wordpress.com&lt;/a&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;  &lt;i&gt;  &lt;/i&gt;  &lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote3"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote3sym" href="#sdfootnote3anc"&gt;3&lt;/a&gt;  Seperti yang didefinisikan oleh Dr. Boer Mauna dalam &lt;i&gt;Hukum  Internasional: Pengertian, Peranan dan Fungsi dalam Era Dinamika  Global, &lt;/i&gt;p. 55 (Penerbit PT Alumni Bandung, 2005)&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-6869507512004191553?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/6869507512004191553/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2009/01/mnc-dan-hukum-internasional.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/6869507512004191553'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/6869507512004191553'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2009/01/mnc-dan-hukum-internasional.html' title='MNC dan HUkum Internasional'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-8735467153024415913</id><published>2009-01-19T04:23:00.000-08:00</published><updated>2009-01-19T04:32:50.768-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="center" lang="sv-SE"&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; font-weight: bold; font-style: italic;" align="center" lang="pt-BR"&gt; Politik Luar Negeri Indonesia Era Soekarno&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; font-weight: bold; font-style: italic;" align="center" lang="pt-BR"&gt;Abu Yasid Al-Busthomi&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="pt-BR"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="pt-BR"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="pt-BR"&gt;    Karakteristik kebijakan luar negeri Indonesia pada awal terbentuknya sangat ditentukan oleh kondisi bangsa yang masih prematur. Pemikiran- pemikiran politik Soekarno yang cenderung nasionalis radikal ( Munawar Ahmad,  2007: 21) dan anti-kolonialis. Semangat anti-kolonialnya yang sangat militan di satu pihak memang menguntungkan posisinya sebagai presiden. Baginya, isu-isu anti kekuatan asing juga membantunya dalam mengidentifikasi kawan dan lawan. Dengan sendirinya, Soekarno, sebagai pemain sentral, menjadikan isu-isu tersebut untuk mengelola konflik dalam negeri ( Bambang Cipto: 2007: 90).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="pt-BR"&gt;    Yang menarik selama pemerintahan Orde Lama  adalah pergeserannya arah kebijakan politik eksternalnya yang tiba-tiba. Setelah memerdekakan Indonesia, Soekarno lebih condong ke Barat tapi berubah drastis saat mengetahui kenyataan Barat (dalam hal ini Amerika Serikat) tidak mendukung upaya diplomasi RI dalam mengembalikan Irian Barat ke pangkuan ibu pertiwi. Akibatnya, Soekarno mengubah haluan politik eksternalnya ke Blok Timur yang dikenal sebagai lawan sentral Barat. Ini dibuktikan adanya kedekatan Indonesia dengan Uni Soviet dan China serta dibukanya Poros Jakarta-Peking.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="pt-BR"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;    Aliran romantisme rupanya sangat mempengaruhi kepribadian Soekarno. Ini terlihat dengan kebijakan luar negerinya yang lebih bersifat konfrontatif. Baginya wilayah RI adalah sebagaimana pernah dimiliki Negara Kesatuan RI yang pertama yakni saat berada di bawah kekuasaan Majapahit. Akibatnya, Soekarno menganggap Semenanjung Malaya (yang meliputi Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam) sebagai bagian dari RI. Kepercayaannya semakin tinggi saat dapat mengembalikan Irian Barat ke dalam wilayah Indonesia. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="sv-SE"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;    Politik konfrontatifnya amat kentara saat mendapati realita pembent&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;ukan negara Federasi Malaya oleh Inggris. Ia memandang hal tersebut sebagai upaya Barat, terutama Inggris, untuk membentuk alat dalam melestarikan kehadiran dan pengaruhnya di Asia Tenggara, khususnya Malaysia dan Indonesia ( Mohammad Hatta, 1965: 140). &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;    Perumusan kebijakan saat Orde Lama berkuasa juga sangat ditentukan oleh eskalasi politik internal Indonesia yang sedang bergejolak dalam menghadapi &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;disintegrasi bangsa. Banyak pergolakan politik baik nasional maupun daerah yang terjadi saat itu. Pemberontakan PKI di Madiun 1948, pemberontakan bersenjata PERMESTA di Sulawesi Selatan, PRRI di Sumatra, Darul Islam Di Jawa Barat    (Bambang Cipto, 2007: 89) benar-benar menguras energi politik, ekonomi dan birokrasi pemerintahan Soekarno. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span lang="sv-SE"&gt;    Pada kasus PRRI maupun Irian Barat secara tidak langsung dianggap pula sebagai campur tangan asing dalam ranah politik domestik Indonesia. Ini terbukti dengan keterlibatan Belanda dan Amerika Serikat melalui CIA-nya ( Dwight King dalam &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;Indonesia”s Foreign Policy&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;). Hal ini diperparah dengan kegagalan Indonesia dalam banyak upaya diplomasi terutama dalam mengembalikan Irian Barat sehingga Soekarno seakan mendapat legitimasi untuk pemikirannya yang anti-kolonial. Untuk menggalang kekuatan baru Soekarno mendirikan NEFOS ( New Emerging Forces) yang notabene beraliran komunis-sosialis dan beranggotakan negara-negara yang baru berkembang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;    Perhatiannya yang juga begitu besar dalam usaha membangun Indonesia sebagai sebuah entitas politik yang kuat dan mandiri ( &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;state building&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;) memang telah membuat Soekarno kurang memperhatikan aspek pembangunan ekonomi domestik yang semakin memburuk. Krisis politik-ekonomi ini justru terkesan diabaikan oleh Soekarno dengan pembentukan NASAKOM (Feith dan Castles, 1988) yang semakin memperkuat jurang pemisah antara kelompok anti-komunis  (muslim dan militer) dan PKI ( sekutu dekat Soekarno). &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="sv-SE"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;    Secara politik, Soekarno banyak ditinggalkan oleh kolega seperjuangannya saat mereka mengetahui Soekarno begitu dekat dengan komunis yang cenderung atheis. Mereka beranggapan bahwa komunis tidak cocok dengan Indonesia. Kelompok yang paling keras perlawanannya adalah kaum muslim yang dipimpin Mohammad Natsir melalui Masyuminya.&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt; Bahkan melalui analisa Feith dan Castles, kita dapat mengetahui adanya ”friksi-friksi” politis dalam tubuh Orde Lama yang pada akhirnya nantinya menjadi salah satu dari sekian penyebab runtuhnya era Soekarno.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;    Secara umum, era pemerintahan Soekarno yang begitu konfrontatif di satu sisi dan terkesan ”netral” lebih dikarenakan adanya pertarungan dua ideologi besar dunia saat itu. &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Kompetisi antara Amerika Serikat dan Uni Soviet yang berbeda ideologi telah merambah kawasan Asia Tenggara sehingga sebagai pemain utama di Kawasan tersebut Indonesia dengan pemain sentral, Soekarno, mencoba mengambil manfaat dalam upaya membangun negaranya yang masih seumur jagung. Analisa kritis tentu dapat membantu kita untuk tidak terlalu mendiskreditkan Orde Lama dengan kebijakannya yang terlalu condong ke Timur. Dalam perumusan politik luar negeri suatu negara, tentu intrik dan ”penipuan’ merupakan hal wajar. Dan kejatuhan Soekarno yang lebih diakibatkan begitu kuatnya aliran romantisme dan kurangnya kapabilitas dia dalam mengurus rumah tangga negara setidaknya tetap merupan bukti bahwa naik dan turunnya dia dari tampuk pemerintahan adalah bagian dari proses dialektika ideologi besar dunia.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="sv-SE"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="sv-SE"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="right" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-8735467153024415913?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/8735467153024415913/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2009/01/politik-luar-negeri-indonesia-era.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/8735467153024415913'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/8735467153024415913'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2009/01/politik-luar-negeri-indonesia-era.html' title=''/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-3682233999333350453</id><published>2009-01-11T05:31:00.000-08:00</published><updated>2009-01-11T05:32:24.772-08:00</updated><title type='text'>DIALEKTIKA HEGELLIAN &amp; SAHABAT</title><content type='html'>&lt;div class="entry"&gt;      &lt;p&gt;Idealisme memang sebuah harapan dan impian setiap kita yang percaya pada kekuatan rasio. dengan konstruksi “impian” yg tampak begitu sempurna kita senantiasa berharap “cita-cita” yg sebenarnya penuh dengan utopia itu dapat terealisasikan dalam kehidupan ini.&lt;br /&gt;Selama kurang lebih 20 tahun aku percaya pada paradigma yg begitu mempesonakan diri aku itu bahwa aku bisa mendapatkan teman dan sahabat yg kata orang idealis “SEJATI”. apa memang benar ada?&lt;br /&gt;Mulanya aku merupakan pemuja paradigma ini karena dengan “kekuatan imajinasi” (aku dapatkan istilah ini saat menonton acara anak2 “Sponge Bob”.ha.a..a) aku dapat mengobati “kerinduanku” pada sosok sebuah “keluarga” yg selama ini tak pernah aku dapatkan. dalam arti yg sebenarnya seperti teman2 dan sahabat2ku punyai.&lt;br /&gt;Tapi kejadian Rabu kemarin tanggal 9 Januari 2008 menyadarkanku akan pentingnya “sedikit banyak” mengkritisi IDEALISMEku: seseorang yg aku anggap sahabat n bahkan saudara (entah aku juga tak tahu apa dia menganggap hal sama) dan bahwa kata satu orang: mencari sahabat “SEJATI” itu butuh waktu begitu lama. mungkin benar teori Hegellian bahwa Dialektika itu akan senantiasa ada sepanjang kita belum mendapat tujuan ideal kita (dimana dia masih menganggap penting posisi Al-kitab). dalam perspektif ilmu politik mungkin pemikiran Hegel ditujukan untuk berdirinya negara (yg mana dia memakai istilah “Roh Absolut” untuk menyebutnya) tapi tak ada salahnya khan jika aku meminjam istilahnya ini untuk menggambarkan bagaimana cita-cita ideal hidupku.&lt;br /&gt;Mari kita analogikan Roh Subjektif, Roh Objektif dan Roh Absolut (ketiganya adalah istilah dari Hegel) seperti ini:&lt;br /&gt;1. Roh Subjektif karena dominan dengan rasa Ego maka apapun yg terjadi aku harus bisa mewujudkan apa yg menjadi cita-cita ideal aku. karena aku khan juga sebuah “subjek”. perlu ditekankan di sini saya tidak mengartikan Ego seperti pandangan orang awam.&lt;br /&gt;2. Roh Objektif merupakan sesuatu yang dapat menjadi hambatan atau halangan dari idealismeku yakni adanya hipotesa bahwa untuk mendapatkan sahabat “SEJATI” perlu proses yg lama dan banyak pengorbanan. yang terkadang membuat semangatku runtuh untuh mencapai cita2 itu. bisa juga berupa tanggapan orang2 yg aku kira bisa jadi sahabat “SEJATI” ternyata hanya bertepuk sebelah tangan. jauh panggang daripada api.&lt;br /&gt;3. Roh Absolut ialah keinginanku dan cita-citaku berdasarkan konstruk idealisme aku yakni aku ingin dapat sahabat “SEJATI” .&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketiga roh itu tadi akan senantiasa berdialektika dan berproses untuk mewujudkan impian awal aku yakni sahabat ‘SEJATI”. kini hampir 8 tahuin lamanya (sejak aku mulai memiliki idealisme ini, saat kelas 5 SD) dan aku hanya mendapatkan 1 sahabat mulai SD, 1 sahabat sejak SMP, 1 sahabat sejak SMA, dan kini aku sedang dalam proses untuk mendapatkannya. perlu diketahui saat ini aku seorang mahasiswa semester 3 di sebuah PTN ternama di Jawa Timur dengan jurusan terheboh pula (ha.a.a. narsis ya?? tak apa-apa kan?) dan aku ada 2 calon sih yang membuatku yakin aku bisa.&lt;br /&gt;Yang kemudian nuansa “Dialektika HEgellian”nya adalah saat ini aku 90% persen yakin ketiga sahabat lamaku adalah “masih” yg terbaik untuk sementara ini. mereka adalah tempat curhatku selama ini. tapi proses dialektika paling kental adalah saat aku kini menjalani status sebagai mahasiswa. tantangannya terlalu berat. perlu juga diketahui sahabatku yg SD adalah anak Malang (aku sejak kecil di kota Apel tsb) dan duanya adalah orang dari tanah “Celurit Emas” karena aku memang dari Pulau Garam. dan yang sekarang ini adalah orang Jawa asli sama seperti sahabat SD aku. yg satu “alim” dan punya latar belakang sama denganku dan satunya “agak sekuler” tapi aku tahu dia ada potensi kuat untuk bisa menjadi “sedikit religius”. aku ada bukti empirisnya. meski mungkin itu agak subjektif sih.&lt;br /&gt;Selama ini keduanya ini begitu baik padaku. meski yg satu sifatnya agak “malu-malu” bila mau ngomong sama aku dan yg satunya terlalu “blak-blakan” bila ada masalah sama aku. tapi itulah sekali lagi membuktikan kebenaran dari teori “Dialektika Hegellian”. sampai suatu saat aku yakin bahwa mereka berdua bisa jadi sahabatku. sebenarnya ada dua lagi orang yang menurut aku bisa menjadi akan tetapi masih banyak variabel yg belum mereka penuhi meski yang asli suatu daerah dimana di sana terlalu banyak “aliran yg menyimpang” tapi lama-lama juga dia adalah sepenuhnya menurutku yg paling dewasa diantara ke-6 calon sahabat baru di kampus aku tercinta sekarang ini. ya benar memang mencari sahabat “SEJATI” tak semudah membalik telapak tangan. dan dinamika serta dialektika antara aku dan proses pencapaian IDEALISME aku itu butuh pengorbanan. tapi semoga aku masih bisa mendapatkan apa yang aku cita2kan itu sebelum nyawa ini merenggut jiwaku ini yang usianya aku kira tak lama lagi. semoga!!!&lt;br /&gt;Sudah dulu ya aku mau istirahat. nanti kita sambung lagi. ini aku tulis dalam rangka menyambut TAHUN BARU 1429 H yang tak pernah seramai perayaan Tahun Baru 2008 kemarin, meski 90% penduduk negeri ini muslim. tanya kenapa????? tanyakan pada hati nurani kita masing2 ya!!!!!!&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Kamar Tercinta (Kamar 4)&lt;br /&gt;Negara Kesatuan Republik Al-Quds&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-3682233999333350453?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/3682233999333350453/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2009/01/dialektika-hegellian-sahabat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/3682233999333350453'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/3682233999333350453'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2009/01/dialektika-hegellian-sahabat.html' title='DIALEKTIKA HEGELLIAN &amp; SAHABAT'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-225478214180550051</id><published>2009-01-11T05:28:00.000-08:00</published><updated>2009-01-11T05:29:18.775-08:00</updated><title type='text'>kegelisahan hamba "Kuffar"</title><content type='html'>&lt;h2&gt;&lt;a href="http://faruqumar.blog.friendster.com/2007/01/gelisah/" rel="bookmark" title="Permanent Link to GELISAH"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;     &lt;small&gt;&lt;/small&gt;      &lt;div class="entry"&gt;      &lt;p&gt;TuhanQ kenapa perasaanQ kian begini?Makhluk itu telah menyergap.Ia memelukQ erat.Q tk kuasa.Q lemah.Lunglai.Tk brdaya.Ia telah menjadi diktator.Sukma dan jiwaQ trbelenggu.Mereka terjajah.Ia telah menabur benih2 hitam dlm kalbuQ.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;TuhanQ apakah ini takdirMu?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Apakah ini suratan dariMu?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Q lelah&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Q lesu &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tk kuasa sudah Q melawan&lt;/p&gt; &lt;p&gt;TuhanQ tolonglah hambaMu&lt;/p&gt; &lt;p&gt;MakhlukMu begitu kejam ia hendak membunuhQ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Q tersiksa&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Q sekarat&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Q berdosa&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perasaan itu kian tumbuh&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ia menjelma makhluk yg menggerogoti imanQ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;IbadahQ sia-sia karenanya&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Q jd penghuni neraka&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Karenanya Q menangis tp air mataQ telah kering&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kenapa Tuhan?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Q kian hari kian tersiksa&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Q berdosa&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Q papa &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Culas&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Licik&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Q munafik&lt;/p&gt; &lt;p&gt;TuhanQ,ridhokah Engkau aakn makhlukMu yg menyergapQ?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tidakkah ia adalah diktator?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ia penggiring hambaMu ke neraka?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ia telah menjeratQ &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ia berhasil mengkudeta hatiQ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Q kalah &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lelah&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Letih&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akhirnya mati dlm  pangkuannya&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Naudzubillah. &lt;/p&gt;     &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-225478214180550051?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/225478214180550051/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2009/01/kegelisahan-hamba-kuffar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/225478214180550051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/225478214180550051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2009/01/kegelisahan-hamba-kuffar.html' title='kegelisahan hamba &quot;Kuffar&quot;'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-6526355766187529672</id><published>2009-01-11T05:23:00.000-08:00</published><updated>2009-01-11T05:24:41.564-08:00</updated><title type='text'>renungan sang pemabuk cinta</title><content type='html'>Di malam yang dingin lagi sunyi kutermenung seorang diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anganku melayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;makhluk itu…makhluk yang bernama cinta itu…menyergapku…dia telah mengkudeta hatiku…memang kurasakan hati dan tubuh melunglai…kala dia merebut singgasana di kalbuku…singgasana yang tiada pernah terjamah.Kini telah dikuasai seorang "diktator" bernama cinta. Dia begitu lihai…lembut…manis…hingga terpana ku dibuatnya. Godaannya…rayuannya telah membuka "tirai" yang selama ini tiada pernah tersibak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setelah dia tumbuh "dewasa"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dia hendak berlari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengejar seribu hati yang lugu nan polos seperti hatiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengapa semua ini terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;panggillah ia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pulangkan dirinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;andaikan dia datang lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mungkin hidupku kan bahagia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-6526355766187529672?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/6526355766187529672/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2009/01/renungan-sang-pemabuk-cinta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/6526355766187529672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/6526355766187529672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2009/01/renungan-sang-pemabuk-cinta.html' title='renungan sang pemabuk cinta'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-3349616268101746743</id><published>2009-01-09T07:16:00.000-08:00</published><updated>2009-01-09T07:23:19.551-08:00</updated><title type='text'>Relasi State, Market dan Civil Society (di Indonesia): Dominasi Politik Neoliberal?</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;"&gt;.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;&lt;b&gt;Relasi &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;State&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;&lt;b&gt;, &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Market &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;&lt;b&gt;dan &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Civil &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;&lt;b&gt;Society (di Indonesia): &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;&lt;b&gt;Dominasi Politik Neoliberal?&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Abu Yasid Al-Busthomi Ibnu Syamsul Arifin&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;sup&gt;&lt;b&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote1anc" href="#sdfootnote1sym"&gt;&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span lang="sv-SE"&gt;Berbicara mengenai hubungan antara negara, pasar dan (tentu)&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt; dengan masyarakat di Indonesia, maka kita akan dihadapkan pada sejarah panjang perjalanan bangsa ini. Kita dapat melihat bahwa terdapat paralelitas yang senantiasa berulang dalam ranah sosial dan politik sehingga memungkinkan adanya &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;social political changes&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;. Saat Orde Lama, Soekarno mencoba melakukan ”nasionalisasi” perusahaan-perusahaan minyak asing milik penjajah Belanda maupun korporasi asing lainnya sehingga terjadi kemandirian pengelolaan melalui apa yang&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;kita kenal dengan istilahnya yang cukup populer yakni &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;berdikari&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;. Berdasarkan konsep ini maka terdapat upaya Soekarno untuk mencoba mem-&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;balance &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;antara &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;state &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;dan &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;civil society&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;, sesuatu yang kemudian hari malah menjadi bumerang baginya. Di era Orde Baru justru terjadi hal sebaliknya, dominasi negara (&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;developmentalism&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;) yang disokong asing justru menjadi pemandangan monoton selama 32 tahun pemerintahan Soeharto. Dan di tahun 1998, reformasi justru membuat demokrasi yang menjadi platform utama perjuangan, malah berjalan seirama dengan pasar. Di sinilah kemudian munculnya kebangkitan baru liberalisme melalui apa yang dikenal dengan istilah &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;neo-liberalism&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;, yang mana tak ada bebas nilai karena dalam perjalanannya menjelma menjadi ”ideologi” atau bahkan ”mitos” seolah-olah bangsa ini tak kuasa menghindar. Ini sungguh berbeda dengan negara yang diklaim sebagai penganut liberalisme semisal Amerika Serikat dan Inggris yang fase awalnya justru tidak membuka pasar secara luas atau dengan kata lain peran negara masih dominan, bahkan faktanya hingga saat ini di Amerika Serikat tidak terjadi neo-liberalisme. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span lang="sv-SE"&gt;Kalau kita kaji lebih jauh, secara ontologis dalam neoliberalisme komunitas &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;itu tidak ada. Artinya hal tersebut membuktikan bahwa ranah  &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;civil society&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt; seakan ”dimarjinalisasi”. Hal ini sangat bertentangan dengan &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;fatsoen &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;politik reformasi yang mengedepankan demokrasi sebagai pilar utama. Ketiadaan &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;common goods &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;atau hilangnya nilai-nilai &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;republicanism&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt; sebagai bagian inherent demokrasi seperti munculnya produk-produk hukum berbasis politik yang “kesan” nilai-nilai neoliberalnya sangat kentara seperti UU Sisdiknas, UU Penanaman Modal Asing, UU Migas, UU Sumber Daya Air dan yang terbaru Undang-Undang tentang &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;Corporate Social Responsibility &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;atau UU CSR yang disahkan pada tahun 2007 kemarin. Sebenarnya secara teoretis, keunggulan neoliberalisme lebih ditentukan oleh pembelajaran mereka atas kritik para &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;intelectual group &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;atau kalangan teoretisi yang banyak mengkaji permasalahan terkait. Menurut David Harvey&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; (2005)&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;, salah satu pakar ekonomi politik internasional khususnya mengenai neoliberal, bahwa teori dan praktek dimana kesejahteraan justru dapat dicapai melalui &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;interpreneurship &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;individu seperti diterapkan oleh Inggris saat kekuasaan Margareth Tatcher. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span lang="sv-SE"&gt;Jika dalam liberalisme, kebangkrutan ditanggung oleh para investor maka dalam neoliberalisme kebangkrutan itu tidak hanya berakibat kerugian pada para penanam saham melainkan juga rakyat atau dalam hal ini adalah &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;civil society&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;. Bahkan dengan neoliberal ini saat terjadi krisis posisi swasta (market) terkesan &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;leading &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;sedangkan pemerintah atau negara masuk hanya dengan kebijakan berupa &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;bailout&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;. Sebenarnya, kemunculan neoliberalisme seiring sejalan dengan adanya globalisasi di akhir abad ke-20, tetapi dalam perjalanannya neoliberal muncul menjadi semacam &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;globalism &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;tanpa globalisasi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span lang="sv-SE"&gt;Melihat itu semua maka semakin menguatkan bahwa saat ini konstelasi perpolitikan kaitannya dengan relasi antara &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;state, market &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;dan &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;civil society&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt; nampak sekali posisi &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;market &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;dengan paham neoliberalnya menyeruak ke depan. Semisal lahirnya Undang-Undang Perseroan Terbatas yang memuat tentang &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;CSR &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;( pasal 74 ) pada tanggal 20 Juli 2007 (Majalah Bisnis&amp;amp; CSR, 2007: 62). Ini seakan menjelma menjadi ”bendera putih negara” karena di sini menjadi sebuah pertanyaan bahwa sesuai konstitusi kita masalah kesejahteraan &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;civil society &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;merupakan tanggung jawab negara.  Secara ontologis, hukum itu muncul adalah untuk mengatur interaksi manusia sehingga &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;bargaining &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;interaksi itu kemudian menjadi seimbang. Namun dalam logika neoliberal, terdapat sebuah diktum untuk membiarkan interaksi itu terjadi secara alami dan hukum dijadikan semacam ”praktek Darwinisme”. Maka kemudian hukum muncul sebagai alat negara sehingga bermunculan produk-produk hukum sebagai ”pembungkus sosial politik” seperti munculnya Undang-undang Penanaman Modal Asing (UU PMA), munculnya rezim HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) pada tahun 2007 dengan UU ITE, ataupun UU Sisdiknas tahun 2003. sehingga menjadi pertanyaan pada akhirnya hukum itu berpihak pada siapa dan dimana peran negara jika kemudian semua tugas dan tanggung jawab negara di”serah”kan pada swasta alias &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;market. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span lang="sv-SE"&gt;Melihat realita ini maka menurut hemat saya. Diperlukan adanya pemetaan terhadap peran dan fungsi negara&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; dan &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;pasar kaitannya dengan fenomena global untuk memasukkan peran &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;civil society &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;sehingga terdapat keseimbangan interaksi antara ketiga elemen tersebut. Sehingga sebuah pertanyaan besar yang sekaligus menutup tulisan pendek ini adalah apakah yang salah dengan bangsa ini sehingga regulasi di Indonesia terkesan lemah dan berpihak pada satu kekuatan saja? Visi misi kita ataukah justru tidak adanya komitmen untuk berusaha menyeimbangkan hal itu. Pada akhirnya pertanyaan apakah ada dominasi &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;market &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;atau tidak semua dikembalikan pada visi, misi dan komitmen bangsa ini dan itu semua dapat dilihat pada realitas yang tengah berlangsung di depan kita. &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Wallahu’alam!copyright@Abuyasidal-busthomiibnusyamsularifin&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="center" lang="pt-BR"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="center" lang="pt-BR"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="center" lang="pt-BR"&gt;   &lt;/p&gt; &lt;div id="sdfootnote1"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc"&gt;1&lt;/a&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;  Mahasiswa Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas  Airlangga angkatan 2006 NIM. 070610302&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-3349616268101746743?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/3349616268101746743/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2009/01/relasi-state-market-dan-civil-society.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/3349616268101746743'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/3349616268101746743'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2009/01/relasi-state-market-dan-civil-society.html' title='Relasi State, Market dan Civil Society (di Indonesia): Dominasi Politik Neoliberal?'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-6818050748583432371</id><published>2009-01-09T06:45:00.002-08:00</published><updated>2009-01-09T07:00:07.075-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="center"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;&lt;b&gt;Menyoal Kemungkinan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;&lt;b&gt; Terjadinya &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Nuclear War&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;: &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;A Futuristic Notion&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="center" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="center"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Abu Yasid Al-Busthomi Ibnu Syamsul Arifin&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote1anc" href="#sdfootnote1sym"&gt;&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="center" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Abtracts &lt;/b&gt;&lt;/i&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;There’s &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;a norm which is believed by international relations scholars that there will no nuclear war. It was indicated that in nuclear age –Cold War era-, the weapons just used as deterrence strategy.  The revolutionary transformation of classic strategy into the nuclear one was assured as the disappearance of trial. This notion, of course, ignored the possibility of nuclear war. But, the recent realms of international relations either theoretically or practically, should change the perception. This writing is surely futuristic and, of course, should point the criterias or the assumptions and certain case so then I can tell that the nuclear war will be possible, something which is generally thought impossible to take place. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Keywords&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;: &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;nuklir, &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;disappearance of trial&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;nuclear deterrence,&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;contemporary phenomenon&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;nuclear war&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;b&gt;Pendahuluan &lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span lang="id-ID"&gt;Terdapat sebuah pertanyaan mendasar yang acapkali hinggap di benak penulis terkait &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;konstelasi politik internasional kekinian. Hal tersebut terutama dikaitkan dengan isu nuklir yang membawa arah masa depan politik dunia kian tak menentu. Kasus yang paling fenomenal adalah aksi terorisme di Pentagon dan WTC, Amerika Serikat, pada 9 September 2001 dan yang paling mutakhir adalah permasalahan klasik yang ibarat “borok” antara India dan Pakistan yang muncul kembali ditandai Tragedi Mumbai awal Desember&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote2anc" href="#sdfootnote2sym"&gt;&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; 2008 silam. Penulis menilai bahwa keyakinan para penganut paradigma klasik &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;nuclear strategy &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;yang menekankan pada &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;nuclear deterrence&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; dimana &lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;nuklir digunakan untuk mencegah negara musuh melakukan serangan, dengan memberikan jaminan bahwa serangan tersebut akan dibalas menggunakan senjata nuklir yang akan menimbulkan kerugian lebih besar dari tujuan yang hendak dicapai negara lawan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;, perlu dikritisi. Hal ini perlu dilakukan karena jika tidak maka &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;mindset &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;para pemerhati politik internasional akan terfokus pada suatu doktrin yang dapat menyesatkan, yakni kepercayaan total atau &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;taqlid &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;buta bahwa &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;there will no nuclear war&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;. Padahal kita tahu bagaimana pengaruh proliferasi nuklir dalam percaturan politik global sebagaimana disinyalir oleh Michael Mandelbaum&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote3anc" href="#sdfootnote3sym"&gt;&lt;sup&gt;3&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;, akan sangat berdampak pada &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;nuclear armaments on the balance of power, alliances &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;dan &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;the behavior of national leaders&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;. Artinya, perkembangan isu nuklir juga akan membuat adanya pergeseran demi pergeseran yang pada akhirnya akan memungkinkan terjadinya perang nuklir yang berarti itu telah keluar dari pakem - asumsi pokok- yang ada. Kemungkinan banyak kalangan yang skeptis dengan hipotesa ini mengingat secara historis, “serpihan-serpihan sejarah” &lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;memperlihatkan bahwa sebagai sebuah persenjataan, nuklir lebih banyak digunakan sebagai instrumen penangkalan (&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;deterrence&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;) daripada instrumen untuk memenangkan perang apalagi selama Perang Dingin yang dianggap sebagai &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;nuclear age &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;perang ini tak pernah menjadi kenyataan. Dalam tulisan ini, penulis akan berpijak pada strategi  nuklir dengan asumsi pokok yang mendasarinya serta mencoba “mengais beberapa serpihan sejarah” lainnya yang masih berserakan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote4anc" href="#sdfootnote4sym"&gt;&lt;sup&gt;4&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; di sana-sini dan mencoba mengkombinasikannya dengan perkembangan politik internasional kontemporer saat ini dan “membuat” beberapa kriteria yang memungkinkan  untuk terjadinya perang tersebut serta membuktikan bahwa hipotesa di atas cukup berdasar. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;Strategi Nuklir: Sebuah &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Nuclear Deterrence&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;?&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="background: rgb(255, 255, 255) none repeat scroll 0% 50%; margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, meskipun senjata nuklir telah pernah digunakan untuk memenangkan perang, sejarah menunjukkan  sebagai sebuah persenjataan, nuklir lebih banyak digunakan sebagai instrumen penangkalan  daripada untuk memenangkan perang. Hal tersebut kemungkinan terjadi karena kedua Blok baik Barat maupun Timur yang saling bertikai, saat Perang Dingin (era di mana oleh banyak pihak dianggap sebagai &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;nuclear age&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;), memiliki kapasitas nuklir yang relatif berimbang, sehingga kedua belah pihak merasa akan terkena dampak besar jika sampai terlibat perang nuklir. Di dalam &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;nuclear deterrence&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;, nuklir digunakan untuk mencegah negara musuh melakukan serangan, dengan memberikan jaminan bahwa serangan tersebut akan dibalas menggunakan senjata nuklir yang akan menimbulkan kerugian lebih besar dari tujuan yang hendak dicapai negara lawan dan hal ini juga yang membuat bahwa &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;nuclear strategy &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;lebih bersifat &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;executive decision&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="background: rgb(255, 255, 255) none repeat scroll 0% 50%; text-indent: 1.27cm; margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;A&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;da beberapa asumsi pokok dalam &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;nuclear deterrence&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; yaitu, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;pertama, &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;sifatnya yang defensif, dimana interaksi baru akan terjadi pada saat atau setelah serangan pertama (&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;first strike&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;) dari pihak lawan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;font-size:85%;" &gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;diberikan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;Kedua, &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Serangan balasan (&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;second strike&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;) dilakukan dengan mengandalkan persenjataan yang dapat diselamatkan dari serangan pertama pihak lawan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;font-size:85%;" &gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;dan yang &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;terakhir &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;adalah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;rasionalitas dan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;mirror-image&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;. Berdasarkan asumsi ini maka pihak lawan dinilai berpikir dengan logika yang sama seperti yang dilakukannya karena yang akan menjadi korban apabila sampai terjadi perang nuklir tidak hanya pihak lawan tetapi ia sendiri. Dengan asumsi tersebut kemudian terjadi perubahan strategi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote5anc" href="#sdfootnote5sym"&gt;&lt;sup&gt;5&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; – dari &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;classic strategy &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;ke &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;nuclear strategy&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; – yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="background: rgb(255, 255, 255) none repeat scroll 0% 50%; text-indent: 1.27cm; margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;1. perubahan dari yang bersifat &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;aggresive offense &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;menjadi &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;effective defense&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="background: rgb(255, 255, 255) none repeat scroll 0% 50%; text-indent: 1.27cm; margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;2. dari &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;to attack &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;menjadi &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;to deter&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="background: rgb(255, 255, 255) none repeat scroll 0% 50%; text-indent: 1.27cm; margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;3. strategi &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;massive attack &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;menjadi &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;massive retaliation&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="background: rgb(255, 255, 255) none repeat scroll 0% 50%; text-indent: 1.27cm; margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;4. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;to subdue &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;menjadi &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;to disarm&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 2.75cm; margin-bottom: 0.56cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Perkembangan nuklir &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;yang begitu pesat dan adanya perubahan revolusioner dalam tataran strateginya membuat banyak kalangan percaya pada sebuah &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;norm &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;akan munculnya &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;disappearance of trial&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;, karena dahsyatnya dampak negatif yang akan ditimbulkan sehingga selama ini nuklir memang diklaim hanya sebagai strategi penangkalan. Untuk memantapkan hal itu sejumlah negara melakukan suatu perjanjian bersama yang dikenal dengan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Non-Proliferation Treaty &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;(NPT)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote6anc" href="#sdfootnote6sym"&gt;&lt;sup&gt;6&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;pada 1 Juli 1968. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Pada dasarnya perjanjian ini memiliki tiga pokok utama, yaitu non-proliferasi, pelucutan senjata nuklir, dan hak penggunaan teknologi nuklir untuk kepentingan damai. &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Tetapi yang menjadi kecemasan negara-negara penandatanganan perjanjian tersebut adalah tidak semua negara ternyata ikut terlibat dalam perjanjian itu. Bahkan kepada kelima negara anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa yakni Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Rusia dan China, mereka diberikan keleluasaan untuk tetap memiliki senjata nuklir berdasarkan Perjanjian Non-Proliferasi itu sendiri, sehingga mereka dikenal dengan sebutan negara pemilik senjata nuklir atau &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Nuclear Weapon States&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 2.75cm; margin-bottom: 0.56cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span lang="id-ID"&gt;Walaupun kelima negara pemilik nuklir&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; tersebut telah menyetujui untuk tidak menggunakan senjata nuklirnya terhadap negara-negara non-nuklir, tetapi tetap saja mereka memberikan pengecualian untuk merespon jikalau terdapat serangan nuklir atau serangan konvensional yang ditujukan kepadanya. Hal ini berarti mengisyaratkan bahwa sebenarnya tidak ada satu negara pun di dunia ini yang terbebas dari ancaman serangan nuklir. Diperparahnya lagi, Amerika Serikat telah mengindikasikan bahwa mereka akan menggunakan senjata nuklirnya untuk membalas penyerangan non-konvensional yang dilakukan oleh negara-negara yang mereka anggap “berbahaya” sesuai dengan tafsiran mereka sendiri. Artinya, penggunaan nuklir sebagai alat untuk memenangkan perang akan “menyeruak” tatkala konstelasi politik internasional karena logika negara akan mementingkan &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;national interest&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; dengan instrumen &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;military power&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote7anc" href="#sdfootnote7sym"&gt;&lt;sup&gt;7&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; termasuk di sini adalah nuklir itu sendiri. Anggapan ini cukup &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;reasonable &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;jika kita melihat bahwa pada kenyataannya pengembangan kepemilikan &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;weapon of mass destruction &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;seperti halnya senjata nuklir memperlihatkan &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;domino effect theory&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;. Apabila satu pihak disinyalir akan memulai, maka yang lainnya – pesaing atau musuh – akan mengambil langkah yang sama (&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;mirror- image&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;) untuk bisa mengunggulinya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0.56cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span lang="id-ID"&gt; Dalam sejarah, Amerika Serikat diketahui telah melakukan pengembangan senjata nuklir untuk pertama kalinya ketika Perang Dunia II berlangsung. Hal ini dikarenakan badan intelijen Amerika (CIA) mencurigai tenaga ahli Nazi-Jerman telah berhasil mengembangkan teknologi senjata nuklir, salah satunya dengan proyek Roket V2. Sehingga Amerika Serikat pun merampungkan pengembangan teknologi senjata nuklir sekaligus memproduksinya dan pada tahun 1945 berhasil melakukan uji coba pertamanya dengan nama sandi “Trinity”. Jika negara lain menjadikan senjata nuklir sebagai &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;deterrence &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;maka AS lah satu-satunya negara yang “tega” menggunakan senjata nuklir terhadap negara lainnya yakni ketika bom nuklir  dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus 1945 guna memenangkan perang dengan Jepang. AS juga telah mengembangkan senjata &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Hidrogen Bomb &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;dengan uji coba bersandi &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;“Ivy Mike”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; pada tahun 1952 dan versi yang dapat digunakan dalam peperangan bersandi “&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Castle Bravo” &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;2 tahun kemudian. Ini kemudian diikuti oleh Uni Soviet pada 1953 dengan sandi “&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Joe Four” &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;dan senjata bom hidrogen dengan sandi “&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;RDS-37” &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;2 tahun kemudian dan Uni Soviet telah melakukan uji coba jenis bom terkuat yang pernah ada bersandi “&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Tsar Bomba” &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;berkekuatan 100 megaton tetapi sengaja dikurangi menjadi 50 megaton. Dan perseteruan ini diikuti pula oleh Inggris, Prancis dan China.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0.56cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Terlepas bahwa uji coba itu dilakukan sebelum ditandatanganinya Perjanjian Non-Proliferasi tahun 1968, akan tetapi fenomena nuklir internasional tidak otomatis berhenti dengan perjanjian tersebut. Pasca perjanjian itu, India yang tidak pernah menjadi anggota NPT tetapi melakukan uji coba senjata nuklir yang diklaim sebagai senjata nuklir damai dengan sandi &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Smiling Buddha &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;pada 1974 dan menjadi uji coba nuklir pertama pasca ditandatanganinya perjanjian NPT sehingga mendapat pertanyaan dunia bagaimana teknologi nuklir sipil bisa digunakan untuk kepentingan persenjataan. Bahkan pada tahun 1998, uji coba kedua dengan sandi &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Operasi Shakti &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;dilakukan. Disinyalir hal ini untuk menunjukkan pada RRC bahwa India juga memiliki kemampuan di bidang &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;nuclear weapons&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;. Kesemuanya itu merupakan hasil kerjasama India dengan Amerika Serikat. Suatu tindakan yang diharamkan berdasarkan &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Bab 3 ayat 2 Perjanjian NPT yang menyebutkan, negara-negara pemilik teknologi nuklir dilarang untuk mengirimkan peralatan atau mentransfer teknologi ke negara-negara non-NPT&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote8anc" href="#sdfootnote8sym"&gt;&lt;sup&gt;8&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;, bahkan untuk proyek nuklir bertujuan damai sekalipun. Hal ini ditetapkan dengan alasan bahwa negara-negara non-NPT berada di luar pengawasan IAEA sehingga aktivitas mereka tidak bisa dikontrol. Kenyataan menunjukkan bahwa AS, Perancis, dan Inggris secara terang-terangan membantu proyek pembuatan senjata nuklir di Israel. Pakistan sebagai tetangga terdekat India dan memiliki dendam sejarah dan politis hingga sekarang, mengikuti jejaknya dengan melakukan uji coba senjata nuklir pada tahun 1998 di Chagai Hills. Ironisnya, pengembangan senjata nuklir Pakistan dimulai sejak 1970an dan mayoritas dari reaktor nuklir pakistan dibangun di bawah tanah, dekat ibukota Islamabad dengan bantuan semuanya dari &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;weapons states&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;. Terakhir adalah Korea Utara yang melakukan uji coba nuklir pada tanggal 9 Oktober 2006 setelah keluar dari keanggotaan NPT pada 10 Januari 2003 karena perlakuan diskriminatif  &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;weapon states &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;dalam mengembangkan teknologi nuklir di negara non-nuklir. Peristiwa tak kalah menariknya adalah laporan dari &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Natural Resources Defense Council &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;dan Federasi Ilmuwan Amerika Serikat, Israel, satu-satunya negara di kawasan Timur Tengah disinyalir telah memiliki senjata dengan hulu ledak nuklir sejumlah antara 75-200 buah&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote9anc" href="#sdfootnote9sym"&gt;&lt;sup&gt;9&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; dan pernah melakukan uji coba nuklir hasil kerjasama dengan Afrika Selatan pada 1979 di Samudera Hindia yang terkenal dengan istilah Insiden Vella.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="background: rgb(255, 255, 255) none repeat scroll 0% 50%; margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span lang="id-ID"&gt; Secara teoretik,&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; sebagaimana telah disebutkan di atas, nuklir lebih diarahkan sebagai &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;deterrence strategy&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;, tetapi bukti di lapangan menunjukkan fakta yang terbalik. Hal ini menjadi pertanyaan tersendiri, apakah benar nuklir memang diarahkan pada strategi penangkalan. Serpihan sejarah yang berserakan justru memberikan realitas berbeda. Apalagi pasca &lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;tumbangnya komunisme menyebabkan Amerika Serikat mengubah strategi nuklirnya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote10anc" href="#sdfootnote10sym"&gt;&lt;sup&gt;10&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;. Pada tahun 1991, George Bush mengurangi secara masif jumlah persenjataan nuklirnya dengan memusnahkan senjata-senjata nuklir yang terpasang di kapal-kapal perangnya dan ribuan senjata nuklir landas daratnya, terutama yang terdapat di Jerman Barat. Tujuan dari pemusnahan ini adalah, selain merasa kemungkinan Perang Dunia Ketiga tidak akan terjadi, juga untuk mendorong para pemimpin di Uni Soviet melakukan hal yang serupa. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;Pada tahun 1994 dilakukan peninjauan ulang atas sifat, peran dan jumlah senjata-senjata nuklir Amerika Serikat. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Hasil dari peninjauan ulang ini adalah &lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;i&gt;Nuclear Posture Review &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;(NPR) 1994. Namun, isi dari NPR 1994 ini masih bersifat konservatif. Amerika Serikat masih mengambil sikap &lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;yang terbilang&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt; fleksibel dalam menghadapi perubahan politik internasional yang terjadi.&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Pasca Perang Dingin mendorong Amerika Serikat untuk mengembangkan pengaturan pengontrolan senjata nuklir. Upaya Amerika Serikat ini berpusat pada perjanjian START (&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;Strategic Arms Reduction Treaty&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;) II yang disepakati tahun 1993. START II berisikan kesepakatan Amerika Serikat dan Rusia untuk mengurangi jumlah senjata nuklirnya: dari 12.000 hulu ledak nuklir pada tahun 1990 menjadi antara 3000 dan 3500 pada tahun 2003. Namun, pada tahun 1997 masa pengurangannya diperpanjang hingga tahun 2007 karena persoalan politik dan teknis&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote11anc" href="#sdfootnote11sym"&gt;&lt;sup&gt;11&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="background: rgb(255, 255, 255) none repeat scroll 0% 50%; margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Contemporary Phenomenon&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;s: &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;Sebuah Kondisi yang Berbeda, Preseden Buruk akan Terjadinya &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Nuclear War&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;?&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="background: rgb(255, 255, 255) none repeat scroll 0% 50%; margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Globalisasi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote12anc" href="#sdfootnote12sym"&gt;&lt;sup&gt;12&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; dengan segala variannya telah memberikan perubahan signifikan terhadap peta politik internasional. Hal ini terutama berpengaruh terhadap Hubungan Internasional dimana kajian ini semula menekankan pada &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;inter-state relation&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;, tetapi seiring perkembangan globalisasi yang ditandai dengan revolusi teknologi informasi dan komunikasi, telah memunculkan aktor-aktor baru dalam Hubungan Internasional seperti &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;multinational corporations&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; (MNC), &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;non-governmental organizations&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; atau LSM, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;terrorist groups &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;atau bahkan individu atau yang lebih dikenal dengan istilah &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;non-state actors&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;. Hal ini tentu berpengaruh pula terhadap bentuk perang kaitannya dengan konsep keamanan. Kajian yang awalnya didominasi oleh realisme kemudian mengalami pergeseran menjadi neo-realisme. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="background: rgb(255, 255, 255) none repeat scroll 0% 50%; margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Untuk kepentingan tulisan ini, maka penulis menekankan hanya pada aspek perluasan aktor, yang semula hanya menekankan pada interaksi antar negara, kini peta tersebut telah berubah. Kemunculan aktor &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;non-state &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;khususnya kelompok teroris, yang ditandai dengan peristiwa 9/11, telah mengubah konsepsi akan perang. Jika sebelumnya, secara umum perang merupakan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;engagement &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;antara negara, maka dengan munculnya aktor-aktor baru, konsepsi tersebut perlu dikaji ulang. Apalagi jika harus dikaitkan dengan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;nuclear war&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;. Di sini penulis akan mencoba memberikan beberapa asumsi guna melihat kaitan perubahan politik global kontemporer terkait “gejala munculnya perang nuklir”. Asumsi pertama, banyak &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;scholars &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;berargumen bahwa perang nuklir tidak terjadi selama era &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Cold War&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; karena negara sebagai &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;unitary rational actor&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote13anc" href="#sdfootnote13sym"&gt;&lt;sup&gt;13&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; dengan segala analisanya terhadap konsekuensi logis yang harus ditanggung apabila harus melibatkan diri sehingga mereka menggunakan nuklir sebagai &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;deterrence&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; saja. Tetapi dengan kemunculan aktor non-negara - &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;terrorists&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; – agaknya alasan tersebut perlu dikritisi. Dalam kasus terorisme, terutama yang dilatarbelakangi oleh faktor moral atau agama, maka &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;rationality &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;itu menjadi kabur kalau tidak mau dikatakan tidak ada. Seperti kasus Usamah bin Laden, otak dari peristiwa 9/11, yang mendasari tindakannya tersebut adalah bentuk dakwah dan jihad&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote14anc" href="#sdfootnote14sym"&gt;&lt;sup&gt;14&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; terhadap Amerika Serikat dan sekutunya yang telah menjadi &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;cukong &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Israel dalam menduduki tanah muslim di Palestina. Sesuatu yang &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;irrational &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;dalam pandangan akademisi yang senantiasa berkutat dengan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;scientific method&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;.  Dalam pandangan penulis anggapan, absennya perang nuklir saat &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Cold War &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;cukup &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;reasonable&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; mengingat saat itu, fenomena ini belum mencuat ke permukaan dan dalam konteks kekinian, pandangan itu perlu direvisi. Jika kita perhatian lebih jauh, perang tak lebih merupakan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;social phenomenon&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; dimana &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;its logic is not the logic of art, nor of science or enginering&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;, akan tetapi lebih kepada &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;the logic of social transactions&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote15anc" href="#sdfootnote15sym"&gt;&lt;sup&gt;15&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;. Berdasarkan logika sosio-religi yang ada maka kemungkinan untuk menekan “tombol” nuklir terbuka lebar. Adanya motif agama pula yang menyebabkan Israel begitu membabi buta saat “membantai” rakyat sipil Palestina&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote16anc" href="#sdfootnote16sym"&gt;&lt;sup&gt;16&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;, termasuk adanya indikasi penggunaan senjata –meskipun- tergolong mikronuklir&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote17anc" href="#sdfootnote17sym"&gt;&lt;sup&gt;17&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;. Bagaimana doktrin-doktrin Talmud&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote18anc" href="#sdfootnote18sym"&gt;&lt;sup&gt;18&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; yang terkesan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;irrational &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;dan rasis telah terinternalisasi dalam setiap benak bangsa Yahudi itu. Jika ada sebuah “entitas politik” yang dapat bertindak tidak dalam tataran rasional, maka kemungkinan pada &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;non-state actors&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;- kelompok teroris- dalam pandangan penulis semakin besar.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="background: rgb(255, 255, 255) none repeat scroll 0% 50%; margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Asumsi yang kedua, unit analisis individu terkait &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;decision making process&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; atau dalam studi hubungan internasional disebbut sebagai pendekatan mikro&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote19anc" href="#sdfootnote19sym"&gt;&lt;sup&gt;19&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;. Telah disebutkan sebelumnya, bahwa dampak nuklir yang begitu besar baik bagi negara penyerang maupun negara sasaran, maka kekuatan nuklir yang dimiliki suatu negara tertentu hanya digunakan sebagai alat gertak tetapi tidak sampai digunakan. Ini yang kemudian membuat dalam kajian nuklir yang disebut sebagai &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;strategist &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;adalah para eksekutif, karena merekalah pihak yang paling bertanggung jawab atas negaranya. Dalam tataran strateginya pun para &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;scholars &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;percaya betul akan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;disappereance of trial&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;, dan seperti penulis paparkan, ternyata &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;deterrence strategy &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;dan percobaan itu hanya isapan jempol belaka. Banyak negara melakukan percobaan nuklirnya baik terang-terangan maupun rahasia seperti Israel&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote20anc" href="#sdfootnote20sym"&gt;&lt;sup&gt;20&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;. Kembali pada asumsi yang kedua, dalam realitasnya, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;states &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;tidaklah melakukan tindakan, aktor yang melakukannya adalah para pemimpinnya. Dan variabel terkait &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;decision making &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;dalam asumsi yang kedua ini adalah “idiosinkretik”. Tidak dapat dipungkiri, bahwasanya karakteristik psikologis seorang pemimpin mempengaruhi kebijakan yang dibuatnya dan pengaruh idiosinkretik ini lebih dominan berbicara dalam konteks kepemimpinan yang sentralistik atau otoriter&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote21anc" href="#sdfootnote21sym"&gt;&lt;sup&gt;21&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;, sesuatu yang merupakan fenomena kental dalam kepemimpinan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;terrorist groups&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;. Berdasarkan asumsi ini, mengingat kelompok teroris biasanya dalam bertindak- dengan motif agama – &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;irrational&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;, dan berkaca pada serpihan sejarah yang terpinggirkan dimana banyak fakta sejarah menguatkan mereka bahwa &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;major power &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;maupun &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;weapon states &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;seringkali melakukan standar ganda dalam politiknya seperti pelanggaran untuk konsisten pada norma &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;disappereance of trial &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;maka, tidak salah jika mereka melakukan hal yang sama. Persepsi ini diperkuat dengan ajaran agama yang lebih didominasi interpretasi tekstual yang statis. Asumsi ini cukup beralasan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="background: rgb(255, 255, 255) none repeat scroll 0% 50%; margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Dan asumsi yang ketiga adalah kemajuan teknologi. Perkembangan nuklir dan senjata nuklir tentunya tak lepas dari kemajuan teknologi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Dalam peperangan di era kontemporer ini, senjata dengan teknologi menjadi sebuah keniscayaan guna mendapatkan kemenangan yang cepat. Jika pada, awal perkembangannya, produk senjata termasuk nuklir tidak &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;mobile, &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;maka sekarang telah ada &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;portable weapons&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote22anc" href="#sdfootnote22sym"&gt;&lt;sup&gt;22&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;termasuk di bidang nuklir. Artinya, dengan tingkat keluwesan yang seperti ini memungkinkan pihak-pihak tak bertanggung akan memanfaatkannya demi mengejar kepentingan jangka pendeknya. Meluasnya aktor yang bermain dalam kancah politik internasional, mau tidak mau memaksa tiap pihak untuk memiliki &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;self-help system &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;sendiri dan yang paling logis dalam hal ini adalah memiliki kemampuan di bidang militer. Dan diperkirakan sekarang ini ada sekitar 80 negara&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote23anc" href="#sdfootnote23sym"&gt;&lt;sup&gt;23&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;, baik yang diketahui publik ataupun yang merahasiakannya. Problematikanya adalah, tidak adanya jaminan bahwa kepemilikan senjata itu akan jatuh pada tangan siapa sehingga masa depan dunia kian tak menentu. Sebagai pembuktiannya, sejak peristiwa 9/11 yang dianggap momentum bangkitnya terorisme, dimana akibat ledakan yang ada dapat meluluhlantakkan Gedung WTC dan Pentagon, maka jamak diketahui kemampuan teknologi kelompok teroris semakin mengalami kemajuan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote24anc" href="#sdfootnote24sym"&gt;&lt;sup&gt;24&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; dan tidak menutup kemungkinan pengetahuan akan pengembangan senjata nuklir akan dikuasai.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="background: rgb(255, 255, 255) none repeat scroll 0% 50%; margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Asumsi terakhir dan ini sangat riskan adalah permainan strategi &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;non-state actors&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; dengan melibatkan aktor negara secara tidak langsung&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote25anc" href="#sdfootnote25sym"&gt;&lt;sup&gt;25&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;. Ini lebih ditekankan pada &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;terrorist groups&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;, sebagai gejala mutakhir abad 21, dimana sebagai elemen dari suatu entitas politik, seperti Al-Qaeda di Afghanistan, Jamaah Islamiyah di Asia Tenggara seperti di Indonesia dan Laskar e-Taiba di Pakistan acapkali merepotkan hubungan antar negara dimana ia hidup dan berkembang dengan negara lainnya. Problematika yang tak kalah rumit adalah jika negara yang dibuat tegang hubungannya adalah termasuk &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;weapon states&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;, hal ini justru menjadi preseden buruk bagi semakin dekatnya perang nuklir bahkan antara negara nuklir. Asumsi seakan mendapat pembenaran terkait peristiwa terbaru dalam hubungan internasional yakni &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Tragedi Mumbai&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Mumbai yang merupakan ibu kota keuangan dan simbol gemerlapan India, serentak muram. Serangan teroris bersenjata di 10 lokasi di Mumbai sejak Rabu malam, 26 November 2008, telah menewaskan 125 orang termasuk 4 warga asing asal Inggris, Jepang, Australia dan Jerman serta mencederai 327 orang&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote26anc" href="#sdfootnote26sym"&gt;&lt;sup&gt;26&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;. Perdana Menteri India, Manmohan Singh menuding pihak luar terlibat aksi terorisme tersebut, dan diperkuat oleh Kepala Operasi Militer Ekstremis India, Mayor Jenderal RK Hooda bahwa Pakistan terlibat dan secara khusus menunjuk Al-Qaeda. Sontak saja, tudingan tersebut dibantah oleh pihak Pakistan melalui Menteri Luar Negeri, Shah Mehmood Qureshi sehingga hubungan India-Pakistan kembali menegang. Pemerintah Amerika Serikat menilai bahwa ketegangan itu dapat mengganggu kampanye antiterorisme di kawasan&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote27anc" href="#sdfootnote27sym"&gt;&lt;sup&gt;27&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;. Hubungan kedua negara kawasan yang kian memburuk dikhawatirkan akan memuncak pada konfrontasi militer secara terbuka. Hal ini diperkuat rencana pemerintah India untuk menyerang Pakistan karena dianggap sebagai basis kaum ekstremis yang menyerang Mumbai&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote28anc" href="#sdfootnote28sym"&gt;&lt;sup&gt;28&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0.56cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Perlu diketahui bersama bahwa kedua negara sejak berpisah secara resmi pada tahun 1947, telah terlibat dalam perang militer terbuka sebanyak tiga kali yakni pada tahun 1948, 1965 dan tahun 1971. Kini setelah kedua negara telah berhasil mengembangkan senjata berhulu ledak nuklir dan telah diakui oleh kalangan &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Barat sebagai negara nuklir non-NPT. Dan menurut pemerintah India dengan beberapa bukti dari pihak intelijennya, pihak intelijen Pakistan terlibat dalam serangan terorisme dengan melatih kelompok teroris Laskar e-Taiba&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote29anc" href="#sdfootnote29sym"&gt;&lt;sup&gt;29&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;. Hal inilah yang kemudian menjadikan, masing-masing pasukan telah dikirim ke daerah perbatasan. Terkait kemampuan nuklirnya, menurut data dari &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Natural Resources Defences Council&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote30anc" href="#sdfootnote30sym"&gt;&lt;sup&gt;30&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; total senjata dengan hulu ledak nuklir yang dimiliki India sekitar 40-50 buah dan di pihak Pakistan sekitar 1-10 buah dan dengan proyek yang “direstui” Barat bukan tidak mungkin jumlahnya kini telah berubah. Kemungkinan untuk terjadinya perang amat terbuka. Apalagi secara sosio-kultural, pandangan bahwa &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;weapon states &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;tak akan pernah terlibat perang nuklir terbuka, perlu pula dikaji ulang karena untuk kasus India-Pakistan sangat kontras dengan kasus Amerika Serikat-Uni Soviet di era Perang Dingin. Selain faktor sejarah dan politik, ada nuansa atau motif agama di balik konflik tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0.56cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Tampaknya, dunia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; kali ini akan menyaksikan konflik akbar berupa perang nuklir antara Pakistan dan India. Kemungkinan pecah perang sulit dihindarkan. Sepanjang sejarahnya, India baru kali pertama menggerakkan armada lautnya ke Laut Arabia sejak tahun 1971. Begitu juga dengan pengerahan kekuatan militer dalam jumlah besar. Ini mengindikasikan bahwa genderang perang bukan hanya isapan jempol belaka. Sejauh ini, upaya internasional untuk meredam tensi kedua belah pihak belum membuahkan hasil. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apa yang akan terjadi? Menurut pandangan penulis, di atas kertas, kekuatan militer India jauh lebih unggul dibandingkan dengan Pakistan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Dari segi jumlah, anggota militer India tiga kali lipat banyaknya dibanding Pakistan. Begitu juga dari segi kesenjataan, India berada di atas Pakistan. AL India merupakan yang terbesar di urutan keempat di dunia dengan ratusan kapal perangnya, jumlah yang tak dapat ditandingi oleh AL Pakistan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Memang, India tampaknya akan memilih opsi &lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;i&gt;limited war&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;daripada&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt; pertempuran &lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;i&gt;unlimited scale war&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;. Artinya, &lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;India&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt; akan menyerbu&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; daerah-daerah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt; yang dikuasai Pakistan dengan tujuan untuk menghancurkan markas-markas kelompok militan yang selama ini menyusup ke wilayah India. Namun, siapa dapat menjamin bahwa serangan India hanya sebatas menyeberang perbatasan dan siapa pula yang bisa mengatakan kalau Pakistan tidak membalas? Pernyataan militer Pakistan bahwa ia akan menghadapi setiap agresi musuh dengan seluruh kekuatan militer, telah mengisyaratkan ke mana arah perang yang sebenarnya. &lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Karena perang India-Pakistan ini jelas akan mengarah ke pertempuran bersenjata berskala luas.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Apakah ini mengindikasikan akan terjadinya perang nuklir antara kedua belah pihak? Senjata senjata dipastikan akan mengiringi perjalanan perang India-Pakistan. Dalam skenario yang paling realistis meskipun tentu saja mencemaskan, India akan melakukan serangan awal dengan menggerakkan pasukan infanterinya menyeberangi perbatasan dengan didukung oleh &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;air strikes&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; atau serangan udara. Pakistan membalas agresi India, bahkan akan membuka front di mana-mana dan mungkin juga balik menyerang masuk ke wilayah India.  Dari skala terbatas, perang terus merambat ke arah pertempuran &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;unlimited scale war&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;. Ketika perang benar-benar berubah status menjadi berskala tak terbatas, Pakistan sudah bisa ditebak tidak akan mampu menandingi kemampuan militer konvensional India. Di mana-mana pasukan Pakistan akan terdesak, seperti pada tiga perang sebelumnya, yaitu tahun 1947, 1965 dan 1971. Apa yang akan dilakukan Pakistan? Logika perang akan mengatakan, senjata nuklir adalah satu-satunya jalan untuk mempertahankan diri dari gempuran lawan. Militer Pakistan “kemungkinan besar” akan mengirim langsung senjata pemusnah massal itu ke sasaran yang telah ditentukan dan bisa juga dengan melancarkan serangan rudal berhulu ledak nuklir ke sejumlah kota besar di India.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0.56cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Skenario di atas &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;dengan segala asumsinya, kemungkinan hanyalah merupakan sebuah analisa yang bersifat futuristik semata, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk terjadi. Dalam pandangan ilmuwan sosial, tidak ada yang tidak mungkin. Kita hanya tinggal menunggu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0.56cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p style="background: rgb(255, 255, 255) none repeat scroll 0% 50%; text-indent: 1.27cm; margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="color:#000000;"&gt;   &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;     &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="center" lang="id-ID"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="center" lang="id-ID"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="center" lang="id-ID"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="center" lang="id-ID"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="center" lang="id-ID"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="center" lang="id-ID"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div id="sdfootnote1"&gt;  &lt;p class="sdfootnote" align="justify"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc"&gt;1&lt;/a&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;  Mahasiswa pada Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP  Universitas Airlangga angkatan 2006 / NIM. 070610302&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote2"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote2sym" href="#sdfootnote2anc"&gt;2&lt;/a&gt;  &lt;span lang="en-US"&gt;“ Pasukan India Serbu Dua Hotel: Puluhan Orang  Disandera di Hotel Trident/Oberoi&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;”&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;,  Harian KOMPAS, Jumat, 28 November 2008&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote3"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote3sym" href="#sdfootnote3anc"&gt;3&lt;/a&gt;   Michael Mandelbaum dalam &lt;i&gt;The Nuclear Revolution: International  Politics Before an After Hiroshima&lt;/i&gt; (Cambridge, 1981, pp. 1-21)&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote4"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote4sym" href="#sdfootnote4anc"&gt;4&lt;/a&gt;  &lt;span lang="id-ID"&gt;Hipotesa ini lebih merupakan sebuah persetujuan  atas torehan tinta sejarawan Skotlandia, Thomas Carlyle (1834)  dimana ia menulis “ &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Sejarah adalah  potongan kisah yang sarat kedustaan, manipulasi dan hanya peduli  pada kisah-kisah para pemenang&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;”,  dalam Eramuslim Edisi Koleksi I, 2007, pp. 80-81 dan senada dengan  itu silakan lihat pada Scott Petterson dalam &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;In  War Some Facts Less Factual&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;, The  Christian Science Monitor, edisi 6 September 2002&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote5"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote5sym" href="#sdfootnote5anc"&gt;5&lt;/a&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;  Michael Mandelbaum, &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;op cit, &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;pp.  45-49&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote6"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote6sym" href="#sdfootnote6anc"&gt;6&lt;/a&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;  Untuk lebih jelasnya pembahasan mengenai NPT  silahkan lihat di Dian  Wirengjurit  dalam &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Kawasan Damai dan  Bebas Senjata Nuklir&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;, (Bandung, 2002)  atau dalam  “&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;The Treaty on  Non-Proliferation on Nuclear Weapon&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;”,  &lt;/span&gt;&lt;span style="color:#0000ff;"&gt;&lt;u&gt;&lt;a href="http://www.npt.com/"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;www.npt.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;,  2000.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote7"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote7sym" href="#sdfootnote7anc"&gt;7&lt;/a&gt;  &lt;span lang="id-ID"&gt;Lihat Anak Agung Banyu Perwita (2007). “  Redefinisi Konsep Keamanan: Pandangan Realisme dan Neo-Realisme  dalam Hubungan Internasional Kontemporer. Dalam Yulius P. Hermawan  (ed.). dalam “Transformasi dalam Studi Hubungan Internasional:  Aktor, Isu dan Metodologi. Bandnung: Graha Ilmu&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote8"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote8sym" href="#sdfootnote8anc"&gt;8&lt;/a&gt;  &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Resolusi  Embargo Iran dan &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Self Delegitimation  &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;PBB”,  Harian Padang Ekspress, 26  April 2007&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote9"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote9sym" href="#sdfootnote9anc"&gt;9&lt;/a&gt;  &lt;span lang="en-US"&gt;Sebagaimana dipublikasikan oleh &lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;&lt;i&gt;Bulletin  of the Atomic Scientists&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;, edisi 2006&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote10"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote10sym" href="#sdfootnote10anc"&gt;10&lt;/a&gt;  Lihat &lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;Andrew Butfoy,  “&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;&lt;i&gt;The  Future of Nuclear Strategy&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;”,  di dalam Craigh A. Snyder, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;&lt;i&gt;Contemporary  Security and Strategy&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;,  (London, 1999).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote11"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote11sym" href="#sdfootnote11anc"&gt;11&lt;/a&gt;  ibid&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote12"&gt;  &lt;p class="sdfootnote" align="justify"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote12sym" href="#sdfootnote12anc"&gt;12&lt;/a&gt;  &lt;span lang="id-ID"&gt;Pembahasan mengenai globalisasi sendiri bisa  dilihat di Malcom Waters dalam &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Globalization&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;  (London, 1995, p. 36) atau Jan Aart Scholte dalam John Baylis and  Steve Smith, &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Globalization of World  Politics&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; (Oxford, 2001) dan Anthony  Giddens dalam &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Runaway World: How  Globalization is Reshaping Our Lives&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;  (London, 1999, pp. 12-13)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote13"&gt;  &lt;p class="sdfootnote" align="justify"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote13sym" href="#sdfootnote13anc"&gt;13&lt;/a&gt;  &lt;span lang="id-ID"&gt;Lihat Robert Keohane dalam &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Neo-Realism  and Its Critics&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; (New York, 1986, pp.  164-165)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote14"&gt;  &lt;p class="sdfootnote" align="justify"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote14sym" href="#sdfootnote14anc"&gt;14&lt;/a&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;  Konsepsi dalam agama Islam, salah satu agama samawi, yang dianggap  sebagai bentuk pengabdian tertinggi pada Tuhan. Lihat Fauzan  Al-Anshari di &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Terorisme dalam  Perspektif Barat dan Islam&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; dalam Abduh  Zulfikar Akaha (Eds), &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Terorisme dan  Konspirasi Anti-Islam &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;(Jakarta, 2002,  pp. 147-175) &lt;/span&gt;  &lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote15"&gt;  &lt;p class="sdfootnote" align="justify"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote15sym" href="#sdfootnote15anc"&gt;15&lt;/a&gt;  &lt;span lang="id-ID"&gt;“ &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Grand Strategy:  Theory and Practice&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;”,  &lt;/span&gt;&lt;span style="color:#0000ff;"&gt;&lt;u&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;www.csc_8802_lesn1_grand_strat.pdf.com&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;,  diakses tanggal 28 Desember 2008&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote16"&gt;  &lt;p class="sdfootnote" align="justify"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote16sym" href="#sdfootnote16anc"&gt;16&lt;/a&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;  Untuk mengetahui bagaimana kebiadaban Israel silakan lihat Ang Swee  Chai dalam &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;From Beirut to Jerusalem&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;  (Kualalumpur, 2002)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote17"&gt;  &lt;p class="sdfootnote" align="justify"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote17sym" href="#sdfootnote17anc"&gt;17&lt;/a&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;  Mengenai “serpihan sejarah” yang luput dari ekspos media besar  ini bisa dilihat di &lt;/span&gt;&lt;span style="color:#0000ff;"&gt;&lt;u&gt;&lt;a href="http://www.eramuslim.net/"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;www.eramuslim.net&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;  atau &lt;/span&gt;&lt;span style="color:#0000ff;"&gt;&lt;u&gt;&lt;a href="http://www.pakdenono.com/"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;www.pakdenono.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;,  dan &lt;/span&gt;&lt;span style="color:#0000ff;"&gt;&lt;u&gt;&lt;a href="http://www.aljazeerah.info/"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;www.aljazeerah.info&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;  &lt;/span&gt;  &lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote18"&gt;  &lt;p class="sdfootnote" align="justify"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote18sym" href="#sdfootnote18anc"&gt;18&lt;/a&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;  Kitab “suci” doktrin perang Yahudi Israel. Lihat Baudoin Loos,  “&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;An Interview of Illan Pappe&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;”,  http://msanews.mynet.net/Scholars/Loos/pappe.html&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote19"&gt;  &lt;p class="sdfootnote" align="justify"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote19sym" href="#sdfootnote19anc"&gt;19&lt;/a&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;  Lihat Mohtar Mas’oed dalam &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Studi  Hubungan Internasional: Tingkat Analisis dan Teorisasi&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;  (Yogyakarta, 1989, pp. 1-37)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote20"&gt;  &lt;p class="sdfootnote" align="justify"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote20sym" href="#sdfootnote20anc"&gt;20&lt;/a&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;  “ Israel Nuke: Kekuatan Gelap Nuklir Dunia”, Eramuslim Edisi  Koleksi I, 2007 (Indonesian Version)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote21"&gt;  &lt;p class="sdfootnote" align="justify"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote21sym" href="#sdfootnote21anc"&gt;21&lt;/a&gt;  &lt;span lang="id-ID"&gt;Mohtar Mas’oed, &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;op  cit, &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;p. 144&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote22"&gt;  &lt;p class="sdfootnote" align="justify"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote22sym" href="#sdfootnote22anc"&gt;22&lt;/a&gt;   Charles D. Ferguson&lt;span lang="id-ID"&gt; dalam &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Nuclear  Terrorism: Assessment and Prevention and Mitigation Strategies&lt;/i&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;,  &lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;Teaching Nonproliferation Summer Institute&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;University of North Carolina, Asheville&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;,  11 Juni 2004&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote23"&gt;  &lt;p class="sdfootnote" align="justify"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote23sym" href="#sdfootnote23anc"&gt;23&lt;/a&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;  Diolah dari berbagai sumber&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote24"&gt;  &lt;p class="sdfootnote" align="justify"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote24sym" href="#sdfootnote24anc"&gt;24&lt;/a&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;  Mengenai hal ini dapat dilihat bagaimana dari peristiwa “intifadha”  kelompok HAMAS, Palestina dari &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;first  wave &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;hingga sekarang telah mengalami  kemajuan signifikan. Atau kelompok Laskar e-Taiba dalam peristiwa  Tragedi Mumbai yang menggunakan teknologi canggih dalam melakukan  aksinya, harian KOMPAS, Sabtu, 6 Desember 2008&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote25"&gt;  &lt;p class="sdfootnote" align="justify"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote25sym" href="#sdfootnote25anc"&gt;25&lt;/a&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;  Menurut pandangan penulis hal ini identik dengan strategi memecah  belahnya Robert Greene dalam &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;The 33  Strategies of War&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; (Indonesian  Version), (Tangerang, 2007, pp. 343-364)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote26"&gt;  &lt;p class="sdfootnote" align="justify"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote26sym" href="#sdfootnote26anc"&gt;26&lt;/a&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;  “ Pasukan India Serbu Dua Hotel: Puluhan Orang Disandera di Hotel  Trident/Oberoi, Harian KOMPAS, Jumat, 28 November 2008 &lt;/span&gt;  &lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote27"&gt;  &lt;p class="sdfootnote" align="justify"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote27sym" href="#sdfootnote27anc"&gt;27&lt;/a&gt;  &lt;span lang="en-US"&gt;“Hotel Taj Mahal Genting: Operasi Penyelamatan  Sandera Semakin Rumit”, Harian KOMPAS, Sabtu, 29 November 2008 &lt;/span&gt;  &lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote28"&gt;  &lt;p class="sdfootnote" align="justify"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote28sym" href="#sdfootnote28anc"&gt;28&lt;/a&gt;  &lt;span lang="en-US"&gt;“ Komplikasi Kasus Mumbai”, Harian KOMPAS,  Selasa, 9 Desember 2008&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote29"&gt;  &lt;p class="sdfootnote" align="justify"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote29sym" href="#sdfootnote29anc"&gt;29&lt;/a&gt;  &lt;span lang="id-ID"&gt;“ Rakyat Kecam Pejabat India: Warga Malaysia  Juga disebut-sebut Terlibat dalam Serangan Mumbai“, harian KOMPAS,  Senin, 1 Desember 2008 dan “ Bukti Pakistan Terlibat: Intelijen  India Mengaku “Kecolongan” ”, harian KOMPAS, Sabtu, 6 Desember  2008&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote30"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote30sym" href="#sdfootnote30anc"&gt;30&lt;/a&gt;  &lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Bulletin of The Atomic Sciences&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;,  edisi 2006&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-6818050748583432371?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/6818050748583432371/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2009/01/menyoal-kemungkinan-terjadinya-nuclear.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/6818050748583432371'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/6818050748583432371'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2009/01/menyoal-kemungkinan-terjadinya-nuclear.html' title=''/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-8033301231286909347</id><published>2009-01-09T06:37:00.000-08:00</published><updated>2009-01-09T06:45:17.794-08:00</updated><title type='text'>Filsafat Militer: Menyoal Kesalahpahaman Barat Atas Konsep Strategi Sun Tzu</title><content type='html'>&lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;" align="center"&gt;&lt;b&gt;Filsafat Militer: Menyoal Kesalahpahaman Barat Atas Konsep Strategi Sun Tzu&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Abu Yasid Al-&lt;/span&gt;Busthomi Ibnu Syamsul Arifin&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;sup&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote1anc" href="#sdfootnote1sym"&gt;&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Abstracts &lt;/b&gt;&lt;/i&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;Sun Tzu was the prominent thinker in classical-strategic studies. It had inspired many outstanding people in world history to apply his concept in strategy. Hence, the using of word “war”&lt;/i&gt; &lt;i&gt;in many translation of Sun Tzu Art of War had made misinterpretation towards Sun Tzu’s. There are many experts who claimed that Sun Tzu was one of war advisor. This article  try to analyze Western interpretation,&lt;/i&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt; such as &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt; Carl von Clausewitz, of Sun Tzu’s and the impacts into strategic studies.&lt;/i&gt;   &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Keywords&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;: Sun &lt;span lang="id-ID"&gt;Tzu&lt;/span&gt;, &lt;i&gt;Art of War&lt;/i&gt;, Barat (&lt;span lang="id-ID"&gt;ex: &lt;/span&gt;Carl von Clausewitz) dan strategi&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Sun Tzu’s Strategy&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;: Selayang Pandang&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;i&gt;Sun Zi Art of War &lt;/i&gt;atau &lt;i&gt;Sun Zi Bingfa&lt;/i&gt;&lt;sup&gt;&lt;i&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote2anc" href="#sdfootnote2sym"&gt;&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/sup&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;dalam bahasa Mandarin, merupakan karya tulis China yang paling popular dan dihormati di luar China. Buku yang diperkirakan ditulis sekitar tahun 400-320 SM ini telah mempengaruhi seorang samurai terkenal Jepang, Miyamoto Musashi, yang mengarang buku tentang militer terkenal &lt;i&gt;Book of Five Rings&lt;/i&gt;, terjemahan ke dalam bahasa Inggris pertama dilakukan tahun 1905 oleh kapten Inggris, Captain E.F. Calthrop&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote3anc" href="#sdfootnote3sym"&gt;&lt;sup&gt;3&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;. Pengaruh seni perang Sun Tzu dalam gagasan militer dan pemikiran politik memang tidak diragukan lagi. Setiap akademi militer di dunia pasti memiliki karya monumental ini di perpustakaannya. Mao Ze-Dong, pemimpin komunis China dianggap sebagi pengikut “taqlid” pemikirannya. Strategi militer yang digunakan oleh Jenderal Norman Schwarzkopf dalam Perang Teluk dan Jenderal Tommy Franks banyak mengambil konsep strategi Sun Tzu. Buku ini sendiri terdiri dari 13 &lt;i&gt;chapter&lt;/i&gt;&lt;sup&gt;&lt;i&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote4anc" href="#sdfootnote4sym"&gt;&lt;sup&gt;4&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/sup&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;atau 13 bab&lt;i&gt; &lt;/i&gt;yakni:  &lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;&lt;i&gt;Chapter  1. Estimates &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;(Kalkulasi)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;&lt;i&gt;Chapter  2. Waging War&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;(Perencanaan  Perang)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;&lt;i&gt;Chapter  3. Offensive Strategy&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt; (Serangan  Strategis)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;&lt;i&gt;Chapter  4. Dispositions&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt; (Kekuatan Pertahanan)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;&lt;i&gt;Chapter  5. Posture of Army&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt; (Formasi Pasukan)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;&lt;i&gt;Chapter  6. Void and Actuality&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt; ( Kekuatan dan  Kelemahan)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;&lt;i&gt;Chapter  7. Manoeuvring&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;(Manuver)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;&lt;i&gt;Chapter  8. the Nine Variables&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt; (Sembilan  Variasi)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.42cm; margin-bottom: 0.35cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;  &lt;span lang="en-GB"&gt;&lt;i&gt;Chapter 9. On the March&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;&lt;i&gt;  &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;(Mobilitas)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;&lt;i&gt;Chapter  10. Terrain&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;(Medan)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;&lt;i&gt;Chapter  11. the Nine Varieties of Ground&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;  (Sembilan Medan Pertempuran)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;&lt;i&gt;Chapter  12. Attack by Fire&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;(Menyerang  dengan Api)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;&lt;i&gt;Chapter  13. Use of Spies &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;(Intelijen)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="margin-left: 0.64cm; text-indent: 0.64cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Dari berbagai usaha penterjemahan terhadap buku ini, kebanyakan mengarah pada satu kesimpulan umum dimana Sun Tzu merupakan tokoh penganjur perang. Jika demikian, berarti permasalahannya terletak pada apa sebenarnya yang dimaksud strategi oleh Sun Tzu sendiri sehingga didapat konklusi, ia begitu lekat dengan perang atau justru dianggap sebagai pemikir yang suka perang.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;b&gt;What is Sun Tzu Strategy?&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;Sun Tzu memulai karya tulisnya dengan mengambil suatu pendekatan yang komprehensif  terhadap perang. Baginya politik dan perang tak terpisahkan, dan harus dikelola bersama dengan yang satu tergantung pada yang lain. Secara garis besar karya Sun Tzu ini memang menunjukkan adanya pola simbiosis antara kepemimpinan politik dan militer dimana ia berpendapat bahwa perang memberikan dampak tidak hanya pada pasukan di medan laga tetapi juga sumber kehidupan rakyat dan survivalitas suatu negara. Ini dapat dilihat dari pernyataan Sun Tzu “&lt;i&gt;  &lt;/i&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;&lt;i&gt;War is a matter of vital importance to the state; a matter of life or death; the road either to survival or to ruin. Hence, it is imperative that it be studied thoroughly&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;”&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote5anc" href="#sdfootnote5sym"&gt;&lt;sup&gt;5&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;. Dengan kata lain perang harus bisa dihindari sebisa mungkin. Artinya perang harus menjadi suatu tindakan terakhir yang hanya digunakan setelah semua alternati&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;f&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt; lain tidak ada lagi. Hal ini dapat dibuktikan oleh empat tahap strategi yang ia kemukakan dalam 3 tentang Serangan Strategis&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote6anc" href="#sdfootnote6sym"&gt;&lt;sup&gt;6&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt; yakni:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Menang  melalui penyusunan strategi (&lt;span lang="en-GB"&gt;&lt;i&gt;to upset the  enemy’s strategic plans&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Mengacaukan  berbagai persekutuan strategis musuh dengan diplomasi (&lt;span lang="en-GB"&gt;&lt;i&gt;to  disrupt his alliance by diplomacy&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Menyerang  musuh secara langsung (&lt;span lang="en-GB"&gt;&lt;i&gt;to attack his army&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Menyerang  secara totalitas kota-kota berbenteng (&lt;span lang="en-GB"&gt;&lt;i&gt;to  attack cities&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;)&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="text-indent: 0.64cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Terkait empat tahapan strategi tersebut, Sun Tzu juga memberikan tiga prinsip dasar yang kemudian dapat membedakan ahli perang dengan orang-orang yang hanya sekedar maju untuk berperang, &lt;i&gt;pertama, &lt;/i&gt;&lt;b&gt;menaklukkan musuh tanpa harus bertempur, &lt;/b&gt;&lt;i&gt;kedua, &lt;/i&gt;&lt;b&gt;menawan kota-kota tanpa harus menyerangnya, &lt;/b&gt;&lt;i&gt;ketiga, &lt;/i&gt;&lt;b&gt;menaklukkan negara-negara tanpa membutuhkan waktu lama &lt;/b&gt;atau dengan kata lain mengejar kemenangan dalam waktu singkat. Secara gamblang, menurut penulis dapat dikatakan bahwa strategi menurut Sun Tzu lebih bersifat filosofis yakni &lt;i&gt;how to win war without battle and in a short time. &lt;/i&gt;Artinya strategi Sun Tzu lebih bersifat ontologis daripada metodologis, suatu ciri yang khas Timur dan kontras dengan pemikiran Barat.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="de-DE"&gt;&lt;b&gt;Filsafat Militer ataukah Ilmu Militer?&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="de-DE"&gt; Membaca lebih cermat karya Sun Tzu akan membuktikan bahwa buku tersebut adalah mengenai filsafat militer bukan sebuah buku mengenai ilmu militer yang berarti karya tersebut  bukanlah karya penganjur peperangan meskipun di dalamnya terdapat satu bab mengenai perang.  Di sini dapat kita lihat bahwa karya Sun Tzu memiliki perbedaan cukup signifikan dengan para penulis militer Barat, sebagai contoh Carl von Clausewitz yang cenderung menganggap itu sebagai suatu ilmu militer. Sebaliknya Sun Tzu lebih berfokus pada seni militer. Konsep strategi menurut Sun Tzu lebih mengutamakan bagaimana memenangkan aspek psikologis&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote7anc" href="#sdfootnote7sym"&gt;&lt;sup&gt;7&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span lang="de-DE"&gt; musuh melalui pendekatan yang komprehensif dalam dunia militer sehingga ia memiliki pandangan dalam dunia militer yang cukup khas yakni perang adalah kepanjangan pengaruh militer dan politik seharusnya menjadi penggerak dalam berbagai isu militer yang ada dan perang bukanlah suatu tujuan itu sendiri&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote8anc" href="#sdfootnote8sym"&gt;&lt;sup&gt;8&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span lang="de-DE"&gt;. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span lang="de-DE"&gt;Sayangnya, penggunaan kata “perang” dalam berbagai terjemahan Bahasa Inggris&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote9anc" href="#sdfootnote9sym"&gt;&lt;sup&gt;9&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span lang="de-DE"&gt;  telah menciptakan kesalahpahaman dan penilaian yang kurang tepat oleh beberapa ahli mengenai &lt;/span&gt;&lt;span lang="de-DE"&gt;&lt;i&gt;value &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="de-DE"&gt;dari karya Sun Tzu ini dalam mempengaruhi studi strategis zaman sekarang yang mana lebih dikatakan bahwa karya Sun Tzu militeristik. Suatu penilaian yang terburu-buru sehingga keliru. Sebagai contoh, Sun Tzu mengajarkan bahwa seseorang suatu negara akan menang melalui pengaturan strategi bukan penggunaan pasukan. Bahkan di dalam pertempuran, ia mengajarkan bahwa yang dikatakan ahli pertempuran adalah orang yang dapat memenangkan pertemputan tanpa menggunakan tentara sama sekali yakni tanpa menghancurkan musuh. Dari sudut pandang ini, Sun Tzu sangat berbeda dengan para pemikir militer Barat semisal Clausewitz yang merupakan pendukung penggunaan pasukan untuk menghancurkan lebih cepat, bahkan sebelum mempelajari berbagai alternati&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;f&lt;/span&gt;&lt;span lang="de-DE"&gt; lain seperti perundingan. Dalam karyanya yang paling terkenal, &lt;/span&gt;&lt;span lang="de-DE"&gt;&lt;i&gt;On War&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="de-DE"&gt;, yang diterbitkan tahun 1832, perang lebih didekati dari sudut pandang ilmu militer dan logika Barat yang unik dan &lt;/span&gt;&lt;span lang="de-DE"&gt;&lt;i&gt;distinctive. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span lang="de-DE"&gt;Jadi dapat disimpulkan bahwa Sun Tzu menciptakan sebuah jalur yang menjelaskan filsafat militer bukan perilaku perang atau ilmu militer. Dengan demikian, konsep-konsepnya sangat tepat bila diterapkan langsung pada konteks selain  militer seperti bisnis dan manajemen yang kini tengah diminati. Dengan pemahaman yang benar maka studi strategi tidak hanya didominasi oleh ranah militer (meskipun kita tak dapat memungkiri hal ini) melainkan aspek lainnya sehingga mendukung adanya proses transformasi studi strategi dari filsafat militer, ilmu militer ke ranah yang lebih luas lagi cakupannya. &lt;/span&gt;&lt;span lang="de-DE"&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="de-DE"&gt; &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;div id="sdfootnote1"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc"&gt;1&lt;/a&gt;  Penulis adalah mahasiswa Departemen Ilmu Hubungan Internasional  FISIP Universitas Airlangga angkatan &lt;span lang="id-ID"&gt; &lt;/span&gt;tahun  2006&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote2"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote2sym" href="#sdfootnote2anc"&gt;2&lt;/a&gt;  Karya Sun Zi  ini menurut ahli dari China sebenarnya ditulis dalam  bahasa China klasik atau &lt;i&gt;wen yan wen&lt;/i&gt;. Lihat Chow- Hou Wee  dalam &lt;i&gt;Sun Zi Art of War&lt;/i&gt;, p. ix (Penerbit PT Bhuana Ilmu  Populer, 2003)&lt;i&gt; &lt;/i&gt;  &lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote3"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote3sym" href="#sdfootnote3anc"&gt;3&lt;/a&gt;  Ibid, xxi&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote4"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote4sym" href="#sdfootnote4anc"&gt;4&lt;/a&gt;  Lihat  Richards, Chester W. 2003. &lt;i&gt;A Swift, Elusive Sword : What&lt;/i&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;  &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt; If &lt;/i&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;Sun Tzu  and John Boyd Did A National Defense Review?&lt;/i&gt;; Ralph D. Sawyer,   &lt;i&gt;Sun Tzu: The Art of War&lt;/i&gt; (Colorado, Westview Press, Inc.,  1994)&lt;i&gt; &lt;/i&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote5"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote5sym" href="#sdfootnote5anc"&gt;5&lt;/a&gt;  Lihat  Ralph D. Sawyer,  &lt;i&gt;Sun Tzu: The Art of War&lt;/i&gt; (Colorado,  Westview Press, Inc., 1994)&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote6"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote6sym" href="#sdfootnote6anc"&gt;6&lt;/a&gt;  Lihat Chow- Hou Wee dalam &lt;i&gt;Sun Zi Art of War&lt;/i&gt;, pp. 102-105  (Penerbit PT Bhuana Ilmu Populer, 2003)&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote7"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote7sym" href="#sdfootnote7anc"&gt;7&lt;/a&gt;  Banyak yang mengatakan bahwa kekalahan Amerika Serikat dalam Perang  Vietnam karena hal ini.&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote8"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote8sym" href="#sdfootnote8anc"&gt;8&lt;/a&gt;  Pandangan  ini juga dianut oleh Carl von Clausewitz. Untuk lebih  jelasnya lihat Carl von Clausewitz &lt;span lang="id-ID"&gt;dalam  &lt;/span&gt;&lt;i&gt;On  War&lt;/i&gt; by Charles Keller and David Widger, &lt;span style="color:#0000ff;"&gt;&lt;u&gt;&lt;a href="http://www.gutenberg.org/"&gt;www.gutenberg.org&lt;/a&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;,  didownload  pada 24 Oktober 2008&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id="sdfootnote9"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote9sym" href="#sdfootnote9anc"&gt;9&lt;/a&gt;  Misalnya E. F. Calthrop dalam  &lt;i&gt;The Book of War &lt;/i&gt;(1908); Samuel  B. Griffith dalam &lt;i&gt;Sun Tzu: The Art of War &lt;/i&gt;(1963); Ralph D.  Sawyer dalam &lt;i&gt;Sun Tzu: The Art of War &lt;/i&gt;(1994).&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-8033301231286909347?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/8033301231286909347/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2009/01/filsafat-militer-menyoal-kesalahpahaman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/8033301231286909347'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/8033301231286909347'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2009/01/filsafat-militer-menyoal-kesalahpahaman.html' title='Filsafat Militer: Menyoal Kesalahpahaman Barat Atas Konsep Strategi Sun Tzu'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-7971347612169948868</id><published>2008-10-17T03:06:00.000-07:00</published><updated>2008-10-29T21:48:07.999-07:00</updated><title type='text'>Menuju Kebangkitan Pan Islamisme Melalui Regionalisme Berbasis Ideologi : Mungkinkah?</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Menuju Kebangkitan Pan Islamisme Melalui Regionalisme Berbasis Ideologi :&lt;br /&gt;Mungkinkah?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt;Abu Yasid Al-Busthomi Ibnu Syamsul Arifin&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;strong&gt;Abstracts&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;        Makalah ini mencoba melihat kemungkinan integrasi regional dunia Islam dari aspek kedekatan basis ideologinya. Hal ini tentunya membawa kita pada perdebatan apakah integrasi regional di dunia Islam bisa terwujud dan bisa survive lantaran kesamaan basis ideologi? Perdebatan berikutnya adalah apakah motivasi politik ataukah motivasi ekonomi pragmatis sebagai landasan integrasi regional yang lebih meyakinkan? Perdebatan ini tentunya terkait sejarah terbentuknya Uni Eropa yang lebih memfokuskan aspek motivasi ekonomi sehingga menjadi titik tekan pembahasan apakah integrasi dunia Islam harus mengikuti jejak pendahulunya tersebut.&lt;br /&gt;      Dalam tulisan ini penulis menggunakan pendekatan yang sama sebagaimana Andrew Hurrell dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Regionalism in Theoretical Perspective&lt;/span&gt; dalam melihat gejala regionalisme dunia Islam guna menyongsong kembali kejayaan Pan Islamisme.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;&lt;strong&gt;Keywords&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt;: Islam, Pan Islamisme, regionalisme dan Andrew Hurrell&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Pan Islamisme  Klasik: Sweet Memory yang Membangkitkan Awareness&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;            Dalam periode pertumbuhan, kaum Muslim pernah mengalami masa kejayaan. Hal itu terjadi saat kaum Muslimin menjadikan Islam sebagai basis ideologi untuk menciptakan integrasi yang terangkum dalam Daulah Khilafah Islamiyah. Sejak permulaan munculnya 14 abad yang lalu, Islam melalui pembawa risalahnya Muhammad ibnu Abdullah  telah membuktikan pada dunia bahwa ideologi ini berbeda dengan ideologi lainnya. Proses integrasi menuju Pan Islamisme tetapi memberikan domino effects terhadap seluruh aspek kerja sama yang diidamkan oleh dunia modern saat ini yakni aspek pendidikan, sosial budaya, kesehatan, sains dan teknologi hingga faktor pemersatu paling penting, ekonomi. Kelebihan ini diakui oleh H.A.R. Gibb (dalam Imam Munawwir, 2006: 17) yang mengatakan “ Islam is indeed much more than a system of theology, it is a complete civilization”.&lt;br /&gt;            Berangkat dari suatu kawasan yang tidak pernah diperhitungkan dalam percaturan politik global saat itu, Muhammad ibnu Abdullah yang dilanjutkan para sahabat, tabi’in  dan tabi’it tabi’in  telah menjadikan kawasan jazirah Arab sebagai salah satu kekuatan super power. Sebuah bukti akan kesuksesan konsep integrasi menuju struktur global yang diimpikan manusia modern saat ini sehingga tidak salah apabila Robert N. Bellah (1991: 150- 151) mengatakan:&lt;br /&gt;“ When the structure that took shape under the prophet was extended by the early caliphs to provide the organizing principle for a world empire, the result is something that for its time and place is remarkably modern. It is modern in the high degree of commitment, involvement, and participation expected from the rank- and- file members of the community. It is modern in the openness of its leadership positions to ability judged on universalistic grounds and symbolized in the attempt to institutionalize a nonhereditary top leadership”.&lt;br /&gt;             Jika regionalisme modern yang banyak kalangan lebih menekankan pada faktor ekonomi sebagai alat pemersatu utama kerja sama antara entitas politik yang ada, maka Pan Islamisme klasik telah membuktikannya dimana sektor ekonomi menjadi perhatian utama khalifah  saat itu. Terbukti dengan pembentukan Baitul Maal  atau kas negara sejak pemerintahan khalifah Umar ibnu Khattab . Umar pulalah yang meletakkan dasar-dasar praktek penyelenggaraan negara modern pertama dan ini diakui oleh kalangan Barat jadi bukannya apologetik. Integrasi Pan Islamisme ini meliputi Asia, Afrika dan Eropa dan jauh melebihi kekuasaan kekuatan manapun di dunia yang pernah berkuasa. Dalam menggambarkan hal ini L. Stoddard mengatakan bahwa kekuasaan Islam saat itu terbentang “ from The Pyrenes to the Himalayas and the deserts of Central Asia to the deserts of Central Africa”. Kekuasaan Pan Islamisme ini dilanjutkan oleh Daulah Islamiyah Turki Utsmani hingga keruntuhannya 23 Maret 1923 dengan berdirinya Republik sekuler Turki di bawah pimpinan Musthafa Kemal At-Taturk.&lt;br /&gt;           Keruntuhan Pan Islamisme lebih dikarenakan pengaruh Barat dengan terutama konsep nasionalismenya sehingga Islam sebagai sebuah ideologi tidak lagi dianggap solutif dalam menggapai kesejahteraan manusia modern. Banyak kaum muslim yang condong ke Barat mulai dari ideologi hidup, sistem negara, konsep politik, ekonomi serta sains dan teknologi. Dimulailah kolonialisme Barat atas dunia Islam. Kondisi yang memprihatinkan ini memunculkan gerakan revivalisme Islam.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Revivalisme Islam: Bukti Ideologi Islam Tak Pernah Pudar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;             Sejak akhir abad ke- 18 dunia Islam mengalami kemunduran yang tak pernah diperkirakan sebelumnya. Pemerintahan Islam dengan konsepnya yang terbaik kini telah berganti dengan sistem pemerintahan yang despotis. Anarki dan pembunuhan demi perebutan kekuasaan terjadi di mana- mana. Satu demi satu daerah yang tergabung ke dalam Pan Islamisme melepaskan diri dan mendirikan negara dengan memakai konsep Barat. Dunia Islam telah kehilangan “ruh”nya yakni ideologi sebagai worldview.&lt;br /&gt;              Di saat demikian muncullah gerakan revivalisme Islam yang dipelopori oleh Muhammad bin Abdul Wahab  dengan gerakan Wahabinya. Tujuan gerakan Wahabi adalah pemurnian atas ideologi Islam yang telah banyak berubah dan disesuaikan dengan bentuk Islam di masa Muhammad Saw. Untuk masifnya gerakan Wahabi maka Muhammad bin Abdul Wahab mendirikan sekolah untuk mencetak kader- kader. Dan salah satu kadernya yang kelak memiliki pengaruh cukup dominan di dunia Islam adalah Su’ud yang kemudian dapat merebut tanah Nejed dan Hejaz dan kemudian mendirikan negara Saudi Arabia. Kalau Wahabiah lebih mewakili Jazirah Arab maka di Aljazair, Afrika muncul seorang revivalis Muhammad bin Ali As- Sanusi Al- Idrisi  pendiri tarekat  Sanusiyah yang kemudian terjun ke dalam masyarakat untuk memimpin perjuangan gerakan kembali kepada kemurnian Islam tetapi lebih menekankan pada cara- cara persuasif dan damai. Kalau umat Hindu India memiliki Mahatma Gandhi maka dunia Islam memiliki Muhammad As-Sanusi. Menyusul kemudian munculnya gerakan yang dipimpin oleh Muhammad Abduh yang menitikberatkan aspek pendidikan dan menghasilkan para pembaharu Islam yang lain seperti Muhammad Rasid Ridha.&lt;br /&gt;              Gerakan revivalisme Islam yang paling berpengaruh dan fenomenal adalah Jamaluddin Al-Afghani  dengan konsep Pan Islamisme dan Hasan Al-Banna dengan Jama’ah Ikhwanul Musliminnya (JIM) . Tujuan pertama dari Pan Islamisme Jamaluddin Al-  Afghani (dalam Imam Munawwir, 2006: 24) adalah untuk mempersatukan negara- negara Islam ke dalam satu federasi, yang mampu menghalau campur tangan Eropa dan mewujudkan kembali kejayaan Islam. Sedangkan tujuan utama Jama’ah ikhwanul Muslimin adalah membangun pribadi Muslim, kemudian menuntut setiap Muslim agar membina keluarga Muslim dan pada akhirnya akan membentuk masyarakat Muslim dan negara Islam yang kemudian akan bersatu. Ikhwanul Muslimin merupakan gerakan yang bergerak di ranah sosial dan ekonomi. Dengan sistem halaqoh atau liqo’  yang masif, maka gerakan ini telah memberikan dampak luar biasa bagi gerakan revivalisme Islam.&lt;br /&gt;             Konsep Pan Islamisme Al- Afghani ini dan Jama’atul Ikhwanul Muslimin Al- Banna ini mampu memberikan dampak luar biasa bagi dunia Islam. Pendirian Organisasi Konferensi Islam (OKI) setidaknya terpengaruh akan konsep dari tokoh pembaharu Islam tersebut, terutama Pan Islamisme Al-Afghani. Bahkan munculnya HAMAS  (Harakah Muqawwamah Al- Islamiyah) adalah hasil (secara tak langsung) dari gerakan Ikhwanul Musliminnya Hasan Al- Banna yang mengembangkan aspek geraknya dalam ranah politik praktis.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menilik Pengalaman Regionalisme Islam (Modern): Sebuah Pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;             Dalam konteks modern maka dunia Islam bukannya tidak memiliki pengalaman dalam upaya membentuk suatu integrasi yang bahkan lebih bersifat kesadaran baik yang sifatnya karena kedekatan geografis maupun karena memang berbasiskan ideologi Islam (meskipun hal ini sangat debatable). Hal ini tentunya karena setelah keruntuhannya, kaum muslimin banyak bersentuhan dengan dunia Barat sehingga setidaknya realitas tersebut memberikan dampak yang signifikan bagi perkembangan dunia Islam modern. Dalam tulisan ini penulis tidaklah menekankan bahwa suatu regionalisme haruslah dilandasi faktor kedekatan geografis semata. Karena apa yang disebut dengan  region dan regionalism telah menjadi perdebatan sejak akhir 1960-an dan awal 1970-an tapi telah dicapai “sedikit konsensus” yang setidaknya menurut Andrew Hurrell harus memenuhi kriteria: social cohesiveness, economic cohesiveness, political cohesiveness dan organizational cohesiveness  serta adanya saling ketergantungan atau interdependensi antara satu negara dengan negara lainnya. Sehingga disadari atau tidak region atau regionalisme merupakan konstruksi sosial bukannya suatu doktrin atau dogma yang tak bisa diperdebatkan.&lt;br /&gt;           Meskipun begitu karena regionalisme ini merupakan konsep Barat maka kita tidak dapat sepenuhnya melepaskan diri. Meskipun terlalu mencondongkan diri ke Barat juga bukanlah perbuatan arif. Untuk memulainya maka kita dapat melihat bagaimana usaha dunia (Arab) Islam membentuk Liga Arab.  Liga Arab merupakan sebuah organisasi yang terdiri dari negara- negara Arab dan didirikan pada 22 Maret 1945 oleh 7 negara yaitu Mesir, Irak, TransJordan yang pada tahun 1946 berubah menjadi Jordania, Lebanon, Arab Saudi, dan Suriah. Pendirian liga ini berdasarkan Pact of The League of Arab States yang kemudian dijadikan konstitusi. Berdasarkan piagamnya tersebut maka tujuan pendirian Liga Arab adalah untuk memajukan kerja sama politik antara negara anggota, menyelesaikan sengketa- sengketa antar negara Arab, menggalakkan dan mengawasi kerja sama antar negara Arab di bidang ekonomi, komunikasi, kebudayaan, sosial dan lainnya ( Kirdi Dipoyudo, 1981: 25).&lt;br /&gt;            Dalam perkembangannya, Liga Arab menjadi wadah penyusunan kerja sama yang mendukung integritas ekonomi di antara negara anggota. Terbutki dengan pembentukan Joint Arab Economic Action Charter atau Perjanjian Pelaksanaan Kerjasama Ekonomi Arab tapi belum berjalan sesuai dengan yang dicita- citakan dan memang terkesan hanya mumpuni di atas kertas. Mekanisme organisasi ini adalah pembentukan Dewan Liga yang terdiri atas 1 perwakilan dari negara anggota dan bersidang 2 kali dalam setahun tetapi dapat menyelenggarakan sidang luar biasa apabila mendapat permintaan setidaknya dari 2 negara anggota. Sekarang keanggotaan Liga Arab berjumlah 23 negara (termasuk Palestina) dan ia juga memiliki observer country yang berperan sebagai pemerhati terhadap semua kegiatan dan guna menjaga independensi Liga tetapi tidak memiliki hak suara maupun kewajiban sebagaimana anggota penuh Liga. Sekarang Liga Arab memiliki 3 observer country yakni Eritrea yang masuk tahun 2003, Venezuela tahun 2006 dan India tahun 2007.&lt;br /&gt;           Agresi terhadap satu negara anggota dianggap sebagai agresi terhadap seluruh negara Arab sehingga diperlukan tindakan kolektif untuk mengatasinya. Untuk mewujudkan hal itu dibentuklah Permanent Joint Defence Council dan Permanent Military Council pada tahun 1952 tetapi penggalangan kekuatan kolektif ini seringkali gagal dalam prakteknya seperti pada kasus Krisis Terusan Suez tahun 1956 dan kasus Palestina yang sampai sekarang berlarut- larut penyelesaiannya. Meskipun seringkali terjadi konflik internal seperti kasus dikeluarkannya Mesir saat Presiden Anwar Sadat menandatangani Perjanjian Damai Camp David  dengan pihak Israel atau keinginan beberapa negara anggota suntuk menjadi kekuatan dominan tetapi Liga Arab merupakan suatu kekuatan (Arab) Islam yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Hal ini karena negara Arab merupakan negara dengan kandungan cadangan minyak terbesar di dunia (meskipun faktor vital ini tak pernah dimainkan secara maksimal untuk kehidupan bersama dunia (Arab) Islam).&lt;br /&gt;           Selain Liga Arab sebagai wujud Pan Arabisme (terutama dari Gamal Abdul Nasser), muncul sebuah organisasi yang lebih merepresentasikan kesatuan dunia Islam yakni Organisasi Konferensi Islam (OKI). Organisasi ini kalau dilihat dari akar pemikiran terbentuknya maka pengaruh Jamaluddin Al-Afghani amat kentara. OKI didirikan pada 25 September 1969 dalam pertemuan pertama para pemimpin dunia Islam di Rabat (Maroko) sebagai respon terhadap aksi pengeboman Masjid Al-Aqsha oleh Yahudi Israel pada  22 Agustus 1969. Secara historis OKI didirikan untuk membela kasus Palestina tetapi secara umum organisasi in bertujuan untuk mewujudkan cita- cita seluruh negara Islam untuk terlaksananya pembangunan menyeluruh bagi kebangkitan dan kemajuan Islam. Dan yang paling penting adalah mewujudkan solidaritas dan integritas seluruh negara Islam dengan cara saling bahu membahu dalam mewujudkan kemitraan antar negara anggota.&lt;br /&gt;              Hambatan utama dalam penanaman modal asing di sebagian besar negara Islam adalah sistem dan peraturan yang rumit dan menyulitkan bagi berkembangnya sektor ini. Hal ini terkait faktor bahwa mayoritas negara Islam adalah merupakan developing countries .&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Integrasi Negara- negara Islam sebagai Regionalisme: Mungkinkah?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;        Membahas problematika regionalisme di negara- negara Islam maka kita dihadapkan pada pertanyaan, apakah  regionalisme ini tidak terbentur faktor geografis mengingat ia menjadi term umum dalam pembahasan regionalisme? Hal ini terkait pula dengan realitas negara- negara Islam tidak seluruhnya berada pada kedekatan geografis meskipun mayoritas (terutama di kawasan Timur Tengah) memiliki faktor tersebut. Tetapi dalam tulisan ini penulis berpendapat bahwa aspek kedekatan geografis bukanlah satu- satunya faktor  terbentuknya sebuah regionalisme. Karena regionalisme terbentuk oleh berbagai macam faktor yang saling berkelit kelindan satu sama lain. Sedikit “mendompleng” pada konsep umum regionalisme bahwa usaha untuk mencapai kemandirian dan meningkatkan derajat perekonomian menjadi lebih penting untuk dikedepankan. Di sini penulis melihat bahwa basis ideologi menjadi semacam support untuk menuju regionalisme sebagai stepping stone kebangkitan Pan Islamisme yang telah lama hanya menjadi kenangan belaka. Dan penekanan terhadap faktor ekonomi menjadikan terbentuknya regionalisme menjadi mungkin dan mampu untuk survival.&lt;br /&gt;                 Menurut Andrew Hurrell sebagaimana telah dibahas di atas bahwasanya konsep region dan tentunya regionalism masih menjadi term yang ambigu sehingga penggunaan kedua kata ini masih dapat diperdebatkan. Menurutnya untuk terbentuknya suatu regionalisme memang faktor geografis tidak dapat dihindarkan tetapi ia dapat dianalisa setidaknya dari aspek  social cohesiveness (aspek ini terkait etnis, bahasa, ras, budaya, heritage, sejarah dan sejenisnya), economic cohesiveness ( bentuk perdagangan dan tingkat interdependensi), political cohesiveness ( meliputi ideologi, rezim dan semacamnya) dan organizational cohesiveness ( dilihat pada eksistensi organisasi yang terbentuk sebagai wadah kerjasama) serta adanya saling ketergantungan atau interdependensi antara satu negara dengan negara lainnya. Hal yang tak kalah penting adalah regionalisme sebagai hasil konstruksi yang melewati ranah politik ataukah sesuatu yang natural terjadi relevansinya dengan negara terbentuk tak lebih untuk mengimplementasikan sifat manusia sebagai zoon politicon sehingga kental aroma sosiologisnya. Ataukah regionalisme merupakan suatu bentuk prakondisi tentang penerapan konsep masyarakat internasional yang menjadi concern penstudi hubungan internasional pasca Perang Dingin berakhir.&lt;br /&gt;             Melihat bahwa regionalisme sebagai suatu konsep masih debatable sehingga ia berkembang dan meluas (sekaligus memudahkan dalam menjawab hipotesis penulis mengenai regionalisme negara Islam untuk menyongsong bangkitnya Pan Islamisme) maka menurut Andrew Hurrel ada kategori- kategori dari regionalisme yang jika dianalisa akan sangat berbeda. Pemecahan ke dalam 5 kategori ini menurut penulis untuk lebih memudahkan analisis kita terkait aspek teori dengan tataran praksisnya. Pertama, regionalization. Regionalisasi adalah perkembangan integrasi sosial dalam sebuah region dan acapkali merupakan proses interaksi tak langsung antara ekonomi dan sosial. Para akademisi sering menyebutnya sebagai informal integration atau soft regionalism. Kondisi ini sebenarnya telah terbukti dengan adanya interaksi aspek sosial dan ekonomi antara daerah kekuasaan Pan Islamisme klasik seperti bagaimana kerjasama perdagangan para kabilah dagang bangsa Arab dan Persia, Jazirah Arab dengan Asia Tenggara khususnya Indonesia  sehingga kondisi ini mendukung untuk terciptanya regionalisme di era modern sekarang.&lt;br /&gt;            Kedua,  regional awareness and identity. Merupakan sekumpulan persepsi akan kepemilikan terhadap komunitas partikularistik dan biasanya menyandarkan pada faktor-faktor internal atau sering disebut sebagai common culture. Tapi bisa pula merupakan aksi bersama terhadap ancaman atau tantangan eksternal seperti regional Amerika Latin yang anti terhadap hegemon AS dan dalam konteks ini sangat mendukung terbentuknya regionalisme mengingat munculnya gerakan revivalisme Islam menuju kebangkitan kembali Pan Islamisme merupakan respon terhadap pengaruh dominan Barat di dunia Islam atau terbentuknya OKI merupakan respon dunia Islam terhadap Israel yang mencoba menghancurkan Masjid Suci Al- Aqsha dan pendudukan bangsa Yahudi tersebut atas tanah suci Palestina.&lt;br /&gt;             Ketiga, regional interstate co-operation, merupakan kesepakatan bersama yang berisikan negosiasi dan kerjasama antar negara untuk membentuk regim atau lembaga baru yang bersifat intergovernmental. Artinya ini merupakan faktor political will yang merupakan inisiatif dari pemerintah atau dengan kata lain negara mensponsori terbentuknya suatu organisasi regionalisme. Dan tentunya aspek ini diharapkan akan menjadi ajang untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi bersama (terutama masalah- masalah spesifik seperti isu Palestina dan kerjasama ekonomi yang selama ini hanya berjalan di atas kertas dan lebih bersifat bilateral daripada kolektif). Selama ini organisasi yang terbentuk baru sekedar ajang ”cangkruan” semata dan seringkali tidak menghasilkan keputusan- keputusan konkret.&lt;br /&gt;               Keempat, state- promoted regional integration. Yang mana lebih menitikberatkan pada kerjasama regional dalam aspek ekonomi. Di sini dibuat suatu aturan untuk membahas batas-batas antar negara guna memperlancar arus barang, jasa, modal dan mobilitas warganya. Aspek ini meliputi dimensi scope ( keluasan cakupan isu yang diperbincangkan), depth ( tingkat harmonisasi politik antar negara yang melakukan bekerjasama), institutionalization (eksistensi kesekretariatan organisasi formal yang dibentuk, misal sekretariat OKI di Kairo, Mesir sebagai salah satu core state di dunia Islam) dan terakhir centralization ( derajat otoritas yang efektif dalam organisasi dan aspek ini dalam dunia Islam terutama dalam tubuh OKI masih lemah).&lt;br /&gt;       Dan terakhir adalah regional cohesion. Yang diartikan sebagai adanya kemungkinan kombinasi dari keempat proses sebelumnya tersebut menjadi sebuah unit regional yang kohesif dan terkonsolidasikan. Kohesi inilah yang menjadi fokus para penstudi hubungan internasional. Dimana kohesi di sini dipahami dalam dua aspek, pertama saat region tersebut memainkan peranan yang telah diformulasikan bersama antara negara (terutama main actors) dalam kawasan atau di dunia global dan ketika region itu membentuk organisasi atau institusi yang merupakan basis kebijakan dalam kawasan dalam menanggapi isu-isu eksternal. Faktor ini menjadi tantangan terbesar yang harus segera dijawab negara- negara Islam untuk segera membenahi organisasi yang sudah terbentuk menjadi lebih merepresentasikan untuk terciptanya suatu integrasi dunia Islam menuju kebangkitan Pan Islamisme.&lt;br /&gt;            Selain melalui pendekatan kelima kategori di atas Andrew Hurrel juga menilai bahwa gejala regionalisme dapat pula dilihat melalui pendekatan systemic theories serta domestic-level theories. Jika pendekatan regionalisme dengan 5 kategori sebelumnya lebih bersifat Eropa-sentris maka kedua pendekatan ini menjadi semacam perimbangan pendekatan.&lt;br /&gt;Pendekatan systemic theories. Menurut Hurrell di era modern seperti sekarang tak ada satupun kawasan atupun kumpulan negara yang tak terpengaruh tekanan dunia eksternalnya. Pendekatan systemic theories mencoba melihat hal tersebut dimana terdapat beberapa teori yang dapat digunakan untuk menganalisa struktur yang ada. Pertama, neo-realism, menurut teori ini sistem internasional yang anarki dan kompetitif merupakan faktor dominan terbentuknya suatu regionalisme. Political power dan merkantilism menjadikan regionalisme sebagai tameng untuk bertahan di dalam sistem internasional yang anarkis dan penuh dengan disparitas kekuatan politik global. Sebagai contoh bahwa Amerika Latin membentuk regionalisme guna bertahan dari gempuran kekuatan politik dan ekonomi Amerika Serikat yang dominan. Hal ini berarti bahwa integrasi dunia Islam berbasis ideologi (dan tentunya kan merambah sektor yang lain) merupakan bentuk jawaban untuk bertahan dari serangan pengaruh Barat yang semakin menghancurkan sendi- sendi Islam. Kedua, muncul kekuatan hegemon kawasan yang dapat mengancam secara eksistensial. Keberadaan Israel yang dominan dan menduduki tanah suci ketiga umat Islam setidaknya menjadi jawaban untuk terbentuknya integrasi dunia Islam yang masif dan lebih cepat karena mereka kini sedang menghadapi musuh bersama. Apalagi kini seluruh sektor kehidupan internasional didominasi oleh paham Barat yang tentu kekutan dominan mereka dapat mengancam eksistensi Islam sebagai worldview. Ketiga, interdependency dan globalization. Yang merupakan bentuk kritik terhadap aliran neo-realisme yang hanya melihat kerjasama dunia dari kacamata anarki dan kompetisi semata. Menurut aliran ini globalisasi telah membuat dunia menjadi borderless dan timeless sehingga kerjasama antar negara di dunia menjadi masif dan menjadikan negara yang satu dengan lainnya sangat tergantung satu sama lain.&lt;br /&gt;              Pendekatan berikutnya, domestic- level theories. Menurut pendekatan ini, kebijakan politik domestik turut mempengaruhi terbentuknya suatu regionalisme. Logikanya bahwa stabilitas politik dalam negeri menjadi faktor penting untuk menjaga upaya integrasi tetap terjaga. Karena koherensi politik domestik yang rendah hampir mengganggu proses regionalisme yang ada. Pendekatan ini juga menekankan bahwa sistem negara yang demokratis lebih cenderung untuk berintegrasi dan bekerjasama. Sistem demokrasi dinilai lebih akomodatif dan representatif untuk suatu kerjasama yang langgeng. Ini tentu menjadi tantangan berat bagi dunia Islam dalam upaya menciptakan regionalisme yang sesungguhnya karena spektrum ideologi akibat pengaruh Barat dan rezim di masing- masing negara Islam sangat bervariasi. Tetapi menurut penulis hal ini bukannya menjadi mitos yang tak bisa terselesaikan.&lt;br /&gt;            Terpecahnya negara- negara Islam dan sarat konflik laten bahkan seringkali menjelma menjadi konflik manifes lebih dikarenakan mereka telah melupakan konsep syura  dalam Islam. Suatu konsep yang lebih representatif daripada demokrasi Barat. Inilah tantangan berat dunia Islam untuk kembali menjadikan ideologi Islam sebagai satu- satunya basis upaya menuju integrasi regional guna menyongsong bangkitnya pan Islamisme di masa mendatang . Dapat disimpulkan bahwa dunia Islam memiliki konsep yang pure dan bukan hasil adopsi apalagi saduran dari Barat sehingga cita-cita menggapai kembali kejayaan Pan Islamisme tergantung pada kesediaan mereka untuk memakai ”milik sendiri” ataukah justru tetap terpuruk dengan ”konsep pinjaman”. Jawabannya terletak di pundak dunia Islam sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-7971347612169948868?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/7971347612169948868/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2008/10/menuju-kebangkitan-pan-islamisme.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/7971347612169948868'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/7971347612169948868'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2008/10/menuju-kebangkitan-pan-islamisme.html' title='Menuju Kebangkitan Pan Islamisme Melalui Regionalisme Berbasis Ideologi : Mungkinkah?'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-7074716142790075137</id><published>2008-09-19T23:55:00.000-07:00</published><updated>2008-10-29T21:57:52.805-07:00</updated><title type='text'>Tourism Branding: Soul of Marketing A Nation</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;strong&gt;Tourism Branding: Soul of Marketing A Nation&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Yasid Al-Busthomi Ibnu Syamsul Arifin&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt;Abstracts&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div align="justify"&gt;    &lt;i&gt; Indonesia, actually, can be the most wanted tourism destination because of it’s high potencial tourism spots than another countries. But the facts tell different reality. The visiting of tourists- especially the foreign- decreases every year. We are left behind by our neighbours such as Singapura, Malaysia and Thailand. What are the weakness of  Indonesian tourism? Why those country who less potencial in tourism places can be the primary tourism destination? This is discussing about branding as a prominent factor to promote tourism which is used by Singapura, Malaysia and Thailand then can be major tourism destination and what should Indonesia do to improve its own.&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;   &lt;strong&gt;&lt;i&gt;Keywords&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;: Indonesia, pariwisata, tourism branding&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;       John Naisbit (Harian Kompas, 16/04/2003) mengatakan bahwa 204 juta penduduk dunia bekerja di bidang pariwisata atau sekitar 10,6% dari angkatan kerja dunia, 10,2% Gross National Product (GNP) dunia berasal dari sektor pariwisata sebagai industry terbesar di dunia dengan output sekitar US$ 3,4 triliun. Ia juga menambahkan konsumsi sektor pariwisata dunia sebesar 10,7% dari total konsumsi dunia dan dengan nilai yang sama berkonstribusi terhadap total investasi dunia. Jauh sebelum Naisbit menerbitkan buku Global Paradox tahun 1994 yang membahas turisme atau pariwisata, menurut Dr. Rhenald Kasali, salah satu pakar ekonomi Indonesia, Dewan Pariwisata dan Perjalanan Dunia atau The World Travel and Tourism Council pada tahun 1991 telah mengungkapkan bahwa pariwisata adalah industri penting dan terbesar di dunia (www.rantaunet.org, 25/01/2007). Hal itu berdampak positif karena banyak negara yang kemudian mereposisi industrinya dari brand-based economy menjadi experience economy.&lt;br /&gt;Data di atas menunjukkan bahwa sektor pariwisata memiliki signifikansi dalam perekonomian. Hal ini karena sektor ini memberikan multiplier effect pada industri yang bergerak dan menunjang sektor pariwisata. Pariwisata juga merupakan satu diantara berbagai cara untuk mendatangkan devisa bagi suatu negara. Melihat realitas ini tak salah apabila Indonesia sejak pemerintahan Soekarno memberikan perhatian khusus bagi sektor pariwisata nasional. Menurut Musanef (1996) hal itu terbukti, yang mana istilah pariwisata sendiri dipopulerkan oleh Presiden Soekarno pada Musyawarah Nasional Tourism kedua di Tretes, Jawa Timur pada 12-14 Juni 1958. Bahkan setelah The World Ttravel and Tourism Council pada 1991 merilis signifikansi pariwisata bagi perekonomian suatu negara, Presiden Soeharto mencanangkan Visit Indonesia Year 1991.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;strong&gt;Potensi Pariwisata Indonesia&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;     Indonesia adalah negara kepulauan &lt;i&gt;(archipelago&lt;/i&gt;) yang terletak di daerah sepanjang khatulistiwa. Terdiri atas 17.500 pulau dengan luas lautan mencapai 5,8 juta km persegi, kaya dengan produk wisata seperti pesona keindahan bawah laut dan alam, suku bangsa beragam dengan sekitar 500 bahasa daerah, memiliki 125.000 spesies flora dan fauna, juga 10.000 resor dan spa (Bisnis Indonesia Online, 01/09/2007). Ada Tanatoraja, candi Prambanan dan Borobudur, Yogyakarta dan Minangkabau sebagai daerah wisata budaya yang terkenal. Di Yogyakarta sendiri kita dapat menyaksikan bagaimana akulturasi antara Budha, Hindu dan Islam begitu unik membentuk sistem sosial budaya, sehingga mereka menyebut dirinya sebagai Never Ending Asia . Menyadari realitas menakjubkan ini tak salah apabila Raja Faishal memuji Indonesia sebagai heaven of the world, saat penguasa dari Saudi Arabia tersebut mengunjungi Indonesia. Bahkan pada tahun 2006 pulau Bali yang mendapat julukan Island of the God, ditetapkan sebagai pulau terbaik dunia untuk kelima kalinya versi majalah Travel and Leisure (Bisnis Indonesia Online, 31/07/2006).&lt;br /&gt;     Dari berbagai suku bangsa yang ada, beberapa di antaranya masih menjalani proses kehidupan nomaden, bahkan kehidupan masyarakat dengan pola hunting dan gathering pun masih dapat ditemui meski jumlahnya terbatas. Sebagai contoh pemandangan suku Anak Dalam di Jambi, suku Dayak Iban di Kalimantan, suku Asmat dan Dani di tanah Papua, dan suku Badui di Banten adalah realitas yang jarang terdapat di negara lain. Menurut saya, justru sistem kehidupan tradisional seperti itulah yang menjadi alasan kedatangan wisatawan asing ke Indonesia karena kehidupan modern yang ada seringkali membuat mereka jenuh. Kondisi sosial Indonesia yang majemuk dan berbeda tapi bisa menjaga keharmonisan yang terangkum dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika atau Unity in Diversity juga merupakan nilai jual tersendiri. Selama ini masyarakat kita dikenal ramah, sopan dan bersahabat dengan bangsa asing sehingga acapkali membuat rindu untuk kembali berkunjung. Senada dengan hal ini, Setyanto P. Santosa, mengatakan bahwa kekuatan pariwisata Indonesia terletak pada manusianya yang ramah, santun, murah senyum dan suka menolong tamunya (www.kolom.pacific.net.id, 22/02/2008).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Potret Kekinian Pariwisata Nasional&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;       Potensi pariwisata Indonesia yang begitu besar ternyata berbanding terbalik dengan realitas yang terjadi saat ini. Sejak peristiwa krisis moneter yang melanda pada tahun 1997 dan proses transisi politik nasional, sektor pariwisata kian terpinggirkan dan terpuruk. Memang selama satu dekade terakhir ini dunia pariwisata dilanda musibah berantai. Selain dua dia atas, isu SARS dan flu burung juga ikut memperburuk keadaan. Kondisi tidak menguntungkan itu, diperparah dengan peristiwa ledakan bom di Pulau Dewata Bali sebagai tulang punggung pariwisata nasional pada 12 Oktober 2002 dan 2005 silam serta sejumlah ledakan di daerah lain. Akibat berbagai peristiwa tersebut, jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia menurun dari tahun ke tahun. Sejak tahun 2000 hingga 2003 saja tren penurunan itu sangat terlihat dan tentunya berpengaruh pula terhadap pendapatan negara dari sektor pariwisata (lihat tabel di bawah ini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah Wisatawan Asing dan Revenue&lt;br /&gt;Indonesia, Malaysia, Thailand&lt;br /&gt;Indonesia Malaysia Thailand&lt;br /&gt;Wisatawan (Juta) Revenue (US$ Juta) Wisatawan (Juta) Revenue (RM Juta) Wisatawan (Juta) Revenue (Baht Juta)&lt;br /&gt;Jumlah Wisatawan&lt;br /&gt;      2000 5,06 5,743 10,22 17,335 9,51 285,272&lt;br /&gt;2001 5,15 5,422 12,78 24,221 10,06 299,047&lt;br /&gt;2002 5,03 4,500 13,29 25,781 10,80 323, 484&lt;br /&gt;2003 4,00 3,580 10,58 21,291 10,00 309,269&lt;br /&gt;Sumber: Harian KOMPAS edisi 23 Agustus 2004&lt;br /&gt;     Angka itu sempat mengalami kenaikan pada tahun 2004 tetapi tren penurunan kembali terjadi. Menurut data Biro Pusat Statistik pada tahun 2004 angka kunjungan wisatawan asing ke Indonesia 5,32 juta orang atau 10,85% dari total pengunjung ke ASEAN. Pada tahun 2005 menurun menjadi 5 juta saja dan berarti hanya memberikan andil 9,75% dari keseluruhan kunjungan wisatawan asing ke ASEAN (www.wisatanet.com, 03/11/2007 ). Penurunan ini sebenarnya terkait dengan travel warning dari beberapa negara seperti Amerika Serikat terhitung mulai 18 November 2005 (meliputi larangan mengunjungi Bali dan Jakarta) karena alasan terorisme. Dan menurut data Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia pada tahun 2006 hanya sekitar 4,8 juta orang atau menurun 2,6% dari tahun sebelumnya (Swa Majalah Online, 14/06/2007). Turunnya kunjungan wisatawan pada tahun 2006 juga lebih dikarenakan negara yang mengumumkan travel warning bertambah yakni Australia terhitung sejak 21 Agustus 2006 (larangan mengunjungi seluruh wilayah Indonesia) dengan alasan ancaman terorisme dan diikuti Inggris yang melarang warganya bepergian ke Ambon, Aceh dan Sulawesi Tengah karena alasan konflik regional di kawasan tersebut. Menurunnya kunjungan wisatawan asing inipun ditambah dengan larangan terbang bagi seluruh maskapai penerbangan Indonesia di wilayah Uni Eropa. Larangan itu terkait dengan tingginya angka kecelakaan pesawat terbang negara kita (www.wisatanet.com, 10/10/2007). Pada tahun 2007, angka itu mengalami kenaikan menjadi 5,513 juta wisatawan mancanegara, tetapi tidak cukup signifikan meskipun pada tahun ini pula pemerintah melalui Departemen Kebudayaan dan Pariwisata telah meluncurkan secara resmi Visit  Indonesia Year 2008: Ultimate in Diversity.&lt;br /&gt;        Untuk kategori major tourism destination, Indonesia termasuk tempat berlibur yang paling tidak diminati di Asia. Berdasarkan hasil survei Visa International Asia Pasific (VISA) dan Pasific Asia Travel Association (PATA) tentang pariwisata dunia tahun 2007,  menunjukkan Thailand kembali menjadi tujuan utama pada daftar berlibur para wisatawan dunia. Dari sekitar 2/3 responden yang pernah berkunjung ke Asia, 47% di antaranya menyatakan akan mengunjungi kembali Thailand, diikuti Jepang dan China. Negara ASEAN lain seperti Singapura, Malaysia dan Vietnam justru dapat menembus jajaran 10 besar dari hasil survei tersebut (Bisnis Indonesia Online, 30/05/2007).&lt;br /&gt;       Berbagai penelitian yang dilakukan oleh Forum Ekonomi Dunia atau World Economic Forum(WEF) juga menunjukkan bahwa kompetisi Indonesia di sektor pariwisata rendah. Global competitive index, business competitiveness index dan tourism and travel competitiveness index kita selalu kalah dengan negara kita: Singapura, Malaysia dan Thailand. Pada tahun 2007, WEF menempatkan Indonesia pada peringkat ke-60 dunia dalam penyusunan tourism and travel competitiveness index dan peringkat tersebut turun pada tahun 2008 menjadi ke-80 dari 130 negara yang diteliti. Posisi itu jauh di bawah Singaputa yang berhasil berada di peringkat ke-16, Malaysia di peringkat ke-32 atau Thailand yang menempati posisi 42. Indonesia bahkan berada pada posisi ke-108 untuk aspek regulasi di sektor pariwisata. Dan untuk kategori pelestarian lingkungan, kita berada pada posisi ke-126 dan dalam aspek cultural tourism, Indonesia hanya bisa menempati peringkat ke-80, padahal sektor ini merupakan andalan pariwisata nasional.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Pariwisata: Sebuah Tinjauan Konseptual&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;        Lundberg (dalam Hatane Semuel, 2007) mengatakan tourism atau kepariwisataan sebagai orang-orang yang melakukan perjalanan pergi dari rumahnya, dan perusahaan-perusahaan yang melayani dengan cara memperlancar atau mempermudah perjalanan mereka, atau membuatnya lebih menyenangkan.&lt;br /&gt;       World Tourism Organization (WTO) sebagai induk organisasi pariwisata dunia, mendefinisikan pariwisata sebagai “activities of person traveling to and staying in places outside their usual environment for not more than one consecutive year for leisure, business and other purposes”. Menurut Undang-Undang No. 9 tahun1990 pasal 1 mengungkapkan bahwa pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata, termasuk pengusahaan objek dan daya tarik wisata serta usaha-usaha yang terkait di bidang tersebut. Dengan demikian pariwisata meliputi:&lt;br /&gt;a. semua kegiatan yang berhubungan dengan perjalanan wisata&lt;br /&gt;b. pengusahaan objek dan daya tarik wisata seperti kawasan wisata, taman rekreasi,&lt;br /&gt;kawasan peninggalan sejarah (candi, makam), museum, waduk, pagelaran seni budaya,&lt;br /&gt;tata kehidupan masyarakat, dan yang bersifat alamiah seperti keindahan alam, gunung&lt;br /&gt;berapi, danau, pantai indah dan sebagainya&lt;br /&gt;c. pengusahaan jasa dan sarana pariwisata yaitu usaha jasa pariwisata, usaha sarana&lt;br /&gt;pariwisata (akomodasi, rumah makan, bar, angkutan wisata, kerajinan daerah), dan&lt;br /&gt;usaha-usaha yang berkaitan dengan penyelenggaraan pariwisata&lt;br /&gt;     Dari berbagai definisi yang ada, dapat disimpulkan bahwa dunia pariwisata merupakan sektor yang begitu kompleks yang meliputi berbagai industri dan hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Dapat dikatakan pula bahwa sektor pariwisata memiliki arti yang sangat strategis dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebuah negara karena sektor ini menjadi andalan suatu negara untuk menghasilkan devisa. Pariwisata disebut industri lebih dikarenakan dari aspek ekonomi, ia telah menciptakan pasar bagi produk dan jasa pelayanan yang dihasilkan oleh pihak-pihak terkait seperti di bidang perhotelan atau kerajinan. Layaknya sebuah industri yang menghasilkan produk-produk tentunya pariwisata membutuhkan pemasaran dan branding memainkan signifikansinya dalam hal ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;strong&gt;Tourism Branding: Soul  of  Marketing A Nation&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;      Sektor pariwisata Indonesia memang lebih potensial daripada Singapura, Malaysia dan Thailand tetapi realitas menunjukkan ketiga negara tetangga itu lebih dipilih oleh para wisatawan mancanegara sebagai daerah tujuan wisata. Dari segi potensi pariwisata Indonesia jelas lebih. Lalu mengapa mereka bisa leading? Ternyata ketiga negara tersebut menjalankan tourism branding sebagai sarana utama mempromosikan dunia pariwisata mereka. Apakah sebenarnya branding? Mengapa banyak negara melakukan branding untuk menjual sektor pariwisata mereka?&lt;br /&gt;Hunter Johnstone Marketing Solutions mendefinisikan brand atau branding sebagai:&lt;br /&gt;“ …the total response of a customer- past, present or future- to the symbol or name that states who you are or what you offer and that differentiates you from your competitors” (2004: 18).&lt;br /&gt;Sedangkan menurut Arief Budiman, Ketua Perhimpunan Perusahaan Periklanan Indonesia Cabang Bali, brand diibaratkan sebagai ”awareness campaign” yang diwujudkan dalam bentuk logo atau simbol untuk memvisualkan gagasan dan cita-cita menjadi sebuah ikon yang mampu mengimajinasikan atau menggambarkan gagasan dan cita-cita tersebut (http://ayipbali.com, 25/06/2007). Tujuan membuat branding adalah untuk menempatkan suatu negara pada posisi terbaik dalam sistem global dengan menunjukkan segala kekuatan dan kelemahan yang dimiliki. Every nation is a brand- meminjam istilah Thomas Cromwell-, sehingga mayoritas masyarakat dunia mengenal suatu negara dengan brand tersebut. Dapat dikatakan bahwa brand adalah “ruh’ dalam proses pemasaran suatu negara terutama dalam bidang pariwisata. Karena strategisnya peranan branding dan seperti dikatakan di awal dimana industri pariwisata sangat penting dalam perekonomian maka saat ini banyak negara melakukan branding maupun rebranding process, termasuk Indonesia.&lt;br /&gt;       Dari berbagai data dan fakta yang ada menunjukkan bahwa pariwisata Indonesia kurang memberikan greget dan terlihat pada fluktuasi- yang cenderung menurun-  kunjungan wisatawan terutama dari mancanegara yang berhenti pada kisaran angka 5 jutaan. Merujuk pada Spillane (dalam Edwin Fiatiano, 2005), suatu kegiatan tourism atau pariwisata suatu negara akan besar disebabkan tiga hal. Pertama, penampilan yang eksotis dari kegiatan pariwisata tersebut. Kedua, terdapat keinginan dan kebutuhan orang modern yang disebut hiburan di waktu senggang dan terakhir, sesuai dengan political interest dari elit politik yang berkuasa dari negara yang dijadikan tourism destination. Singapura, Malaysia dan Thailand dapat dikatakan telah memiliki tiga hal tersebut sehingga tidak salah apabila negara tetangga Indonesia ini menjadi major tourism destination bagi wisatawan mancanegara. Hal yang paling menonjol dari ketiga negara sesama anggota ASEAN itu terletak pada faktor ketiga yakni political interest elit politiknya. Di Singapura, melalui pemimpin politik kharismatik Lee Kuan Yew, telah membentuk Singapore Tourism Board atau Badan Promosi Pariwisata Singapura pada tahun 1964. Dengan pengalaman yang cukup lama ditambah dengan kemampuan profesionalisme tak salah apabila badan promosi negara kota itu mendapatkan penghargaan Gold Award untuk kampanye Primary Government/ Destination dari Pasific Asia Travel Association (PATA) untuk kedua kalinya pada tahun 2007. Bahkan Uniquely Singapore terpilih sebagai “ Best Tourism Branding” pada saat inaugurasi Travel Weekly (Asia) Industry Award 2007 yang berlangsung di Hong Kong(www.wisatanet.com, 07/08/2007).&lt;br /&gt;       Di pihak lain, Malaysia telah membentuk Malaysia Tourism Promotion Board melalui penetapan Malaysia Tourism Promotion Board Act pada tahun 1992. Setelah mendapatkan payung hukum, badan promosi pariwisata tersebut menyusun ‘Marketing Malaysia” dan dalam waktu 10 tahun telah sukses dengan penciptaan branding “ Malaysia Truly Asia” yang merupakan pukulan telak bagi Indonesia. Bahkan Thailand sangat serius mengelola branding melalui proses visioner yang cukup panjang hingga menghasilkan “ Amazing Thailand” yang terangkum dalam “ Visi Thailand 2012” (www.rantaunet.org, 25/01/2007).&lt;br /&gt;      Sebenarnya sejak tahun 1991 Indonesia telah mengkampanyekan Visit Indonesia Year yang terbukti sukses dengan mendatangkan 2 juta wisatawan asing (Republika, 29/12/2004). Tetapi sejak krisis melanda pada pertengahan tahun 1997, sektor ini cenderung dianaktirikan. Usaha tersebut dirintis kembali pada tahun 2001, bahkan dengan  melakukan branding process melalui tagline  “Indonesia, Just A Smile Away” dan terbukti cukup efektif dengan mendatangkan 5,15 juta wisatawan mancanegara pada tahun 2001 dan sebanyak 5,03 juta pada 2002 (lihat tabel di bagian awal). Namun sayangnya, branding yang belum begitu lama  dikenal seperti Malaysia Truly Asia ini harus mengalami penggantian tanpa alasan yang jelas. Di CNN kita saksikan branding tersebut diganti menjadi Indonesia, the Colour of Life. Padahal belum sampai setahun yang lalu (Februari–April 2003), Presiden Megawati Soekarnoputri menyampaikan sub tema Indonesia, Endless Beauty of Diversity, dalam tayangan iklan di BBC dan CNBC dalam rangka  menyambut konferensi PATA 2003 yang diselenggarakan di Bali (www.kolom.pacific.net.id, 22/02/2008). Bahkan pada tahun 2004 diluncurkan branding baru yakni Indonesia, Ultimate in Diversity. Dan yang sangat mengherankan banyak kalangan terutama pelaku pariwisata adalah, hal tersebut dilakukan tanpa penjelasan atau landasan survei yang jelas mengapa memilih kata-kata tersebut.&lt;br /&gt;       Perubahan itu banyak kalangan yang menyayangkan karena dinilai tidak marketable dan eye catching sebagai sebuah tuntutan brand yang kompetitif. Saya sendiri sependapat karena kata Ultimate in Diversity selain kurang marketable juga tidak menunjukkan sebuah bentuk pembedaan dengan negara lain yang sama atau setidaknya mirip kondisinya dengan Indonesia. Sebut saja Amerika Serikat dengan slogan One from Many atau bahkan Malaysia yang lebih dulu menyebut diri mereka sebagai Truly Asia. Bukankah penciptaan brand adalah untuk membedakan suatu negara dengan yang lain terutama saat mereka menawarkan produk wisata yang sama seperti kebanyakan negara di Asia Tenggara. Apalagi brand adalah “ruh’ dalam memasarkan produk pariwisata suatu negara di kancah internasional. Bahkan Hunter Johnstone Marketing Solutions menambahkan untuk berhasil dan suksesnya suatu brand, hal yang perlu diperhatikan adalah brand tersebut haruslah highly distinctive quality and value dan highly product differentiation.&lt;br /&gt;       Sebagai pihak yang awam akan branding process, saya lebih merasa nyaman dengan Indonesia, Just A Smile Away. Hal ini terkait dengan pendapat Setyanto P. Santosa, yang mengatakan bahwa kekuatan pariwisata Indonesia terletak pada manusianya yang ramah, santun, murah senyum dan suka menolong tamunya. Artinya kita lebih menekankan pada sumder daya manusia Indonesia sebagai salah satu aktor penting untuk meraih kesuksesan di sektor pariwisata. Karena menurut Hendrie Adjie Kusworo dan Janianton Damanik (dalam I Basis Susilo dkk, 2007) masyarakat merupakan tiga dari stakeholders dalam proses pengembangan sektor pariwisata selain hotel dengan tour operator dan wisatawan itu sendiri. Memang akan ada pihak yang skeptis dengan ide ini karena alasan Indonesia telah begitu terkenal dengan segala sesuatu yang negatif mulai masalah konflik hingga terorisme. Dimana faktor tersebut telah dianggap sebagai sesuatu yang sulit atau bahkan mustahil diperbaiki. Saya justru yang skeptis bila ada pendapat demikian karena teorisme dan konflik merupakan perbuatan dari beberapa oknum yang tentu tidak mewakili bangsa ini secara keseluruhan. Yang harus dilakukan adalah proses rebranding sebagai proses “country image recovery” dengan melibatkan semua elemen terkait terutama masyarakat sebagai elemen vital.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Indonesian Tourism Future: Sebuah Tantangan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;       Dengan segala potensi yang dimiliki Indonesia baik sebagai sebuah negara maupun bangsa, negeri ini masih memiliki sejuta asa untuk bisa berkompetisi dengan negara dan bangsa lain guna memasarkan sektor pariwisatanya. Dari apa yang telah diungkap di awal, banyak hal yang harus dibenahi apabila Indonesia masih menganggap penting sektor pariwisata. Di mana dunia pariwisata menurut I Made Wardana (2007), merupakan salah satu dari lima andalan penghasil devisa bagi Indonesia selain sektor minyak dan gas, tekstil, pakaian jadi, dan kayu lapis. Sektor pariwisata juga menyerap tenaga kerja 7,4 juta jiwa serta memberi multiplier effect pada sekitar 150 sektor lainnya.&lt;br /&gt;      Untuk membenahi sektor pariwisata nasional tentu tidaklah mudah karena membutuhkan waktu, tenaga dan tentunya biaya yang tak kecil. Hal pertama yang harus dilakukan adalah mempromosikan Indonesia dengan branding process. Selama ini kita terkesan setengah hati dalam mempromosikan pariwisata. Hal itu terlihat pada pameran-pameran pariwisata diikuti oleh Indonesia. Pesertanya harus membayar lebih mahal. Sebagai contoh dalam pameran pelaku-pelaku wisata dunia di ITB Berlin untuk satu meja, peserta Indonesia harus membayar US$1,900, sedangkan dari Malaysia hanya membayar US$500. Bahkan banyak stan pameran Indonesia terkesan kurang menarik. Padahal bangsa-bangsa lain tampil begitu mempesona (www.rantaunet.org, 25/01/2007). Banyak yang melihat ini sebagai bentuk ketidakseriusan dalam memasarkan pariwisata nasional. Di lain pihak, Malaysia demi meraih sukses Truly Asia telah melakukan persiapan selama 10 tahun dan dengan pendanaan yang besar serta usaha maksimal dengan memasarkan Truly Asia di berbagai media dan international event. . Dana promosi wisata Negeri Jiran Malaysia per tahun lebih dari 50 juta dollar AS. Sedangkan Indonesia hanya menganggarkan US$ 6 juta, itu pun yang khusus promosi hanya sekitar Rp 100 miliar. Di lain pihak, Singapura membuat kebijakan yang cukup berbeda dibandingkan negara lainnya. Dari setiap pajak pariwisata yang dibayarkan sebesar 3%, sebesar satu persen langsung disetor ke Singapore Tourism Board dan dua persen ke pemerintah. Di Indonesia, menurut Direktorat Jenderal Pemasaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Thamrin B Bachri, anggaran untuk instansi pemerintah yang bergerak di bidang pariwisata sangat kecil (Harian Kompas, 11/01/2006).&lt;br /&gt;     Untuk promosi wisata kita agaknya pantas meniru Singapura. Negara kota itu karena menyadari sumber dayanya yang terbatas tidak lagi berjualan wisata apalagi para wisatawan biasanya mencari sesuatu yang berbeda (something different). Mereka sekarang lebih memfokuskan pada konsep pariwisata yang dikenal dengan istilah MICE atau Meetings, Incentives,Conventions dan Exhibitions. Tak heran bila banyak pengusaha dunia berdatangan ke Singapura bahkan dari Indonesia. Indonesia sebenarnya memiliki apa yang ada di Singapura, hanya saja pengelolaannya yang belum optimal dan hanya berpusat di Bali dan Jakarta saja. Sedangkan daerah lain yang potensial belum digarap dengan maksimal. Selain itu faktor pelayanan sangat penting.  Pelayanan adalah roh yang akan menggerakkan aktivitas pariwisata sebab yang dibeli oleh wisatawan adalah pelayanan sejak pemberangkatan, datang ke daerah tujuan wisata dan kembali lagi ke daerah asal (Edwin Fiatiano, 2005). Aktor utama kaitannya dengan pelayanan ini,  tentunya adalah pegawai pemerintah daerah, masyarakat dan industri jasa.  Karena promosi yang hebat tanpa diimbangi dengan pelayanan yang maksimal sama dengan omong kosong belaka. Pengemasan pelayanan ini meliputi aspek transportasi seperti bandara, pelabuhan, administrasi, hotel dan yang paling penting adalah tempat wisata itu sendiri. Banyak pihak yang menyayangkan terhadap sikap setengah hati pemerintah dalam menggarap sektor pariwisata ini.&lt;br /&gt;     Tetapi menurut saya yang terpenting-terutama terkait branding yang  ditawarkan- kita sebagai masyarakat tidak hanya “menunggu  bola’ saja. Justru yang harus dilakukan adalah mulailah dari kita sendiri. Sudahkah kita merasa mengedepankan sense of belonging kita terhadap tempat-tempat wisata yang ada. Masih segar ingatan saya saat mengunjungi berbagai tempat wisata seperti Bali, dimana sekarang banyak tumbuh ruko-ruko yang sebenarnya amat mengganggu kecantikan Bali sebagai the most beautiful tourism spot in the world. Atau saat mengunjungi tempat wisata di Malang atau Yogyakarta dimana banyak situs wisata yang mengalami kerusakan justru akibat ulah kita sendiri. Percuma saja bila promosi branding kita sukses dan berhasil serta mengundang banyak wisatawan mancanegara untuk berkunjung, jika setelah itu mereka enggan kembali. Mereka akan merasa tertipu karena promosi yang dilakukan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Kesadaran bahwa anggaran dana pariwisata yang ada begitu kecil seharusnya kita jawab dengan sebuah bentuk keseriusan dalam merawat dan menjaga tempat-tempat pariwisata di Indonesia. Tugas mengembangkan dan memajukan pariwisata bukan hanya di pundak pemerintah (meskipun kita akui peranannya sentral) tetapi juga ada pada diri kita sebagai bagian dari bangsa ini. Sebuah kebijakan, promosi Indonesian tourism branding akan menjadi sia-sia apabila tak ada komitmen dan konsistensi untuk mewujudkannya. Bukankah Singapura, Malaysia dan Thailand memiliki hal itu sehingga mereka bisa leading dalam memasarkan pariwisata mereka.&lt;br /&gt;      Sebagai sebuah penutup dari artikel ini saya hanya ingin mengatakan bahwa branding process membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sebagai sebuah proses tentu ada pasang surutnya tetapi yang terpenting adalah komitmen dan konsistensi kita untuk bersinergi dan tidak hanya saling menyalahkan satu sama lain. Perhatian pemerintah boleh kecil terhadap sektor pariwisata tetapi bila kita hanya menunggu maka dunia pariwisata Indonesia tidak akan mengalami kemajuan. Indonesia, Just A Smile Away adalah bentuk dari komitmen dan konsistensi untuk senantiasa berusaha menunjukkan pada dunia dan wisatawan mancanegara bahwa Indonesia memiliki manusia-manusia ramah, murah senyum, santun dan penolong terhadap tamunya. Maka dengan komitmen dan konsistensi itu kita dapat tersenyum untuk menatap prospek masa depan dunia pariwisata ke depan.@2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-7074716142790075137?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/7074716142790075137/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2008/09/tourism-branding-soul-of-marketing.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/7074716142790075137'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/7074716142790075137'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2008/09/tourism-branding-soul-of-marketing.html' title='Tourism Branding: Soul of Marketing A Nation'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-1972589634688519481</id><published>2008-09-19T23:46:00.000-07:00</published><updated>2008-10-07T16:09:27.089-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;strong&gt;ASEAN REGIONAL FORUM:&lt;br /&gt;Dilema Idealitas di Tengah Tantangan Global&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Abstracts&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;       Memasuki dekade 1990-an, kawasan Asia Pasifik dihadapkan pada realitas bahwa Perang Dingin telah berakhir dengan memunculkan banyak kekuatan besar dunia yang mengitari kawasan ini. Negara-negara tersebut besar dalam artian memiliki kekuatan militer, ekonomi dan lainnya seperti Amerika Serikat, Rusia, China dan Jepang. Permasalahan mendasar yang ada kemudian adalah bagaimana mencari keseimbangan baru kaitannya dengan negara-negara tersebut demi masa depan kawasan yang lebih baik.&lt;br /&gt;Melihat realitas ini maka pada eksistensi ASEAN Regional Forum (ARF) sebagai forum dialog keamanan multilateral yang mandiri dan independen adalah sebuah keniscayaan. Dalam perkembangannya sebagai sebuah organisasi tentu banyak tantangan yang dihadapi sehingga memerlukan adjustment guna meraih survivalitas di tengah gelombang perubahan global yang begitu kencang dan deras. Bagaimana ASEAN membangun idealitas ARF? Apa saja tantangan yang dihadapi dan bagaimana ia mengatasinya? Tulisan ini mencoba membedah ARF sebagai sebuah bangunan idealitas yang didirikan ASEAN dan bagaimana perkembangannya kemudian dengan analisa singkat tanpa mengurangi substansi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt;Keywords&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;: ASEAN, ASEAN Regional Forum, idealitas dan tantangan kontemporer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ASEAN Regional Forum dalam Lintasan Sejarah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;     ARF merupakan inisiatif negara-negara ASEAN guna mencari hubungan keseimbangan baru pasca berakhirnya Perang Dingin yang ditandai runtuhnya Tembok Berlin pada 8 November 1989. Kemunculan negara-negara besar dengan segala kekuatan yang bervariasi seperti Amerika Serikat, Rusia, Jepang dan China yang berada di sekitar kawasan ASEAN merupakan faktor penting yang tak dapat dilepaskan dari perhatian para petinggi ASEAN saat itu. Oleh karenanya, ketika Pertemuan Kementerian ASEAN yang ke-26   yang dihelat di Singapura pada 23-25 Juli 1993 menyetujui untuk membangun suatu mekanisme kerja sama antara negara anggota ASEAN dengan para mitra dialognya yang berada di luar ASEAN. Namun perlu dicatat pula bahwa pada tahun 1992 ASEAN Regional Forum (ARF) mulai diperkenalkan sebagai salah satu fungsi dalam mekanisme kerja ASEAN untuk meningkatkan kerja sama dan dialog mengenai masalah-masalah keamanan regional, terutama dengan semua partner dialog ASEAN semisal Amerika, Uni- Eropa, Jepang, Australia, Selandia Baru, Rusia, dan Cina serta beberapa negara di kawasan Pasifik yang lain.&lt;br /&gt;      Menurut Bambang Cipto (2007: 209) tujuan didirikannya forum ini adalah untuk menciptakan ruang dialog dan konsultasi yang konstruktif bagi para pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Dan masih menurut Bambang pula untuk mewujudkan semua itu dipilihlah mekanisme confidence-building measures dengan mengikutkan di belakangnya pola preventive diplomacy sehingga diharapkan akan dapat menghasilkan suatu mekanisme yang lebih efektif dalam penyelesaian suatu problematika yakni resolusi konflik. Dalam hal ini peran Indonesia sangat signifikan terutama melalui aktivitas diplomasi yang dilakukan Indonesia terkait masalah konflik Laut Cina Selatan yang dapat mengganggu stabilitas kawasan Asia Tenggara (Amitav Acharya, 2001: 133). Meskipun dilandasi oleh semangat penciptaan kawasan yang tertib, aman dan damai tapi ARF tidaklah dibentuk berdasarkan prinsip seperti aliansi militer pada umumnya karena ia dibangun atas prinsip kerja sama, keterbukaan dan saling pengertian antar sesama anggota dan lebih mirip dengan semangat pembentukan ASEAN (Leszek Busynski, 2002: 490).&lt;br /&gt;Dengan semangat tersebut maka pada pertemuan tingkat menteri ke-27 di Bangkok, Thailand yang dihelat tanggal 25 Juli 1994, ASEAN Regional forum secara resmi dibentuk. Keanggotaan awal terdiri dari 10 negara anggota ASEAN dan 8 negara mitra dialog yakni Amerika Serikat, Australia, Rusia, Uni Eropa, Cina, Kanada, Jepang, Korea Selatan dan Papua Nugini. Kemudian menyusul India bergabung pada tahun 1996, Mongolia pada tahun 1999 dan Korea Utara tahun 2000 dan hingga kini keanggotaannya telah mencapai 27 negara. Mekanisme kepemimpinan dalam ARF sama seperti dalam ASEAN hanya saja mekanisme lebih pada pembentukan standing commitee dimana kepemimpinan terdiri satu dari anggota ASEAN dan satu lagi dari anggota non-ASEAN yang akan mengadakan pertemuan tahunan dengan nama The ASEAN Ministerial Meeting dan The Post Ministerial Conferences. Secara berturut-turut pertemuan diselenggarakan di negara anggota ASEAN yang menjadi pemimpin pada ARF dan datanya dalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;Pertemuan perdana merupakan pendeklarasian untuk pertama kalinya yang dihelat di Bangkok, Thailand pada 25 Juli 1994. ini merupakan tahapan idealitas pendirian ARF.&lt;br /&gt;The 2nd ASEAN Ministerial Meeting diselenggarakan di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam pada 1 Agustus 1995 dengan agenda pembahasan utama pembahasan seputar konflik di Laut China Selatan, masalah dua Korea, kesepakatan untuk penciptaan perdamaian di Kamboja dan menerima proposal penciptaan zona netral, damai dan bebas nuklir di kawasan Asia dan Paifik serta permasalahan Mischief Reef&lt;br /&gt;The 3rd ASEAN Ministerial Meeting diadakan di Jakarta, Indonesia pada 23 Juli 1996 yang membicarakan masalah kriteria yang harus dipenuhi bagi pihak luar yang ingin bergabung dengan forum ini dan mekanisme penyelesaian konflik internal&lt;br /&gt;The 4th ASEAN Ministerial Meeting dihelat di Subang Jaya, Malaysia pada 27 Juli 1997 dengan agenda forum peningkatan kerja sama  keamanan terutama dengan negara-negara besar seperti China, Rusia dan Jepang&lt;br /&gt;The 5th ASEAN Ministerial Meeting yang diselenggarakan di Manila, Philipina pada 27 Juli 1998 dengan pembahasan pertimbangan komitmen Mongolia untuk bergabung dengan ARF dan peningkatan upaya penciptaan stabilitas kawasan&lt;br /&gt;The 6th ASEAN Ministerial Meeting diselenggarakan di Singapura pada 26 Juli 1999 dengan menindaklanjuti proses pencapaian selama satu tahun terakhir terkait dengan proses resolusi konflik yang hendak diraih dalam menghadapi permasalahan keamanan internal kawasan&lt;br /&gt;The 7th ASEAN Ministerial Meeting diadakan di Bangkok, Thailand pada 27 Juli 2000&lt;br /&gt;The 8th ASEAN Ministerial Meeting diselengarakan pada 8 Juli 2001 di Hanoi, Vietnam&lt;br /&gt;The 9th ASEAN Ministerial Meeting diselenggarakan di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam pada 31 Juli 2002 dengan agenda pembahasan utamanya yaitu isu terorisme&lt;br /&gt;The 10th ASEAN Ministerial Meeting yang diadakan pada 18 Juni 2003 di Phnom Penh, Kamboja dengan pembahasan kerja sama dalam upaya mengatasi terorisme di kawasan Asia Pasifik&lt;br /&gt;The 11th ASEAN Ministerial Meeting yang diselenggarakan di Yakarta, Indonesia pada 2 Juli 2004 penerimaan Pakistan sebagai anggota ke-24&lt;br /&gt;The 12th ASEAN Ministerial Meeting yang diadakan di Vientine, Laos pada Juli 2005 dengan suasana begitu berbedea karena pemimpin mitra dialog utama AS, Jepang, China dan India     tidak hadar meskipun mereka mengirim wakilnya dan masalah bencana tsunami yang melanda kawasan Asia Pasifik&lt;br /&gt;The 13th ASEAN Ministerial Meeting diselenggarakan di Kuala Lumpur, Malaysia pada 28 Juli 2006 dengan pembahasan bantuan untuk segera merekonstruksi daerah dengan dampak terbesar akibat tsunami seperti Aceh.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perkembangan ASEAN Regional Forum&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;         Yang menjadi persoalan kemudian adalah apakah idealitas pembentukan ARF tersebut tercapai ataukah yang terjadi hanya sekedar  "singa ompong" karena ARF tak lebih dari "saudara kembar" pendahulunya, ASEAN? Untuk menjawab itu semua tidaklah mudah. Karena terdapat banyak fakta di lapangan yang menunjukkan bahwa ARF cukup efektif dalam membangun konsultasi dan dialog yang konstruktif, terbukti dengan bertambahnya keanggotaan ARF dari 18 pada awal terbentuknya menjadi 27 negara pada saat ini. Kegiatan yang ada seperti seminar telah rutin dilaksanakan meskipun masih dalam tataran diskursus semata (www.aseanregionalforum.org). Namun tidak sedikit permasalahan yang cukup menghambat seperti konflik di Laut Cina Selatan antara China dengan negara anggota ASEAN seperti Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam dan Singapura serta Philipina. Peristiwa Mischief Reef antara China dan Philipina misalnya yang tak kunjung diselesaikan oleh pertemuan tahunan ARF pada awal terbentuknya membuat Philipina justru menjalin kerja sama militer Visiting Forces Agreement dengan negara besar Amerika Serikat pada tahun 1999. hal ini membuat AS kembali memainkan peranannya terutama di bidang militer di kawasan ini. Selain itu konflik internal seperti kasus Sipadan-Ligitan dan Ambalat antara Indonesia dan Malaysia justru semakin meperlihatkan "kemandulan" ARF sebagai forum mediasi dan dialog guna menghasilkan resolusi konflik yang efektif.&lt;br /&gt;        Munculnya peristiwa&lt;strong&gt;&lt;i&gt; Black Tuesday&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; juga tak pelak telah membuat rentannya imunitas ARF sebagai lembaga mandiri dan independen karena ternyata forum ini menerima foreign policy Amerika Serikat dalam rangka memerangi terorisme (&lt;i&gt;&lt;strong&gt;Bush Doctrine&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt;). Masalah yang cukup mengganggu pula adalah "perseteruan" dua Korea sebagai mitra dialog yang tak kunjung usai apalagi dengan terlibatnya negara besar yang juga partisipan dalam ARF seperti AS, Rusia dan China. Selain itu, perbedaan ideologi yang masih menjadi bahaya laten dalam tubuh ARF juga cukup memprihatinkan. Ini terkait dengan terbawanya negara partisipan ke dalam arus permainan negara-negara besar. Konstelasi di tingkat internal pasca turunnya tokoh-tokoh yang secara regional memiliki pengaruh signifikan seperti Soeharto (Indonesia), Lee Kuan Yew (Singapura) dan Mahathir Muhammad (Malaysia) turut memperburuk pamor ARF bagi kekuatan di luar kawasan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dilema ASEAN Regional Forum dan Kehadiran Negara-Negara Besar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;       Bagaimanapun, ASEAN tidak bisa berjalan sendiri. Meskipun ASEAN tidak menghendaki adanya bentuk dominasi negara besar, ASEAN mengakui bahwa negara besar mempunyai kepentingan yang absah di kawasan ini. Pembentukan ARF juga merupakan jawaban atas kekhawatiran ASEAN mengenai kekosongan kekuatan di kawasan ini. Jadi, peran penting negara-negara besar diperlukan, selain berfungsi sebagai penengah perdamaian, juga menjaga stabilitas kawasan. Pertanyaannya, sampai sejauh mana peran keamanan negara-negara besar dalam ARF? Sebelumnya, Amerika Serikat selalu menekankan pentingnya pendekatan bilateral terhadap keamanan Asia Pasifik melalui aliansi keamanan dengan negara-negara di kawasan. Dalam pandangan AS setiap upaya ke arah multilateralisme akan mengurangi kredibilitas hubungan keamanan bilateral antara AS dan negara-negara Asia Pasifik, sehingga berakibat pada berkurangnya posisi dominan AS. Namun, ketika multilateralisme tidak dapat dicegah lagi dan banyak masalah keamanan kawasan yang substansinya memerlukan pembicaraan dan pemecahan secara multilateral, tak ada pilihan bagi AS untuk mengikuti perkembangan tersebut, meskipun ini harus disertai dengan sikap yang hati-hati bahwa kerja sama keamanan secara multilateral tidak dimaksudkan untuk mengganti hubungan kerja sama keamanan bilateral antara AS dan para sahabatnya di Asia Pasifik.&lt;br /&gt;      Di samping itu, ARF dapat disebut telah memberi nilai kompensasi atas berkurangnya kehadiran militer AS. Dengan inisiatif dan secara formal ARF dipimpin oleh ASEAN, ASEAN berusaha untuk mencegah kekuatan-kekuatan lain untuk bersaing memainkan peran dominan di dalam ARF, tanpa harus mengurangi peran AS itu sendiri sebagai salah satu penjamin kawasan Asia Pasifik. Karena ARF merupakan forum yang sangat longgar, meskipun AS tidak menjadi pemimpin, ia tetap punya suara dominan di dalamnya, apalagi dalam waktu yang sama hubungan keamanan bilateral AS dengan negara sahabat masih tetap dipertahankan. Tantangan yang dihadapi AS di era multilateralisme di kawasan adalah bagaimana ia mampu menempatkan dirinya dalam struktur strategis baru yang memunculkan aktor-aktor lainnya yang mungkin akan berperilaku agresif atau tidak bersahabat terhadap aktor lainnya. Peran baru AS di kawasan Asia Tenggara harus dilihat dalam kerangka munculnya struktur strategis baru ini. Keanggotaan Rusia dalam ARF pada dasarnya adalah pengakuan terhadap eksistensi Rusia sebagai negara besar di Asia Pasifik yang sampai pada tingkat tertentu mempengaruhi lingkungan strategis di kawasan ini. Rusia sendiri memang mempunyai kepentingan terhadap Asia Pasifik. Perhatian yang lebih besar pada upaya mengintegrasikan dirinya dalam interaksi ekonomi merupakan salah satu kepentingan itu.&lt;br /&gt;        Keanggotaan Rusia dalam ARF harus dimanfaatkan ASEAN guna mengetahui lebih jauh pandangan-pandangan Rusia mengenai masalah keamanan kawasan. Dari perspektif Rusia, peran dan kehadirannya di kawasan tetap diperlukan untuk mendukung kepentingan ekonominya, meskipun kemampuan untuk partisipasi dalam pembangunan ekonomi kawasan Asia Tenggara sangat terbatas. Peran keamanan Rusia di kawasan Asia Tenggara di masa mendatang akan tetap bersifat marginal. Keterlibatan Cina dalam ARF setidak-tidaknya memberi jaminan kepada para tetangganya tentang maksud-maksud damai Cina, meskipun untuk itu masih harus dilihat lebih jauh lagi kesungguhan Cina untuk menyelesaikan sengketa-sengketa dengan negara-negara tetangganya secara damai sesuai dengan prinsip koeksistensi damai yang dianutnya.&lt;br /&gt;        Cina adalah negara besar yang tidak bisa diabaikan dalam konfigurasi politik dan keamanan. Di samping itu, masa depan politik dan ekonomi Cina juga akan berpengaruh secara signifikan terhadap perdamaian dan stabilitas kawasan. Melalui ARF diharapkan kepentingan Cina terhadap kawasan Asia Tenggara dapat diakomodasi dengan baik. Transparansi anggaran militer Cina sebagaimana yang disepakati ARF juga akan melegakan negara-negara Asia yang bertetangga dengannya. Dengan beredarnya laporan tentang anggaran militer Cina dan peruntukannya menjadi jelas. Dengan demikian, persepsi negara-negara tetangga yang seringkali melihat Cina sebagai ancaman bisa dihilangkan.&lt;br /&gt;        Bagi Jepang, ARF memberi wadah yang cocok untuk dapat berperan lebih besar di kawasan, terutama untuk mengurangi ketakutan regional akan peran Jepang yang lebih aktif dalam masalah keamanan dan politik. Peran Jepang selalu menjadi sorotan karena beban sejarah yang harus dipikul akibat perilakunya selama Perang Dunia II. Namun, ASEAN memandang bahwa peran keamanan Jepang harus dilaksanakan dalam kerangka aliansinya dengan AS. Aliansi keamanan Jepang-AS merupakan faktor yang cukup penting bagi stabilitas dan keamanan kawasan, karena hal itu tidak hanya memberi keamanan pada Jepang, tetapi juga negara-negara lainnya di kawasan. Selain itu, Jepang harus membuat keseimbangan hubungan antara kawasan sebagai lingkungan geopolitiknya dan peran globalnya yang sesuai dengan statusnya sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua. Keterlibatan Jepang dalam ARF akan membantu Jepang menemukan peran kepemimpinan yang dapat diterima di masa yang akan datang. Jepang dituntut untuk tetap memberi dukungan kepada prakarsa ASEAN untuk menciptakan tatanan regional pasca-Perang Dingin yang lebih aman dan stabil. Dari sudut pandang ASEAN, Jepang memiliki peran yang sama dengan ASEAN untuk memajukan dan mendukung pengaturan keamanan kooperatif yang dikembangkan dalam kerangka ARF dan Dewan Kerja Sama Keamanan Asia Pasifik (CSCAP).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kesimpulan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;         ASEAN Regional Forum merupakan sebuah mekanisme yang positif guna menghadapi problematika yang dihadapi oleh ASEAN dengan mitra dialognya. Akan tetapi tanpa mekanisme yang terbuka dan berbeda dengan prinsip pendirian ASEAN maka ARF hanya akan menjelma sebagai ”macan ompong”. Hal ini jika diteruskan akan dapat mengancam keberlangsungan ARF sendiri sebagai forum mediasi dan dialog dalam menghadapi permasalahan yang terjadi. Sebut saja sejak pendiriannya pertama kali pada 1994, forum ini sudah didera permasalahan internal terkait kasus Mischief Reef antara Philipina dengan negara mitra dialognya China yang justru tak dapat diselesaikan berdasarkan mekanisme ARF sendiri sehingga Philipina menjalin kerja sama bilateral di bidang keamanan dengan Amerika Serikat lewat perjanjian  Visiting Forces Agreement pada tahun 1999. belum lagi permasalahan internal lainnya seperti kasus Ambalat antara Indonesia dan Malaysia yang belum kunjung usai, masalah Kepulauan Spratly antara China dengan beberapa negara ASEAN. Oleh karenanya penegasan mekanisme yang disepakati bersama akan dapat meminimalisir konflik internal guna menyongsong masa depan kawasan yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-1972589634688519481?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/1972589634688519481/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2008/09/asean-regional-forum-dilema-idealitas.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/1972589634688519481'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/1972589634688519481'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2008/09/asean-regional-forum-dilema-idealitas.html' title=''/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-6436722611372616117</id><published>2008-09-19T23:39:00.000-07:00</published><updated>2008-09-19T23:46:13.185-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;strong&gt;Hubungan Kerja Sama ASEAN, Amerika Serikat dan China:&lt;br /&gt;Sebuah Politik Luar Negeri Penyeimbang Kekuatan&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bustomi/ 070610302&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;strong&gt;Abstracts&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;       Dinamika hubungan internasional di kawasan Asia Tenggara terlihat semakin dinamis selama dan pasca Perang Dingin. Selama Perang Dingin pulalah semangat regionalisme di kawasan ini muncul dengan terbentuknya ASEAN pada 1967. Dinamisasi tersebut makin hidup dengan dibukanya hubungan dengan negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan China. Dalam perkembangannya hubungan yang dijalin tersebut mengalami fluktuasi mengikuti perkembangan zaman. Tulisan ini menekankan pada hubungan internasional kontemporer antara ASEAN, Amerika Serikat, dan China dalam perspektif politik luar negerinya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt;Keywords&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;: politik luar negeri, ASEAN, Amerika Serikat, China&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Pengantar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;       Dunia global merupakan sebuah arena inter-relasi antara satu negara dengan negara lainnya. Dalam hubungan tersebut tentunya terjadi proses saling membutuhkan satu sama lain. Supaya kontinuitas hubungan baik yang ada tetap terjaga maka sikap penentuan diri guna menjaga jarak antara politik luar negeri dengan politik dalam negeri adalah sebuah keniscayaan. Bagi suatu negara, politik luar negeri merupakan suatu upaya pencapaian maksimal guna meraih national interest yang terumuskan dalam proses pembuatan politik luar negerinya. Menurut J.R Childs (dalam M.A Vincsensio Dugis, 1988), politik luar negeri merupakan isi pokok dari hubungan luar negeri suatu negara. Politik luar negeri bersifat dinamis, artinya ia dapat berubah sesuai dengan kondisi internal dan eksternal yang terjadi pada suatu kurun waktu tertentu (Brian White, 1998). Fleksibilitas politik luar negeri adalah sebuah keniscayaan, mengingat dinamika hubungan internasional sangat majemuk sehingga benturan dengan situasi-situasi yang kemudian dapat merugikan national interest negara sebagai aktor dalam hubungan internasional dapat dihindari (M.A Vincsensio Dugis, 1988). Melihat realitas tersebut , maka hubungan ASEAN dengan Amerika Serikat dan China yang fluktuatif merupakan suatu kewajaran apalagi di Asia Tenggara diperlukan adanya keseimbangan kekuatan negara besar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ASEAN dan Amerika Serikat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;         Dinamisasi hubungan antara ASEAN dan Amerika Serikat semakin nampak pasca Perang Dunia II. Perang yang melahirkan 2 negara super power dengan ideologi yang kontradiktif- Amerika Serikat dan Uni Soviet- memaksa negara kapitalis tersebut untuk segera menanamkan pengaruh dominannya di kawasan Asia Tenggara. Guna menghalau pengaruh komunis sebagai bagian dari containment policy, Amerika Serikat menjalin kerjasama dengan Philipina melalui The Military Bases Agreement sehingga bisa membangun pangkalan militernya di negara salah satu founding fathers ASEAN tersebut (Bambang Cipto, 2006: 163-166). Selain itu, Amerika Serikat membuat pakta pertahanan SEATO yang merupakan justifikasi untuk mendukung gerakan anti-komunis yang merupakan garis ideologi pemerintahan non-komunis Vietnam Selatan. Dengan konspirasi yang lihai, Amerika Serikat dan musuh bebuyutannya, Uni Soviet, berseteru dalam Perang Vietnam yang ditandai dengan kekalahan di pihak Amerika Serikat. Ini merupakan momentum awal menurunnya kiprah Amerika Serikat di kawasan Asia Tenggara. Menurunnya kiprah tersebut juga diikuti dengan terbentuknya ASEAN Regional Forum (ARF) yang merupakan arena utama guna membahas isu-isu keamanan di kawasan Asia Pasifik. Tujuan didirikannya forum ini adalah untuk menciptakan ruang dialog dan konsultasi yang konstruktif bagi para pihak-pihak yang terlibat di kawasan Asia Tenggara dan Asia Pasifik pada umumnya (Bambang Cipto, 2006: 209). Dalam kaitannya dengan ASEAN ini, pangkalah laut Amerika Serikat di Subic Bay, Philipina dan pangkalan udara di Clark Base, Singapura ditutup. Namun beberapa negara ASEAN seperti Philipina, Thailand, Singapura, Malaysia dan Indonesia menjalin kerjasama keamanan dengan Amerika Serikat dalam bentuk hubungan bilateral, meskipun secara implisit Malaysia dan Indonesia kurang berkenan akan hadirnya Amerika Serikat di Asia Tenggara.&lt;br /&gt;          Hubungan ASEAN dan Amerika Serikat berubah drastis pasca peristiwa 9/11, dimana kemudian Presiden Amerika Serikat George Walker Bush, Jr. melakukan kebijakan politik luar negeri berupa &lt;i&gt;&lt;strong&gt;war on terorism&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt; dan menganggap negara yang tidak mengikuti kebijakannya ini sebagai pendukung teorisme dan musuh Amerika Serikat. Berpihaknya ASEAN terhadap politik luar negeri Amerika Serikat ini terlihat dalam  The 9th ASEAN Ministerial Meeting yang diselenggarakan di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam pada 31 Juli 2002 dengan agenda pembahasan utamanya yaitu isu terorisme. Dan hal tersebut berlangsung hingga pertemuan The 10th ASEAN Ministerial Meeting yang diadakan pada 18 Juni 2003 di Phnom Penh, Kamboja dengan pembahasan kerja sama dalam upaya mengatasi terorisme di kawasan Asia Pasifik. Perubahan itu juga terkait dengan kemunculan China sebagai kekuatan ekonomi baru dunia yang dikhawatirkan dapat menyaingi dominasi dan hegemoni Amerika Serikat di dunia dan Asia Tenggara khususnya, dimana sebelumnya Amerika Serikat menyadari kekuatan China sudah lama bermain di kawasan ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ASEAN dan China&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;        Sebagai salah satu negara penganut ideologi komunis, hubungan China dan ASEAN pada awalnya dipenuhi rasa saling curiga karena sebagian besar negara ASEAN dikendalikan oleh Amerika Serikat sebagai kampiun ideologi liberal dan merupakan musuh ideologi komunis. Selain itu, sebagian besar penduduk ASEAN merupakan  muslim dan Nasrani yang tentunya berseberangan dengan China yang berpaham atheis (Bambang Cipto, 2006). Meskipun begitu, di tengah kecurigaan tersebut, produk-produk ekonomi China sudah memasuki pasar ASEAN. Perubahan  terjadi sejak pemerintahan Deng Xiao Ping yang mulai mereformasi politik luar negeri dan ekonomi China. Kunjungan Perdana Menteri Li Peng ke beberapa negara ASEAN seperti ke Indonesia dan Singapura serta kehadiran Menteri Luar Negeri China, Qian Qichen, dalam pertemuan ASEAN di awal tahun 1990an menjadikan hubungan kedua belah pihak  semakin harmonis. Pemerintah China meyakinkan ASEAN bahwa ada perubahan mendasar dalam politik luar negerinya di ASEAN. Hal ini dibuktikan dengan mengurangi dukungan terhadap gerakan komunis di ASEAN  dan dibuktikan dengan menutup radio komunis di Thailand dan Malaysia.&lt;br /&gt;        Hubungan China dan ASEAN tidaklah berjalan mulus. Di satu sisi, ada beberapa hal sensitif, seperti keterlibatan China dalam G 30 S/ PKI di Indonesia, Vietnam yang pernah ”di-agresi” dan menduduki kepulauan Paraced serta klaim atas Kepulauan Spratly, konflik China- Philipina atas Kepulauan Mischief Reef. Namun di sisi yang lain, Myanmar memiliki hubungan khusus dengan China serta Singapura dan Malaysia dengan alasan etnis juga menjalin hubungan dengan China. Tetapi kehadiran China di kawasan Asia Tenggara sebagai penyeimbang kekuatan, mutlak diperlukan oleh ASEAN. Kebangkitan ekonomi China awal 1990an, juga turut memiliki pengaruh terhadap kebijakan ASEAN untuk tetap menjalin kerjasama dengan negeri Tirai Bambu tersebut. Ini terbukti dengan munculnya China sebagai mitra dialog ASEAN melalui mekanisme ASEAN+3.&lt;br /&gt;        Sejak akhir abad ke- 20, China mulai merealisasikan konsep baru kebijakan luar negerinya sehingga hubungan dengan kawasan Asia Tenggara baik dalam bentuk hubungan bilateral maupun kolektif semakin banyak. Hal ini juga terkait dengan national interest China guna mendapatkan dukungan politik atas kasus Taiwan. Mengingat di Asia Tenggara diperlukan adanya keseimbangan kekuatan, maka ASEAN harus berusaha semaksimal mungkin menjaga hubungan baik dengan Amerika Serikat dan China, sekaligus mengambil keuntungan maksimal dari kerja sama tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Simpulan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;         Membaca hubungan kerja sama antara ASEAN, Amerika Serikat dan China dapat disimpulkan bahwa tesis utama dalam kebijakan luar negeri berupa national interest tetap merupakan faktor kunci. Di sini saya melihat kepiawaian ASEAN dalam memainkan ”kartu”nya demi mendapatkan manfaat maksimal terutama dipandang dari perspektif regional. Hubungan kerja sama dengan Amerika Serikat sebagai kekuatan super power yang tersisa usai Perang Dingin dan ketergantungan ASEAN terhadap negara besar ini tentu tak dapat dipungkiri. Apalagi sejak peristiwa 9/11, Amerika Serikat sangat berkepentingan akan kawasan yang mayoritas penduduknya adalah muslim (yang oleh Amerika Serikat dianggap amat berbahaya setelah Perang Dingin usai). Lain Amerika Serikat lain pula China. Selain tumbuh sebagai kekuatan ekonomi baru, China merupakan salah satu dari 5 kekuatan besar dunia dan tentunya tidak ingin dominasinya di kawasan Asia Tenggara ”diambil alih” oleh kekuatan lain. Karenanya, hubungan kerja sama China dengan ASEAN lebih merupakan upaya mendapat kepercayaan guna eksisnya kekuatan dominasi dan hegemoni China di Asia Tenggara, selain karena ingin mendapat dukungan politik atas kasus Taiwan. ASEAN ibarat the paddy sedangkan China laksana the dragon dan karenanya diperlukan the nexus yang tentu harus dapat dicapai ASEAn ke depannya.&lt;br /&gt;        Masa depan ASEAN lebih ditentukan akan ”lihai”nya mereka dalam mengambil sebanyak mungkin keuntungan dari kerjasama dengan Amerika Serikat dan China sebagai bentuk kebijakan penyeimbang kekuatan besar dunia di kawasan Asia Tenggara dengan tetap menjaga hubungan baik antara keduanya@Abu Yasid Al-Busthomi Ibnu Syamsul Arifin&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-6436722611372616117?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/6436722611372616117/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2008/09/hubungan-kerja-sama-asean-amerika.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/6436722611372616117'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/6436722611372616117'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2008/09/hubungan-kerja-sama-asean-amerika.html' title=''/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-1629321667961341365</id><published>2008-09-19T23:31:00.000-07:00</published><updated>2008-09-19T23:35:50.545-07:00</updated><title type='text'>TRACK RECORD, BUKTI BUKAN JANJI</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;        Reformasi kini telah berusia 10 tahun. Tetapi angin pembaharuan yang dihembuskannya tak jua memberikan perubahan signifikan bagi bangsa ini. Salah satunya adalah pemilihan langsung para wakil rakyat yang diharapkan akan lebih aspiratif dibandingkan masa Orde Baru. Namun realitas yang ada memberikan gambaran lain. Korupsi semakin merajalela, anggota dewan yang ‘terhormat” terlibat kasus amoral bahkan ajang smackdown yang hanya ada di televisi (dan dihentikan) pindah tayang di gedung dewan. Belum lagi dengan kambuhnya “penyakit’ lama orang-orang pilihan tersebut seperti sering bolos saat rapat penentuan nasib para konstituen yang dulu memilihnya bahkan tertidur saat pembahasan berlangsung.&lt;br /&gt;       Kondisi ini sangat berbeda dengan janji kampanye mereka sebelum mendapatkan “kursi pengubah nasib” itu. Kampanye yang tak lebih hanya pepesan kosong itu diobral dengan murah demi membuai mimpi jutaan rakyat yang berharap setulus hati bahwa kelak orang yang mereka pilih akan dapat memperjuangkan aspirasinya. Sejak pesta demokrasi langsung digelar 5 tahun yang silam kini nasib rakyat kita benar-benar berubah. Para wakil rakyat telah “memenuhi” janjinya. Harga BBM naik, minyak tanah dan gas elpiji sebagai kebutuhan dasar rakyat langka sehingga nilai untuk mendapatkannya melambung. Penyakit busung lapar dan gizi buruk bahkan menjadi pemandangan biasa. Kita tak habis pikir kemana penglihatan dan pendengaran mereka. Apakah dipikirnya pemandangan rakyat yang sedang “diet ketat” itu adalah suatu fatamorgana? Sungguh benar bila kitab suci mengatakan bahwa penglihatan, pendengaran, hati dan jiwa mereka dikunci akibat penyakit kronis yang dideritanya, cinta dunia. Akibatnya UUD dan Pancasila yang menjadi tolok ukur kehidupan berbangsa dan bernegara terutama oleh mereka yang kini sedang mengemban amanah rakyat telah bergeser maknanya. Untuk meloloskan suatu undang-undang maka Ujung-Ujungnya Duit. Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai landasan moral menjelma jadi Keuangan Yang Maha Kuasa dan kemanusiaan yang adil dan beradab turun maknanya menjadi kemanusiaan yang tidak adil dan  sedikit biadab.&lt;br /&gt;             Melihat kenyataan ini tentu pesta demokrasi yang akan segera kita helat pada 2009 nanti akan menjadi pelajaran berharga bagi kita semua, rakyat jelata, untuk lebih hati-hati dan waspada agar tidak tertipu lagi dalam memilih wakil kita. Caranya sederhana, pilihlah orang-orang yang sudah jelas terbukti track recordnya. Dengan melihat apa yang telah diperbuat sebelum mencalonkan diri tentu kita bisa yakin bahwa orang-orang inilah yang nantinya benar-benar memperjuangkan nasib kita. Janji-janji yang ditawarkannya bukan hanya sekedar pepesan tak berisi tetapi suatu bukti yang perlu dilanjutkan demi sebesar-besar kemakmuran rakyat. Melalui cara ini pula, moral para wakil rakyat yang kini sedang dipertanyakan akan terjawab karena rekam jejak tak pernah berbohong. Janganlah kita jatuh pada lubang yang sama untuk kesekian kalinya karena itu merupakan sebuah kerugian besar. Mari kita jadikan pemilu mendatang sebagai ajang untuk mengatakan tidak pada mereka yang hanya mengobral janji dan itu dapat dilakukan dengan mengetahui track record sang calon sebagai bukti bukannya janji @CopyRight By Abu Yasid Al-Busthomi Ibnu Syamsul Arifin&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-1629321667961341365?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/1629321667961341365/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2008/09/track-record-bukti-bukan-janji.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/1629321667961341365'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/1629321667961341365'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2008/09/track-record-bukti-bukan-janji.html' title='TRACK RECORD, BUKTI BUKAN JANJI'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-2262863118252040658</id><published>2008-09-19T23:20:00.000-07:00</published><updated>2008-09-19T23:23:21.140-07:00</updated><title type='text'>REVIEW ON GUEST LECTURE ABOUT UNITED STATES FOREIGN POLICY TOWARDS MIDDLE EAST by Jon B Alterman</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;         Kajian mengenai Amerika Serikat selalu menarik perhatian para penstudi Hubungan Internasional apalagi yang berkaitan dengan kebijakan politik luar negerinya. Ketertarikan itu akan semakin kentara tatkala pembahasan politik luar negerinya dikaitkan dengan kawasan Timur Tengah. Analisa ini merupakan review atas pandangan stakeholders of foreign policy Amerika Serikat terhadap kawasan yang sampai detik ini masih berkonflik itu.&lt;br /&gt; Secara umum,  politik luar negeri Amerika Serikat selalu dikaitkan dengan skala prioritas seperti pada saat Cold War. Tetapi kebijakan AS mengalami perubahan signifikan di awal abad 21 ini mengingat statusnya sebagai satu-satunya super power, ia senantiasa mengantisipasi segala kemungkinan tantangan yang dapat mengancam eksistensi AS baik secara internal maupun eksternal. Apalagi kasus 9/11 kembali menguatkan hipotesa Samuel P. Huntington tentang Clash of Civilization dimana AS akan menghadapi ancaman baru terutama dari kalangan fundamentalis agama (Islam) meskipun menurut Jon B. Alterman kita tak dapat memandang hipotesa itu secara diametrikal an sich. Peristiwa 9/11 memberikan pelajaran pada AS, bahwa skala prioritas terhadap penjaminan kepentingan nasional AS telah merambah batas luar teritori negara dan ancaman yang terjadi telah bermetamorfosis sehingga kebijakan nasional yang strategis merupakan sebuah keniscayaan.&lt;br /&gt;           Peristiwa 9/11 kemudian menjadikan AS sebagai pemimpin terhadap bentuk baru perang yakni terrorism. Perang melawan terorisme merupakan skala prioritas baru kebijakan AS memasuki abad 21 dan pandangan para analis studi Hubungan Internasional tertuju ke kawasan Timur Tengah karena pasca 9/11, pemerintahan AS menuduh Usamah bin Laden sebagai tertuduh yang notabene representasi muslim dan kawasan tersebut. Di mulailah babak baru pola kebijakan AS yang lebih agresif dengan konsep pre-emptive strike guna menangkal ekses negatif lebih lanjut dari teroris. Perlu dicatat bahwa dalam peristiwa ini As merupakan korban sehingga ia senantiasa berusaha keras untuk mencegah segala kemungkinan terburuk yang dapat mengancam eksistensi kepentingan nasional AS baik secara internal maupun eksternal. Sehingga mata dunia internasional dimanja dengan serangan militeristik AS ke kawasan Timur Tengah seperti ke Afghanistan, Iraq dan kini ada kemungkinan Iran dan Pakistan. Tetapi menurut Jon B Alterman bahwa kebijakan itu tak lebih sebagai upaya untuk menjamin tidak adanya gangguan terhadap kepentingan nasional AS terutama di kawasan itu.&lt;br /&gt;         Kehadiran militer AS di kawasan  Timur Tengah  tidak harus dipahami sebagaimana pandangan umum yang berkembang. Eksistensi kekuatan AS di sana lebih bersifat defensif bukan ofensif sebagaimana pandangan di media yang berkembang. Kebijakan nasional strategis yang dipraktekkan AS saat ini jangan selalu dipandang dari sisi negatifnya saja dimana itu terkadang tak lebih dari sekedar ekses di luar analisa awal . AS dalam hal ini juga sharing nilai-nilai positif ke kawasan Timur Tengah seperti Hak Asasi Manusia, demokrasi dan persamaan hukum yang mana sampai detik ini kawasan tersebut masih jauh dari semua nilai-nilai yang telah menjadi universal values. Berhubungan dengan hal ini pula maka dapat dijelaskan kaitan hubungan yang cukup mesra antara AS dengan Israel yang notabene dijuluki sebagai satu-satunya negara penjajah yang masih hidup di dunia modern. Alterman mengatakan bahwa hubungan itu tak hanya bersifat ekonomis tetapi yang lebih penting bahwa kedua negara memiliki kemiripan di bidang HAM dan demokrasi dan diketahui bahwa Israel merupakan prototype negara demokratis satu-satunya di kawasan Timur Tengah yang paling ideal. Terkait kasus terorisme sekarang memang politik luar negeri AS fokus pada keseimbangan pendekatan antara hard policy maupun soft policy mengingat ancaman yang ada tidak hanya state tetapi juga non-state sehingga solusi yang diperlukan juga memerlukan modifikasi dan balance.  Ini pula yang kemudian terkait kasus Pakistan yang kini tengah berganti kepemimpinan bukan kemudian AS akan bertindak agresif mengingat trah kepemimpinan yang kini sedang memerintah terkesan anti AS. Alterman menjelaskan bahwa sudah seharusnyalah mereka menyesuaikan kebijakannya dengan kebijakan AS di kawasan itu sehingga akan tercipta suatu cita-cita bersama yang diidamkan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-2262863118252040658?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/2262863118252040658/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2008/09/review-on-guest-lecture-about-united.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/2262863118252040658'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/2262863118252040658'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2008/09/review-on-guest-lecture-about-united.html' title='REVIEW ON GUEST LECTURE ABOUT UNITED STATES FOREIGN POLICY TOWARDS MIDDLE EAST by Jon B Alterman'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3631001970141408383.post-341271360872155947</id><published>2008-09-19T22:45:00.000-07:00</published><updated>2008-09-19T23:02:59.177-07:00</updated><title type='text'>Kasus Sipadan-Ligitan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;    &lt;strong&gt;&lt;i&gt;SIPADAN- LIGITAN CASE&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  (tugas mingguan Kuliah Hukum Internasional)&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;        Salah satu kasus hukum international yang sempat menghebohkan jagat Indonesia adalah kasus Sipadan-Ligitan. Kasus yang sempat muncul sejak tahun 1969 itu telah berakhir pada 2002 silam dengan kekalahan telak ada di pihak Indonesia. Banyak pihak yang terkejut dengan hasil keputusan Mahkamah International atau International Court of Justice yang memberikan keputusan bahwa kedua pulau yang menjadi batas antara Indonesia dan Malaysia itu kini telah resmi menjadi milik negeri Jiran kita.&lt;br /&gt;        Berkaitan dengan pengambilan keputusan tersebut tentu menjadi sebuah pertanyaan bagi kita apakah yang menjadi landasan sehingga 17 hakim Mahkamah Internasional memutuskan bahwa Pulau Sipadan- Ligitan resmi milik Malaysia. Apalagi dari pengamatan fakta- fakta dan bukti- bukti hukum kedua belah pihak cukup berimbang sehingga seharusnya keputusan yang diambil 17 hakim Mahkamah Internasional berimbang pula. Tetapi yang terjadi justru 1:16 untuk kekalahan Indonesia. Mari kita lihat sumber hukum apa yang digunakan para hakim Mahkamah Internasional tersebut dalam memutuskan perkara Sipadan- Ligitan ini. Apakah sesuai dengan kaidah atau sumber hukum internasional yang ada?&lt;br /&gt;        Sebelum kita membahas lebih jauh mengenai landasan hukum yang dipakai oleh hakim dalam mengambil kepuutsan atas kasus Sipadan- Ligitan, ada baiknya kita mengetahui kronologi kasus Sipadan-Ligitan sebagai berikut:&lt;br /&gt;1969 à dibentuk Tim Teknis Landas Kontinen Indonesia – Malaysia&lt;br /&gt;1989 à pembicaraan antara Presiden Soeharto- PM Mahathir Muhammad&lt;br /&gt;1992 à pembentukan Joint Commission dan Joint Working Groups&lt;br /&gt;1996 à dicapai Special Agreement&lt;br /&gt;1997 à dibentuk Komisi Khusus kedua negara&lt;br /&gt;1998 à kedua negara maju ke ICJ&lt;br /&gt;1999- 2002 à proses persidangan&lt;br /&gt;17 Desember 2002 à Malaysia menang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           Dalam menyelesaikan kasus ini, ternyata ICJ dalam persidangan-persidangannya guna mengambil putusan akhir, mengenai status kedua pulau tersebut tidak menggunakan materi hukum yang disampaikan oleh kedua negara, melainkan menggunakan kaidah kriteria pembuktian lain, yaitu “Continuous presence, effective occupation, maintenance dan ecology preservation” atau dengan kata lain menggunakan teori effectiveness. Hal ini karena alasan Malaysia mengenai teori warisan dan Indonesia mengenai kasus Belanda dan Inggris tahun1891 atau hukum konvensi yang dalam statuta Mahkamah Internassional masuk ke dalam customary law gugur. Dapat dimengerti bilamana hampir semua juri Mahkamah Internasional yang terlibat sepakat menyatakan bahwa Sipadan dan Ligitan jatuh kepada pihak Malaysia karena dua alasan yaitu:&lt;br /&gt;Kedua pulau tersebut tidak begitu jauh dari Malaysia&lt;br /&gt;Faktanya Malaysia telah membangun mercusuar, pos keamanan dan beberapa prasarana pariwisata di pulau-pulau tersebut atau dengan kata lain Malaysia memainkan peranan yang mirip dengan kasus ICJ saat menangani sengketa Denmark dan Norwegia mengenai Greenland sebagai salah satu poin kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;       Menurut pandangan penulis, keputusan yang diambil para hakim Mahkamah Internasional mendasarkan pada Pasal 38 ayat 1 tentang sumber hukum internasional dan diambil sumber hukum ketiga yakni &lt;i&gt;general principles of law&lt;/i&gt; dimana berdasarkan hal itu memberikan wewenang kepada Mahkamah Internasional untuk membentuk kaidah- kaidah hukum baru apabila ternyata sumber hukum lainnya tidak dapat membantu Mahkamah dalam menyelesaikan suatu sengketa atau perkara. Ini kemudian memudahkan para hakim untuk melakukan analogi terhadap kasus yang sama yang pernah ada yaitu kasus Denmark dan Norwegia atas wilayah Greenland (&lt;i&gt;precedent process&lt;/i&gt;) dimana dalam kasus ini hakim &lt;i&gt;ICJ&lt;/i&gt; menggunakan kaidah yang sama saat hakim&lt;i&gt; PCIJ &lt;/i&gt;menangani kaus tahun 1891 tersebut yakni "a claim to sovereignty based not upon some particular act or title such as a treaty of cession but merely upon continued display of authority, involves two elements each of which must be shown to exist: the intention and will to act as sovereign, and some actual exercise or display of such authority.@Abu Yasid Al-Busthomi Ibnu Syamsul Arifin2008.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3631001970141408383-341271360872155947?l=thenextmadura.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thenextmadura.blogspot.com/feeds/341271360872155947/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2008/09/kasus-sipadan-ligitan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/341271360872155947'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3631001970141408383/posts/default/341271360872155947'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thenextmadura.blogspot.com/2008/09/kasus-sipadan-ligitan.html' title='Kasus Sipadan-Ligitan'/><author><name>Abu Yasid Al-Busthomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18310681577735276060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_qpBpDMSMD1I/Sgao5gdgOHI/AAAAAAAAAB8/XfvG5V5IjEI/S220/mau+ngasdod+nih!.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
